02/02/19

Ranaka.

Written by: Melky Pantur, Friday, February 10 th, 2017. 

There is one who lived in a mountain. The mountain name is Ranaka. The man come from sky. He was derived from there. Firstly, he lived alone. His face handsome, his hand like a thunder and his clothes like snow.

At that time, that mountain had many stones - not had little bushes and grasses and also small animals. Not had living on the earth surface and still empty. He himself alone. He had many workings that time, that to make a vulcano around of the mountain.

After some of the earth materials like a magma coming out from bowels of the earth. Dust of vulcanos around of that mountain closed the earth surface included Ranaka mountain. After that, he then called a rain. Rain then pour the earth. When the earth wet, he then spread some of seeds. Then all kind of plants appeard to surface. He blessed all his creation.

He then come back to sky to take a rest. Approximately, ten century passed away, the earth had been fulled by the tree, grass and fruits. He come again and created all sort of animals. And then, he come back again to sky. Billion years passed away, he come again to that mountain. And then, a woman descend from sky. Her face pretty like a polished diamond and her clothes like a rainbow.

Both of them lived together. Then, they have four children miracolously. Two man and two woman. After the fourth children adolescent, their parents come to sky again. The fourth children then leaved that mountain because very cold. To continue their generation, brother and sister become husband and wife. After they had leaved the mountain, they lived under a tree. The tree is very big and leafy.

Near the tree, be found a small cave - just five meters from that tree. They given a name to the tree is Ruteng and also the name of area is too. They given a name as Ruteng suitable with the sturdiness of the tree. Ru same with belonging, possession and teng same with powerful, strong. Ruteng it means as a self powerful. We ourself who is powerful. If ru shall be translated as possesion or belonging it means that there is other strong out of himself - it means God powerful, strong of the prima cause. Ruteng same with berdikari - berdiri di atas kaki sendiri or stand on we foot ourself.

Going on.....


NGGERNGGATANGSESTE.

Ditulis oleh: Melky Pantur***, Jumat (10/2/2017).

Ini kata terpanjang dalam bahasa Manggarai. Nggernggatang ada 13 huruf.  Ketika ditambah dengan abjad n, s, m ada 14 huruf dan ketika ditambah dengan iy menjadi 15 huruf. Ketika ditambah este menjadi 18 huruf dan hanya satu kata. Rupanya kata terpanjang ikutnya yaitu nggernggaukest sebanyak 14 huruf. Kemudian diikuti dengan kata nggernggakest sebanyak 13 huruf.

Nggernggantangeste artinya jatuh terguling-guling atau berjalan seperti kerangkukakseste - bunyi seperti kaleng yang terseret di jalan pengerasan. Kerangkukakseste sebanyak 16 kata. Artinya kerangkukakseste urutan kedua setelah nggernggatangseste 18 huruf.

Kata nggernggatangseste tersusun dari kata ngger, nggernggat, gatang dan este. Ngger adalah suara anjing yang marah, nggernggat artinya buru-buru dan kalau jalan sampai-sampai tidak lihat ke bawah, gatang artinya tanda kehadiran atau akan terjadi sesuatu di kemudian hari, sedangkan este artinya mereka.

Condo.

Ditulis oleh: Melky Pantur*** Selasa (14/2/2017).

Ini bahasa Manggarai. Kata ini terdiri dari beberapa kata: co, con, do dan ndo. Co artinya kenapa, bagaimana, misalnya: kenapa, bagaimana e? Lalu, con artinya kenapa sekali? Kemudian, do artinya banyak. Sedangkan, ndo artinya di sini.

Co dan con merupakan kependekan dari co'on. Kemudian, do artinya banyak. Lalu, ndo merupakan sebutan kolang ndo'o artinya di sini.

Nah, jika kita memperhatikan, condo artinya co'o ndo'o atau bagaimana di sini? Condo artinya menyerahkan sesuatu dengan berat hati, bisa juga menyerahkan sesuatu tanpa menyepakati bagaimana leko-nya atau membayarnya. Condo bisa juga menyerahkan 'sesuatu' terserah subyek yang menerimanya. Misalnya, condo molas. Bisa juga condo mantar.

Nah, condo bisa diterjemahkan dengan com ndo'o. Ekspresi ini menunjukkan keterserahan. Misalnya, com ndo'o kat kaeng hikeng ga - biar tinggal di sini saja  gadis anak gadis ini. Atau, com ndo'o kaut kaeng ite sua ge nana - biar kita berdua tinggal di sini saja nana.

Agar diketahui, condo dapat berarti kekecewaan. Misalnya, karena seseorang menuntut suatu pemberian hak, maka hak tersebut diserahkan begitu saja namun dengan berat hati dan bisa saja di kemudian hari akan dituntut.

Condo dalam konteks penyerahan warisan dalam keluarga oleh orang tua kepada putera mereka sesuai misalnya dalam konteks budaya Manggarai yang menganut sistim paternalistik disebut sor monggong nggelak nata. Sor monggong, nggelak nata artinya pemberian warisan orang tua bukan paeng kawe nata de ru'u. Maksudnya, bukan hasil pencarian sendiri. Condo di sini bisa sangat bersifat pemberatan karena mungkin belum saatnya atau ada kepentingan lain condo one mantar.

Arti lain condo bisa berarti penyerahan diri secara total misalnya kepada Tuhan. Lirik lagu ini: Tiba Mori condo de anakn Me merupakan bentuk penyerahan.   








Ngkuang.

Ditulis oleh: Melky Pantur***, Rabu (15/2/2017).

Ngkuang ini sejenis lebah berwarna kuning dan sangat berbahaya. Ngkuang lazim orang Manggarai menyebutkannya. Biasanya, ngkuang ini terbang mengelilingi manusia apalagi bila sarangnya diganggu.

Namun, ada yang unik dengan lebah yang satu ini. Dalam seni tarian caci, orang Manggarai menggunakan salah satu teknik agak pukulan terhadap lawan dengan memakai trik atau metode weleng ngkuang. Weleng ngkuang itu adalah metode agak atau memutar-mutarkan cambuk alias larik membentuk seperti lunar bulan yang bulat, salah satu metode menyapu debu bak angin tornado. Sasaran empuk weleng ngkuang bisa areal kepala, dada dan punggung. Weleng ngkuang targetnya lawan terkena beke - ujung cambuk mengenai kornea mata.

Selain teknik weleng/welang ngkuang ada juga teknik paki pu'u dan cako. Paki pu'u atau cako ini lazim diambil dari bawah persis di pinggang dengan maksud cambuk mengenai lawan bahkan perisai dan tameng berupa kalus bisa terlempar keluar. Kerap juga misalnya paki pu'u di mana kalus atau batang cambuk harus mengenai perisai dan jika salah dalam tepa atau menangkisnya, lawan bisa sekarat.

Coba kita kembali ke weleng ngkuang/welang ngkuang. Teknik ini merupakan salah satu teknik lebah kuning dalam menggigit orang mencari area kepala. Lebah tersebut memutar-mutar dan mencari cela menyerang kepala. Cambuk berputar-putar itulah makanya teknik tersebut dinamakan weleng ngkuang. Di situ weleng artinya nyasar dan manakala larik nyasar, bukan tidak mungkin mengenai kepala dan bisa beke.

Ngkuang sebagai salah lebah berbahaya yang mematikan, saat hendak menggigit, cukup dengan memutarkan daun-daun di sekitar kepala maka ia akan menyerah pergi selain dia takut dengan tiupan angin dari hasil putaran daun tersebut. Agak sulit baginya mencari daerah kaki, tetapi mencari areal kepala termasuk punggung. Atas dasar itulah, teknik menyapu memutar debu di atas kepala disebut weleng ngkuang. Setelah pemukul melihat cela, ia akan menikamnya dari atas dan orang yang tangkas menangkis akan menurunkan badannya dengan menyodorkan perisai, tameng melindungi kepalanya. Bila kurang hati-hati, ujung larik bisa mengenai bagian bawah punggung dan ujung larik memasuki areal rusuk, ketiak dan areal tangan.

Lalu, terkadang weleng ngkuang bisa merupakan trik akalan pemukul. Setelah weleng ngkuang, bisa juga memutar sedikit badan membelakangi lawan lalu berbalik menghadapi muka lawan sembari agak dan mengintip dari bawah di mana pemukul lazim melihat dari bawah ke sekitar areal dagu, ketiak sembari menghentakan kaki ke tanah atau melompat sedikit lalu turun kemudian di saar turun itulah si pemukul menghantamnya dengan cako pu'u. Teknik seperti itulah yang banyak membuat orang sekarat karena weleng ngkuang merupakan teknik ampuh membuat lawan terkena dan tumbang. Ketika lengah, larik dihempaskan bahkan bisa berubah seperti tusukan tombak atau membelah seperti hentakan pukulan pedang yang kuat. Manakala setelah intip areal ketiak dan dagu lalu pemukul mundur satu kaki ke belakang, dapat dipastikan ia akan menggunakan teknik menusuk tombak. Ujung lariklah yang menghantam. Bila terus merapat lalu berbolak balik mengarah maju sembari terus memepet maka targetnya menumbangkan dengan mana batang cambuk sekaligus tali ujung pecut mencari sasaran sekaligus. Saat itulah, lawan bisa jatuh dan terlempar tumbang. Teknik itu disebut cako cupu. Cako cupu hanya dapat dilawan dengan pada saat pemukul memepet, maka penangkis mundur satu langkah maka ujung pecut saja yang ditangkis entah saat itu kurang tangkas, tali pecut bisa saja mengenai lawan.

Teknik paki pu'u/cako pu'u manakala masuk ke dalam perisai ada kemungkinan tumbang dan saat pecut ditarik atau werus dengan cepat, maka terelakkan goresan luka takterhindarkan.

Cences.

Ditulis oleh: Melky Pantur***, Kamis (16/2/2017).

Cences ini bahasa Manggarai. Kata ini gabungan dari kata cen dan ces. Cen persingkatan dari ce'en, sedangkan ces itu bunyi ketika air yang ditaruh ke dalam kuali yang tengah panas. Cences ini kata kerja yang artinya menggoreng tanpa minyak - kelapa. Cences juga bisa berarti memasak.

Dalam arti lain, cences itu lazim disebut teneng, kokor. Ada sebutan kokor tete, kokor daeng, teneng hang, teneng ute, teneng wae, cences lia, cences pake, cences kuse.

Dalam konteks ekonomi, cences dapat dibahasakan sebagai mose cences atau hidup miskin. Mose cences bahasa lainnya lengge dendut, lengge wase seleng. Kontranya adalah mo'eng mose melalui proses cences yang sebelumnya ada sebuah upaya pencarian identitas pangan agar terhindar dari lengge - botang hang koja, ndael hang daeng, enam hang dea, lelot hang teko. Hal itu dikarenakan mejeng hese.

Lengge dendut itu sama persis dengan acu wa rawuk, rata pe'ang satar, enggo lari leor.

Ada sebuah lirik lagu:

E.....woko tenang kaut mose ge a, hau ende go ema go...nukung iju aju cama kat acu wa rawuk go mose ge.

E.....woko tenang kaut mose ge a, hau ende go ema go, nukung iju aju cama kat rata pe'ang satar go mose ge.

Lirik lagu di atas adalah ekspresi simbolis dari ungkapan ini: ngonde holes, mejeng hese. Lengge amat beralasan karena ada sikap apatis, tanpa mind set struktur idea sekalipun itu merupakan anugerah dan hidup tak terlepas dari auto determinative law - hukum determinatif yang bergerak dengan mana determinatif itu dapat berubah melalui proses doa permohonan.

Lalu, ngonde holes, mejeng hese itu adalah sebuah tanda di mana kasih Ilahi sangat leng ge terhadap orang yang bersangkutan.

Nah, dalam konteks budaya Manggarai, ada istilah teing hang. Teing hang ini tampak dalam ungkapan: teing hang ase kae weki atau hambor ase kae weki. Teing hang adalah peristiwa rekonsiliasi atau hambor.

Dalam konteks Kejawen, teing hang untuk rekonsiliasi ini dibahasakan dalam sebutan Selametan dengan mana sadulur papat lima pancer dipersatukan dalam rentang proses rekonsiliasi. Bagi orang Manggarai, rekonsiliasi dapat dilakukan dalam acara teing hang wura agu ceki, teing hang ase kae weki/rekonsiliasi antara tubuh, jiwa dan roh.

Teks orang Manggarai, ada yang disebut dengan ngelong sebagai bentuk proses menuju rekonsiliasi. Tanpa melakukan ngelong akan terjadi kukut rucuk, rao dango, rambut darum, dindor siong.

Salah satu proses keluar dari cences bagi orang adalah ngelong dan teing hang.

Dalam konteks Gereja, ada prosesi yang disebut dengan persembahan atau kurban persembahan di altar. Persembahan tersebut dapat disebut rekonsiliasi atau bahasa lain dari ngelong atau teing hang. Inti dari semua itu adalah mendapat asih Ilahi yang oleh orang Manggarai lazim disebut giri de Pu'un Kuasa te waheng nae.

Pancasila.

Ditulis oleh: Melky Pantur***, Kamis (16/2/2017).

Dalam konteks Manggarai, Pancasila akan tergambar dalam ungkapan:

1. Ca Kanang Kali Mori Keraeng.
2. Toto Molor, Bicar Hiang Hae Riang.
3. Kope Oles Todo Kongkol.
4. Mu'u Tungku Lema Emas Laro Jaong Ro'eng Do.
5. Pati Arit, Wingke Iret.

Sila kesatu, Ca Kanang Kali Mori Keraeng. Hal itu tampak dalam ungkapan: Mori pu'un caoca; Jari agu Dedek tanan wa awangn eta, parn awo kolepn sale; Mori yata kukut wuwung, caka berambang. Di sini neka iyo pina naeng; neka tura agu wulang, segol agu leso, sawal agu ntala, condo agu poco.

[Morin pu'un caoca - Tuhan itu asal dari segala asal. Jari agu Dedek tanan wa awangn eta - Penjadi dan Pencipta langit dan bumi. Parn Awo Kolepn Sale - mulai dari fajar hingga terbenamnya. Mori yata kukut wuwung - Tuhan  melindungi mulai dari ubun-ubun kepala.  Caka berambang - Tuhan itu perisai dada. Hal yang perlu dilarang di sini: Neka iyo pina naeng - jangan menyembah berhala. Neka tura agu wulang - jangan berdoa kepada bulan. Segol agu leso - jangan meminta kepada matahari. Sawal agu ntala - jangan memohon kepada bintang, dan condo agu poco - berpasrah kepada gunung dan bukit-bukit].


Sila kedua, Toto Molor, Bicar Hiang Hae Riang. Hal itu tampak dalam ungkapan toto yata molor cama golo, bincar hiang pande pinga hae riang, hiang cama tau. Di sini neka daku ngong data; neka kope nggorong welak; neka mbangi leleng ular, ular leleng mbangi, jepek-jepek, sesa nai ite, cancar paka.

[Toto yata molor cama golo - memperlihatkan yang baik kepada sesama warga kampung. Bincar hiang pande pinga hae riang - Terperciknya rasa saling menghargai dan saling pengertian antar sesama yang berkelana di bumi. Hiang cama tau - menghormati satu sama lain. Hal yang tidak boleh dilakukan: Neka daku ngong data - Jangan menjadikan milik orang lain yang diakui sebagai milik sendiri. Neka kope nggorong welak - Jangan mengadu domba. Neka mbangi leleng ular, ular leleng mbangi - Jangan memanfaatkan orang lain untuk mencari keuntungan diri sendiri, misalnya menjadikan kelompok sendiri sebagai perusuh lalu hadir sang penyelamat yang ternyata masih satu kelompok dengan mereka. Jepek-jepek - hidup itu harus rata net atau ca wa main ca ite main yang berarti dalam bertindak, bertutur kata harus tepat, benar, pasti dan jujur. Sesa nai ite - berbesar hati. Cancar paka - hidup jangan menjadi jurang bagi orang lain atau adil].

Sila ketiga, Kope Oles Todo Kongkol. Hal itu tampak dalam ungkapan nai ca yanggit tuka ca leleng; impung ce tiwud neka woleng wintukd, ka'eng ce waed neka woleng taed, kope oles todo kongkol. Di sini neka kope harat bali; neka behas neho kena, koas neho kota, nggesol one kembo, cecuk duhu redu, nggernggatangs du ngampang; pola gomal, embes beta, kapu pa'u, ceres kekep, inggos siong.

[Nai ca yanggit tuka ca leleng - satu hati dan tujuan. Impung ce tiwud neka woleng wintukd, ka'eng ce waed neka woleng taed - tinggal dalam satu telaga jangan berbeda tindak tanduk, tinggal dalam satu kolam jangan berbeda kata. Kope oles todo kongkol - Saling mengikat dan tumbuh bersama. Di sini yang dilarang adalah neka kope harat bali - jangan mencuci tangan atas persoalan yang dihadapi. Neka behas neho kena, neka koas neho kota, nggesol one kembo, cecuk duhu redu, nggernggatangs du ngampang - jangan terlepas seperti pagar, terbongkar seperti tembok batu, terperosok ke lubang, terjatuh ke kemiringan, dan jangan jatuh terguling-guling di jurang yang dalam. Neka pola gomal, embes bete, kapu pa'u, ceres kekep - jangan jatuh saat dipikul, robek saat digendong, jatuh saat digendong, meraung-raung saat digendong di dalam ketiak. Dan, inggos siong - datangnya meriang sebagai angin kematian].

Sila keempat, Mu'u Tungku, Lema Emas Laro Jaong Ro'eng Do. Hal itu tampak dalam ungkapan mu'u tungku laro jaong, wancing nggaring we'ang gerak, nai ngalis tuka ngengga, mu'u luju lema emas. Di sini neka pangga pa'ang, doal dongkar, mohas momang, pa'u naun, pa'un patun, timpok inggos, recutn nggewur, ramen nggael, roas ponggal, raups semambu, ncihings nggiling, kokets kope, raups racuk, komus korung, kokats wokat, campangn raha, cain rani, tuan kembeluak, jern mbewe, celas teka, lentangs weda, karongs sangkol.

[Mu'u tungku laro jaong - menjadi penyambung lidah. Wancing nggaring we'ang gerak - menerima dengan senang hati permintaan orang lain dan pembuka atau penunjuk sebagai terang. Nai ngalis tuka ngengga - bersedia, berbuka dan berbesar hati. Mu'u luju lema emas - berbicara yang sopan, lembut dan sejuk, disukai orang, menjadi panutan atau contoh. Yang dilarang di sini neka pangga pa'ang - jangan menjadi penghalang di gerbang. Doal dongkar - murka dari muka bumi karena tidak memiliki standar norma hidup, harapan hidup. Mohas momang - hilangnya rasa cinta.  Pa'u naun - hilangnya citra diri, kepercayaan diri, hilang muka. Pa'un patun - hilangnya identitas sebagai tokoh model, tokoh panutan. Timpok inggos - tersandung saat melangkah maju kecil nan sopan. Recutn nggewur - terjadinya pertawuran. Ramen nggael - saling memotong nasib. Roas ponggal - munculnya rasa ingin menghukum orang dengan cara dipukul batang kayu. Raups semambu - saling bertemu dan bertarungnya pentung. Ncihings nggiling - berbunyi kerasnya perisai. Kokets kope - menangkis sembari menyingkirkan parang. Raups racuk - bertemunya jotosan, terjadinya saling jotos. Komus korung - terlepasnya lembing sebagai senjata ancaman, bertarung dengan menggunakan tombak. Kokats wokat - memegang lembing, semacam lembing tambat. Campangn raha - terjadinya penyebab perang tanding. Cain rani - datangnya perkelahian. Tuan kembeluak - munculnya sikap pembangkangan dan masa bodoh. Jern mbewe - lahirnya penolakan. Celas teka - timbulnya penendangan. Lentangs weda - saling tendang dan terlempar. Karongs sangkol - munculnya saling memusuhi, perbuatan menjatuhkan].

Sila kelima, Pati Arit Wingke Iret. Hal itu tampak dalam ungkapan pati gici arit, wingke gici iret. Di sini neka gege goa; neka cowel mo'eng de ro'eng; neka mohas agu cowak bora neho ola; neka nanang cangas hang data baling racap; neka wedi repi de ceki wu'al agu wura.

[Pati gici arit wingke gici iret - berbagi sama rata dan adil. Hal itu kendati sedikit semua harus merasakannya. Yang dilarang di sini adalah neka gege goa - jangan berat sebelah. Ceka cowel mo'eng de ro'eng - jangan mengambil sekalipun sedikit milik rakyat. Neka mohas agu cowak bora neho ola - jangan menghilangkan atau mengambil harta kekayaan bersama seperti menggayung telaga hingga tidak ada satupun yang tersisa makhluk hidup di situ seperti ikan, belut atapun udang di telaga yang digayung itu. Neka nanang cangas hang data baling racap - jangan mengambil dan membawa lari seperti seekor anjing yang membawa lari makanan dari teman dekat sekalipun. Dan, neka wedi repi de ceki wu'al agu wura - jangan melanggar perjanjian atau aturan yang ditetapkan Tuhan lagipula bersoal tegang dan tidak mau mengikuti adat yang baik yang lazim dari nenek moyang].


Bendera Indonesia.

Ditulis oleh: Melky Pantur***, Sabtu (18/2/2017).

Sebelum kita mengkaji tentang bendera Indonesia relasinya dengan konteks kehidupan orang Manggarai, mari kita lantunkan dulu lagu karangan Ibu Sud ini:

Bendera merah putih
Bendera tanah airku
Gagah dan jernih tampak warnamu
Berkibarlah di langit yang biru
Bendera merah putih
Bendera bangsaku

Berdera merah putih
Pelambang brani dan suci
Siap selalu kami berbakti
Untuk bangsa dan ibu pertiwi
Berdera merah putih
Trimalah salamku.

Warna.

Bendera Indonesia berwarna merah putih. Merah artinya berani, putih artinya suci. Putih itu simbol kebenaran. Orang berani karena benar. Itulah merah putih. Orang kadang menyebut, merah artinya darah, sedangkan putih artinya tulang. Dalam konteks darah, ada sel darah putih dan ada sel darah merah.

Sejarah Sang Saka Merah Putih.

Sang saka merah putih pertama kali dikibarkan di Jln. Pegang Sang Timur No. 56 tahun 1945 pada 17 Agustus di mana Indonesia resmi merdeka. Soekarno bersama M. Hatta membacakan naskah Proklamasi. Hari itu Pukul 10.00 siang WIB. Tercatat, sang saka dijahit oleh Fatmawati, isteri Soekarno.

Sang Saka berarti kelahiran.

17 Agustus 1945 adalah hari Kemerdekaan RI. Para pejuang pra kemerdekaan hingga kemerdekaan menggunakan lambang bendera merah dan putih sebagai wujud cita-cita terbebas dari penjajah. Kiat dan niat pejuang zaman itu terbukti dengan mana bendera merah putih adalah lambang NKRI.

Budaya Manggarai.

Yang unik antara lahirnya NKRI dengan mengambil simbol merah putih saat lahirnya RI adalah suatu yang identik dengan makna kelahiran orang Manggarai. Bagi orang Manggarai, lahir adalah suka cita, kegembiraan. Dalam merayakan kegembiraan, misalnya lahirnya sang bayi wajib diberi nama secara adat yang oleh orang Manggarai disebut cear cumpe. Cear cumpe atau natal kerap menggunakan hewan korban berupa ayam jangan putih. Darah ayam kurban sembelihan tersebut akan dimeterai di dahi sang bayi yang baru lahir, sedangkan satu sisip sayapnya akan taruh di langkar - tempat sesajian di tiang tengah rumah atau siri bongkok. Dibuatnya acara tersebut agar perjuangan anak tersebut ke depannya mulus, penuh kesucian dan dengan darahnya, keringatnya sendiri dia bakal menjadi sukses dan menjadi orang baik. Ayam putih tersebut juga disebut naka atau kegembiraan kedatangan. Ada ekspresi: kapu neka pa'u, pola neka gomal, embe neka bete.

Ayam jantan putih tersebut juga lazim dipakai pada saat hendak berangkat sekolah atau merantau bahkan pada acara tahun baru, hambor ase kae weki.

Bila saya sandingkan dengan warna bendera Indonesia, warna tersebut melambangkan perjuangan. Dan merah putih adalah perjuangan tanpa henti, semangat untuk sukses. Ada ekspresi: lalong bakok du lakon, lalong rompok du ngon, lalong rombeng du kolen. Dengan demikian, bakok tersebut simbol perjuangan dengan mana perjuangan menuju cita-cita kesejahteraan dari orang yang bersangkutan bisa terwujud.

Bila disandingkan dengan NKRI, Indonesia memang sudah merdeka namun kemerdekaan dalam konteks kesejahteraan rakyat tetap dicari. Tetapi semangatnya sudah ada. Kapan lalong rombeng atau kesejahteraan dapat terwujud, itu yang perlu diperjuangkan. Namun, sangat disadari lambang bendera Indonesia sama dengan cita-cita orang Manggarai akan perjuangan yang tulus meski dengan mengorbankan darah agar kelak bisa lalong rombeng - kesejahteraan sungguh-sunguh terjamin.

Acara kegembiraan sudah terjadi 1945, ibarat caca selek atau sejahtera, belum dapat dipastikan dan butuh perjuangan ekstra.
Merah Putih simbol rekonsiliasi - hambor.

Konteks budaya Manggarai, merah putih adalah simbol rekonsiliasi, perdamaian - hambor. Mengapa? Bila diperhatikan, ritus hambor ala Manggarai senantiasa menggunakan ayam jantan berwarna putih, baik hambor gincu tau - bersoal tegang), ataupun hambor ase kae weki - berdamai dengan Roh sendiri. Darah ayam yang disembelih akan dipoleskan ke ujung jari kaki telunjuk dari para pihak yang bersitegang sebagai wujud perdamaian.

Uniknya, dasar NKRI adalah Garuda dan Garuda itu disimbolkan ke ayam. Ada lima dasar penting Pancasila: Ca kanang kali Mori Keraeng, toto molor bicar hiang hae riang, kope oles todo kongkol, mu'u tungku lema emas laro jaong, dan pati arit wingke iret. Makna Pancasila sudah tersirat dalam hambor itu sendiri karena kelima unsur tersebut sudah dipenuhi.

Hambor.

Dalam hambor, kedua belah pihak bernazar di depan Tuhan untuk berekonsiliasi sebagai bentuk pengakuan sila pertama, di situ ke depannya toto molor bicar hiang, kope oles todo kongkol, lalu ada jubir atau penengah soal dalam prosesi hambor - disebut ata tu'a laing caca mbolot sebagai reprensentasi sila keempat agar apa yang ditegangkan bisa pati arit wingke iret atau dapat disebut terjadinya keadilan sebagaimana tertulis dalam sila kelima.

Lalu, orang Manggarai mengambil representasi dari Garuda atau cemberuang dalam bahasa lokal sebagai simbol kebebasan yang dilambangwujudkan melalui ayam putih. Ayam jantan putih juga lazim dipakai dalam menerima tamu baru agar ceki asal tamu dengan ceki-ceki di mana tamu itu diterima dapat terekonsiliasi. Itulah makanya, setiap tamu yang datang senantiasa disambut dengan ayam jantan putih dan kendi berisi tuak. Tuak dan kendi melambangkan persaudaraan tanpa sekat yang terungkapkan dengan perkataan: berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Hal itulah yang terjadi dan merupakan hambor.

Lirik rekonsiliasi orang Manggarai.

Bom bo...bom bo bom bo bom bo e.....

E...ase agu kae ye neka woleng tae rame lonto leok o..leros e
E...weta agu nara e neka woleng bantang rame lonto leok o leros e
E...yite ce golo neka woleng tombod rame lonto leok o leros e
E...ite ce yine ye neka ndong bike rame lonto leok o leros e

A....a....a o ia, ia o ae rame lonto leok o leros 2x

Artinya, adik dan kakak jangan berbeda pendapat; saudari dan saudara harus satu pikiran, kesepakatan; warga satu kampung jangan berbeda perkataan; kita satu rahim janganlah pecah.

Oh...betapa indahnya duduk dalam kebersamaan dan persaudaraan.     Di situ duduk sama-sama, berdiri sama-sama. Neka tuka woleng, cama po'e nggerone, cama lewang nggerpe'ang.