04/03/22

Roh Semesta dan Pengampunan

Merangkai Hukum Positif Satpam Pengampunan

Ijazah bukan tolok ukur tetapi hanya jembatan pencapaian kesejahteraan. Yang paling penting mind set dan terus belajar. Mind set itu prerogatif Yang Kuasa --- pikiran yang baik dapat diraih melalui kontemplasi, doa kepada Yang Kuasa walau Roh pulalah yang mengajarkan orang untuk berdoa. Yang berdoa bukanlah tubuh manusia karena tubuh hanyalah bait Yang Kuasa). Karena mind set prerogatif Yang Kuasa, maka itulah cikal bakal lahirnya ajaran cinta kasih. Mind set yang keliru melahirkan hukuman dan pengampunan. Agar hukuman dihindari, doa adalah medium untuk bebas dari pencobaan. 

Setiap orang yang mempunyai milik kepunyaanNya dan setiap orang yang tidak mempunyai hak kepunyaanNya. Itulah makanya dilarang untuk cemburu akan harta ---harta hanyalah kepercayaan, titipan. Dan kepercayaan sebuah anugerah, rahmat tetapi rahmat bukanlah kemutlakan karena rahmat kepercayaan diberi keleluasaan kebebasan untuk menggunakan rahmat itu apakah digunakan dengan baik atau tidak. Kepercayaan juga bagian dari pencobaan sehingga sekalipun itu kepercayaan maka dalam menanggungnya berdasarkan azas moralitas dan etika). Yang Kuasa memberi kepunyaan apa yang menjadi kemauanNya. Ekspresi lain segala sesuatu atas izinNya. Seseorang yang tidak mempunyai janganlah dihakimi, direndahkan sebab pencarian dan rezeki juga adalah kepunyaanNya. Itulah makanya mind set adalah kepunyaanNya pula.

Pengampunan adalah kesadaran tertinggi akan status hak prerogatif dari Yang Kuasa. Pengampunan, belajar dari kesalahan cikal bakal kedamaian. Hukum positif adalah satpam pengampunan. Bencana, konflik, peperangan adalah cambuk kesadaran dari hak kestatusan Yang Kuasa. Cambuk adalah pengadilan kesadaran yang tidak lain adalah contoh dan cermin. Hal itu sama halnya dengan belajar dari kesalahan orang lain. 

Roh Semesta

Kisah penyaliban hanyalah sebuah cermin atau contoh. Janganlah menghakimi seseorang yang tidak semestinya dihakimi apalagi mengucap nazar bahwa perbuatan yang tidak benar ditanggung anak cucu. Doa penghapusan dapat dilakukan dengan ritual tolak bala. Maksudnya agar Roh tidak menyiksa seseorang karena nazar baik dari nenek moyang maupun oleh dan dari dirinya dan karena itu juga merupakan konsekuensi dari setiap manusia dibimbing oleh Rohnya sendiri. Sebab setiap orang memiliki Roh masing-masing. Roh yang ada pada setiap manusia adalah representasi dari Yang Kuasa. Roh pada setiap orang itulah yang mendorong untuk berdoa agar bait Roh itu tidak runtuh tetapi tetap kokoh dan kuat. Itulah makanya manusia memiliki kehendak bebas (optio fundamentalis). Dalam konteks budaya tertentu dinamakan takung asé ka'é weki. 

Roh Tertinggi

Roh tertinggi adalah Roh Semesta. Roh Semesta adalah cahaya, terang, inti dan sumber dari sumber apa pun. Semua roh berasal dari Roh Semesta. Setiap makhluk diberi Roh sebagai kekuatan. Itulah yang kerap juga disebut sebagai malekat pelindung. Perhatikanlah aktivitas manusia, perhatikanlah status-status manusia yang berbeda-beda sesuai dengan kehendak misalnya di facebook, instagram, WhatsApp dan lain sebagainya. Perhatikanlah pula pada saat pemilihan pemimpin. Tetapi yang mengendalikan semua kehendak yang berbeda-beda adalah Roh Semesta. Roh yang dititipkan kepada setiap manusia itulah yang disebut kehendak. Kehendak itu dijalankan melalui pikiran dan bimbingan. Pikiran berasal dari Roh. 

Manusia terdiri dari tiga unsur: tubuh, jiwa dan roh. Tubuh terdiri atas darah dan daging, jiwa adalah kesadaran, roh adalah mind set, kehendak. Rohlah yang mengatur keseimbangan pada manusia termasuk memastikan kesadaran. Jadi, manusia terdiri atas tubuh (tulang, darah dan daging), jiwa (kesadaran, akal), roh (kehendak). Kematian terjadi karena jiwa dan roh meninggalkan tubuh. Roh adalah dokter asli dari tubuh, yang mengatur tubuh beraktivitas. Keseimbangan tubuh dengan alam sekitar diatur oleh Roh. Misalnya, pada saat di tengah malam yang dingin, Roh dapat membuat seseorang terasa hangat. Pada saat seseorang dalam keadaan tertentu dapat membuat seseorang menggigil. Roh adalah energi, hidup, kekuatan pengendali, subjek kesadaran, tempat bersandar dan bertanya, sumber ajian dan perisai ajian, kecerdasan, penemuan, daya kritis, imajinasi, solusi, rezeki, kemudahan, kekuatan, pangkat, keindahan, kesejukan, kegembiraan, juga kesedihan. Roh yang diberikan kepada tiap-tiap manusia sebagai kehendak diberi prerogatif khusus oleh Yang Kuasa (Roh Semesta) untuk mengatur ritme kehidupan seseorang. 

Minum Mabuk

Orang yang mabuk membuat tulang dan dagingnya lemah. Jiwa mengikuti kelemahan tulang dan daging. Sedangkan, Roh memberi kesadaran, menguatkan. Roh adalah energi sekalipun jiwa juga adalah kesadaran. Jiwa tergantung pada Roh dan Roh pada manusia tergantung pada Roh Yang Kuasa. Jiwa atau kesadaran, akal adalah kesadaran Yang Ilahi tetapi kesadaran itu diperkuat oleh Roh. 

Pada saat seseorang tidur, kesadarannya keluar dari tubuh (antakarana) maka lahirlah mimpi. Seseorang kemudian kembali terjaga karena kesadaran dikembalikan. Kesadaran itu ditopang oleh Roh sebagai pengatur kesadaran. Roh itu bebas, berwujud tetapi tidak kelihatan. Jiwa adalah energi cahaya atau terang. Pertimbangan adalah hasil dari pertemuan antara jiwa dan roh, sedangkan tubuh hanyalah rumah, bait saja. 

Sabtu, 5 Maret 2022
Ruteng
Melky Pantur

15/02/22

Waé Barong sebagai Unsur Identitas, Syarat dalam Bingkai Entitas "Kepemimpinan Tiga Serangkai" Keadatan Kampung Adat Orang Manggarai


Orang Manggarai memasukkan mata air (waé baté teku/waé barong) sebagai salah satu unsur identitas dan syarat keadatan yang harus dipenuhi.

Sebuah kampung adat yang di dalamnya memiliki gendang dan tambor sudah pasti memiliki unsur-unsur pendukung lainnya yang kemudian menjadi sebuah filosofi gendang onén lingkon pé'ang. Unsur filosofi itu adalah rumah adat (mbaru gendang), alun-alun (natas), mezbah adat (compang baté dari), kebun ulayat (lingko), dan mata air (waé baté téku). 

Sebuah kampung adat tentu memiliki kelima unsur itu. Kelima unsur itu dinahkodai oleh Adak Telu. Adak Telu atau kepemimpinan tiga serangkai itu, seperti: Tu'a Golo, Tu'a Gendang dan Tu'a Teno. Adak artinya Raja (King), pempimpin, sedangkan telu artinya tiga (three). Adak Telu adalah kepemimpinan tiga serangkai.

Adak Telu berperan penting dalam mengatur keseluruhan kehidupan keadatan. Tu'a Golo adalah penentu kebijakan dan pengatur umum termasuk meminta Tu'a Gendang, Tu'a Teno dan Tu'a Panga untuk mengurus persoalan-persoalan. Tu'a Gendang memimpin rapat-rapat adat, Tu'a Teno mengatur pembagian tanah dan Tu'a Panga mengatur panga-panga (clan) mereka sendiri. Tu'a Gendang akan memanggil Tu'a Teno jika terjadi masalah tanah dan akan memanggil Tu'a Panga apabila terjadi konflik di dalam keluarga dalam satu panga. Apabila ada Tu'a Kilo, maka Tu'a Gendang akan memanggilnya juga bila dalam satu rumpun keluarga besar terjadi persoalan internal. 

Waé Téku dan Compang

Bagi orang Manggarai, mbaru (rumah) terdiri atas: mbaru gendang/mbaru tembong, tambor, niang dan béndar. Mbaru gendang adalah rumah umum, tambor adalah rumah adat dari woé (berupa pemberian kepada anak perempuan jika terjadi kawin masuk), niang (rumah suku), dan bendar (rumah dari anak-anak cucu di sekitaran rumah adat atau rumah-rumah yang ada di wilayah pemekaran). Bagian wilayah Locé di Manggarai bagian utara ada juga yang disebut dengan lumpung. 

Apabila dalam satu kampung adat berdiri tambor, gendang dan niang bisa saja compang hanya satu termasuk waé barong. Yang berbeda adalah waé cemok. Waé cemok adalah mata air yang dikhususkan untuk suku-suku atau kilo-kilo tertentu. Dalam satu wilayah gendang terdapat kumpulan suku-suku. Jika terjadi perkawinan, maka lahirlah istilah anak rona (pihak perempuan) dan anak wina (pihak laki-laki).

Tu'a Teno dan Lingko

Setiap lingko memiliki Tu'a Teno masing-masing. Ia ditugaskan oleh Tu'a Golo dan Tu'a Gendang untuk membagi lingko-lingko. Tu'a Teno adalah Tu'a yang diambil dari pemilik lingko. Adak Telu adalah pemilik lingko (kebun ulayat). Jika terjadi masalah batas antara moso (elemen tanah/bidang tanah dalam satu lingko), maka Tu'a Teno yang mengurusnya di bawah komando Tu'a Gendang.

Gendang Cahir dan Gendang Widang

Gendang cahir maksudnya gendang yang dibagi ke keturunan dari Tu'a Golo atau Tu'a Gendang, sedangkan gendang widang adalah gendang yang diberikan kepada asé ka'é (berasal dari suku-suku lain atau kepada anak wina yang diserahkan oleh anak rona). Gendang widang berarti gendang yang diserahkan ke anak wina disertakan dengan lingko-lingko. 

Lumpung

Di wilayah Ruis dan Locé tidak ada gendang cahir atau widang. Pembagian dari gendang disebut sebagai lumpung. Ada pula yang disebut dengan lumpung léca dan lumpung rangko. Lumpung léca maksudnya pembagian dari gendang ke asé ka'é dalam satu wilayah gendang karena mereka mau berdiri sendiri. Sedangkan, lumpung rangko maksudnya ada dua atau tiga gendang duduk bersama lalu memberikan lingko-lingko mereka kepada asé ka'é yang tergabung dalam satu lumpung. Di sini memiliki alasan khusus karena lingko-lingko jauh dari gendang-gendang sementara mereka ingin menggarapnya dan berada dalam satu bingkai rumah adat. Maksudnya, tiga gendang bergabung menjadi satu berbentuk satu lumpung. Pemilik lingko dari gendang berbeda tetapi dalam satu kawasan. Mereka kemudian membentuk lumpung rangko. Lingko-lingko itu berada di wilayah kantong.

Perbedaan Sisi Ritual Adat dari Gendang, Tambor dan Lumpung

Dalam hal ritual adat paki kaba (mempersembahkan hewan kurban berupa seekor kerbau) gendang akan melakukan saé sebelum lilik compang. Kerbau disembelih di tengah natas. Sedangkan, tambor tidak menggelar saé. Saé dilarang apabila meresmikan tambor. Sedangkan, lumpung tidak ada saé juga hewan kurban disembelih di depan lumpung bukan di compang. 

Jadi, perbedaannnya jelas yaitu lumpung dan tambor tidak menggelar saé (tarian sakral) sementara dalam hal menyembelih hewan kurban, lumpung menyembelih hewan kurban berupa kerbau di depan lumpung bukan di compang dan lilik compang tidak digelar, sedangkan tambor penyembelihan hewan kurbannya dilakukan di alun-alun dekat compang. Sementara gendang menggelar saé dan hewan kurban disembelih dekat compang. 

Untuk lebih jelasnya:

Lumpung tidak menggelar saé dan lilik compang. Hewan kurban disembelih di depan lumpung.

Tambor tidak menggelar saé tetapi lilik compang dan hewan kurban disembelih di alun-alun. 

Gendang wajib menggelar saé, lilik compang dan hewan kurban disembelih di dekat compang.

Kebeng dan Congko Lokap

Kedua istilah ini dipakai oleh masing-masing wilayah di Manggarai. Bagi orang Cibal, acara puncak pembangunan rumah adat disebut kebeng, sedangkan bagi orang Rahong dan Ruteng, Ndoso dan Kuwus disebut congko lokap (upacara puncak pembangunan rumah adat). 

Waé Barong Léca dan Rangko

Waé barong adalah komponen kelima dalam falsafah gendang, niang, tambor dan lumpung. Ada yang disebut dengan waé barong léca dan waé barong rangko.

Waé barong léca maksudnya, dalam satu kampung adat gendang memiliki hanya satu waé barong, sedangkan waé barong rangko maksudnya dalam satu kampung adat terdapat tiga gendang tetapi satu alun-alun dan satu compang termasuk satu waé barong saja. Misalnya, di kampung adat Barang, Kecamatan Cibal. Dapat juga satu kampung adat terdapat tambor dan gendang di mana natas, compang dan waé barong hanya satu.

Perbedaan Waé Barong, Waé Cemok, Waé Téku

Waé barong adalah mata air sakral dari kampung adat yang bersifat komunal atau milik bersama warga kampung adat. Waé cemok juga disebut mata air sakral yang hanya dimiliki oleh suku atau kilo tertentu. Sedangkan, waé téku sifatnya umum. Meskipun semua mata air disebut waé téku. Waé téku yang bersifat umum tidak bersifat sakral. Yang sakral adalah waé barong dan waé cemok. Baik waé barong, waé cemok maupun waé téku di bawah kekuasaan gendang. Pada saat acara bowo waé biasanya, ketika saat yang pergi abadi itu hendak dikuburkan orang-orang terutama keluarga akan pergi membilas diri ke waé téku. 

Compang Buatan dan Compang Alami

Compang (atau disebut pula dengan dari) terdiri atas dua jenis. Ada compang yang disusun oleh tangan manusia, ada pula compang yang tersusun secara alami. Compang yang tersusun secara alami tanpa dibuat oleh tangan manusia, contohnya, compang gendang Sampar di Desa Pong Lalé, Kecamatan Ruteng.

Gendang Lancung

Gendang lancung adalah gendang yang memiliki compang tetapi hanya bersifat sementara. Bisa juga disebut sebagai gendang singgahan. Misalnya, salah satu gendang di Golo Nawang yang sudah ditinggalkan oleh nenek moyang yang sifatnya sementara. Generasinya kemudian tersebar ke mana-mana. Gendang itu serta compang-nya ditinggalkan. 

Waé Barong Loang

Waé barong loang adalah waé barong yang ditinggalkan oleh nenek moyang karena memindahkan kampung adat ke lokasi yang lain yang tidak jauh dari kampung adat sebelumnya. Kampung adat yang baru bukan wilayah kantong. Bisa juga waé barong yang memang ditinggalkan sama sekali.

Memindahkan Kampung Adat

Masa lampau, nenek moyang di Manggarai bisa memindahkan gendang dan kampung adat ke lokasi yang lain. Mereka mendirikan rumah adat baru, compang baru dan waé barong baru. Hal itu berdasarkan persetujuan. Waé barong lama disebut juga waé barong mbaté tetapi sudah ditinggalkan karena alasan tertentu. Salah satu contoh adalah waé barong orang Taga, Ruteng yang kemudian ditinggalkan nenek moyang di dekat lingko Lamba persis di aliran sungai Tiwu Riung. Hal itu bisa terjadi karena kesepakatan bersama masa lampau mengingat masa lampau tanah masih luas sementara manusia sedikit.   

Pa'ang Olo Ngaung Musi

Istilah yang kerap dipakai oleh orang Manggarai adalah pa'ang olo ngaung musi. Pa'ang artinya gerbang masuk ke kampung yang berada di depan (olo, be bolo). Ngaung (kolong) artinya bagian bawah rumah karena orang Manggarai kerap membangun rumah adat dengan sistim panggung. Musi artinya belakang. Pa'ang olo ngaung musi dapat diartikan juga sebagai seluruh warga kampung adat termasuk mereka yang berada di perantauan. 

Pangga Pa'ang Nggalu Ngaung

Ini adalah istilah pemerisaian di mana sebuah kampung adat memiliki tameng atau perisai untuk melindungi diri dari serangan apa pun. Istilah ini adalah simbol bahasa persatuan nai ca yanggit, tuka ca léléng (bersatu padu, satu pikiran). 

Beberapa Istilah yang Ada Hubungannya dengan Waé

Waé Nggéreng dan Waé Woang

Waé nggéreng artinya air jernih, bersih. Toém tebur, cino (tidak keruh dan bening). Waé nggéreng adalah sebuah ekspresi simbolik untuk menyebut ata jangka (paranormal). Terkadang waé nggéreng disebut pula ada ata pecing, ata mata gérak, ata mbeko.

Kemudian waé woang adalah mata air asli, alami, yang keluar dari tanah bukan air kali atau waé meti (terkadang tidak muncul) pemberian dari Yang Kuasa secara langsung (Morin Jari Dédék). Bukan dari pipa buatan. Istilah yang kerap dipakai adalah mboas waé woang, kembus waé téku (mata air jernih yang besar berasal dari sumbernya di mana orang-orang menimba). 

Waé Takung dan Takung Waé

Waé barong disebut pula sebagai waé takung, waé téku tédéng. Tetapi waé takung ada dua jenis, yaitu waé barong dan waé cemok. Tetapi takung waé adalah sebuah aktivitas memberi sesajian. Takung waé dalam konteks ritual adalah aktivitas meminta kemurahan kepada penjaga mata air agar selalu terlindungi dari pengaruh jahat. Takung waé dapat juga diartikan sebagai aktivitas atau ritual apabila ada orang-orang yang hendak menjala ikan di kali atau pula ada warga kampung yang melepaskan ikan, udang di kali maka digelarlah ritual takung (sesajian). Ritual takung dilakukan apabila hendak menjala agar tangkapan banyak dan berlimpah. 

Waé Cebong

Waé cebong adalah air yang bersifat umum sekali. Waé cebong tidak harus bersifat sakral karena khusus untuk mandi dan cuci. Kali-kali juga disebut waé cebong. 

Waé Géok dan Waé Bung

Waé géok adalah mata air yang kecil dan bersih yang terkadang muncul sesaat. Bisa sering datang tetapi kecil (waé lemes dalam sebutan lain akibat dibuatnya waduk atau embung). Sedangkan, waé bung adalah air yang keluar sewaktu-waktu di saat musim hujan saja. Ketika musim kemarau tiba, airnya tidak keluar. Untuk mengatasi waé bung biasanya orang-orang menggelar ritual takung waé dan menanam berbagai jenis pohon di atasnya. 

Barong Waé

Barong waé adalah suatu aktivitas ritual adat di mana tetua adat berkumpul di waé barong sebagai salah satu komponen runutan ritual adat. Barong waé juga digunakan untuk sebutan lain dari suatu aktivitas rutinitas untuk mengalirkan mata air dari parit yang dibangun demi mengairi ladang-ladang. 

Waé barong Gendang Lawir di Ruteng.

Foto: Roy Jehapu

Waé Mata dan Mata Waé

Waé mata adalah mata air, sedangkan mata waé adalah sumber awal di mana air keluar dari mata air. Waé mata dalam sebutan lain juga dterjemahkan sebagai air mata. Misalnya, air mata cinta. 

Waé Timbu dan Timbu Waé 

Waé timbu maksudnya, genangan air yang sengaja dibuat atau ditimbulkan dalam bentuk atau dibuat dalam bentuk kolam kecil untuk menampung air hujan. Sedangkan, timbu waé artinya aktivitas menadah air dengan membuat pematang atau tanggul dengan tujuan menadah air agar bisa dialirkan ke ladang melalui parit.

Timbu waé jika salah dapat menyebabkan rudak misalnya di mata waé. Timbu mata waé jika salah akan direkonsiliasi melalui ritual ngelong (sesajian berupa telur ayam kampung). 

Derek Waé

Derek waé adalah suatu aktivitas ritual adat agar mata waé selalu kémbus (air keluar selalu stabil dari dalam tanah). Ritual ini adalah meminta intervensi Yang Kuasa agar menumbuhkan pohon-pohon dengan caraNya dan juga hujan senantiasa mengguyur wilayah itu. Adapula sebutan derek siri bongkok (aktivitas ritual adat saat mendirikan tiang tengah dari rumah adat). 

Waé Samo dan Waé Wacang

Waé samo maksudnya air bersih yang digunakan untuk mencuci tangan ketika ada acara-acara tertentu terutama saat terjadi kedukaan. Waé wacang juga artinya air bersih untuk membilas diri. Biasa juga kerap disebut waé nawi. Waé nawi biasanya menggunakan air bersih untuk mencuci pakaian ataupun perabot-perabot rumah tangga.

Liang Waé, Waé Liang dan Waé Loang

Liang waé maksudnya air yang keluar dari tebing yang memilik lubang besar. Air yang keluar dari lubang besar. Bisa juga di dalamnya terdapat liang. Lazimnya memiliki bebatuan besar. Waé liang maksudnya mata air yang berbentuk kolam. Tidak mengalir keluar tetapi meresap ke bawah bisa juga habis karena proses penguapan. Sumber air bisa muncul dari tingkap-tingkap bebatuan atau rembesan resapan air hujan yang tertampung dalam sebuah wadah. Biasanya terdapat di gua-gua dan liang-liang tanah akibat longsor. Sedangkan, waé loang adalah mata air yang sebelumnya digunakan orang-orang tetapi warga pindah atau karena tercemar, terkontaminasi maka kemudian ditinggalkan. Terkadang disebut waé téku loang. 

Waé Nécak dan Waé Délem

Waé nécak maksudnya genangan air yang tidak dalam misalnya telaga, kali, kolam, sumur air. Sedangkan, waé délem adalah genangan air berupa telaga, kolam sumur yang cukup dalam.

Waé Néneng dan Néneng Waé

Waé néneng adalah kumpulan air dalam dalam satu wadah kolam, telaga, tacik (laut) yang dalam biasanya berwarna hitam dan jika di laut berwarna biru. Sedangkan, néneng adalah pantulan air akibat terkena cahaya sinar mata hari. 

Waé Bincar dan Bincar Waé

Waé bincar adalah genangan air yang ditimbulkan akibat terbentur dengan benda lain kemudian mengenai sesuatu titik benda atau wadah. Lama kelamaan bisa menjadi danau. Sedangkan bincar waé maksudnya percikan air akibat hujan atau semprotan.

Waé Lemes dan Lemes Waé

Waé lemes adalah air yang kecil yang dtimbulkan akibat misalnya seng atap rumah bocor. Sedangkan, lemes waé adalah air yang mengalir kecil yang membasahi lantai rumah atau alun-alun yang tengah kering karena tersumbatnya parit.

Waé Inung dan Inung Waé

Waé inung adalah air untuk minum. Waé inung juga biasanya untuk menyebut mata air yang khusus ditimba untuk diminum. Sifat airnya tidak tercemar. Sedangkan, inung waé artinya meminum air. 

Waè Cancor dan Cancor Waé

Waé cancor maksudnya air besar yang mengalir dari tebing atau mata air yang dekatnya terdepat rendahan atau tebing kecil. Biasanya orang-orang menggunakan talang agar bisa dimandikan. Waé cancor adalah air terjun bisa mengalir langsung dari mata air sebagai sumbernya bisa juga di kali-kali. Sedangkan, cancor waé maksudnya air yang keluar atau mengalir seperti air terjun yang kemudian bisa bincar dan lemes.

Cunca dan Cunca Waé

Cunca adalah air terjun. Cunca terkadang ada yang tinggi ada yang berukuran satu meter lebih. Biasanya di kali yang agak besar. Sedangkan, cunca waé maksudnya air yang mendidih. Cunca waé lazim juga disebut sebagai sebuah tebing yang ada di kali kering yang pada saat hujan airnya berbentuk seperti air terjun.

Sermuli dan Bemberluak Waé

Sermuli artinya pusaran air. Bemberluak waé maksudnya air yang keluar dari kolam atau parit karena tersumbat. Apabila tanggul jebol di saat musim hujan dapat mengakibatkan ladang-ladang hancur dan air tergenang ke mana-mana. Bemberluak waé dapat pula terjadi karena air yang keluar dari dalam tanah meluncur ke permukaan tanah sehingga membentuk luncuran atau terjun.

Waé Ronco dan Ronco Waé

Waé ronco adalah air yang ditimbulkan karena hujan lebat yang apabila tidak diatur dengan baik akibatnya aliran airnya sembarangan. Sedangkan, ronco waé maksudnya air yang keluar dari waduk disebabkan oleh hujan lebat akibatnya tanggul jebol sehingga air dapat merembes ke mana-mana menghancurkan apa pun.

Waé Sor dan Sor Waé

Waé sor maksudnya mata air cahir biasanya dari asé ka'é ketika membuat gendang baru. Bisa juga mata air pemberian, hadiah, widang dari anak rona ke anak wina. Sedangkan, sor waé adalah aktivitas membagi air, mata air. Sor waé dapat pula diartikan sebagai air yang segaja disemprotkan. Biasanya saat menyiram bunga atau tanaman. 

Waé Sosor dan Sosor Waé

Waé sosor maksudnya mata air untuk mandi dan cuci tetapi mata airnya agak di atas sehingga orang-orang menggunakan bambu untuk talang. Waé sosor ada di mata air bukan waé sosor yang muncul dari atap seng atau ijuk rumah yang dialirkan melalui talang. Sedangkan, sosor waé maksudnya talangan air. 

Waé Génang

Waé genang artinya air telaga. Waé génang juga dapat diartikan air dingin (ces) yang sudah dimasukkan aji-ajian atau mantra-mantra mandraguna untuk menyembuhkan berbagai penyakit bisa juga patah tulang dan sebagainya. 

Waé Kolang dan Kolang Waé

Waé kolang artinya artinya air panas, sedangkan kolang waé artinya memanaskan air. Waé kolang sebutan lain untuk air yang mengandung mantra-mantra mematikan. 

Waé Cehéng dan Mata Waé Regis

Waé cehéng dapat berupa air minum yang sudah dinazar atau memiliki perjanjian khusus yang apabila dilanggar dapat mematikan. Waé cehéng dapat pula disebut sebagai air permurnian sebagai penyuci kekesalan, amarah dan perbuatan-perbuatan tercela. Waé cehéng dapat juga diartikan sebagai mata air yang memiliki unsur-unsur magis atau ada orang yang bernazar tidak akan menganggu karena telah melanggar ketentuan tertentu baik karena masalah antara sesama manusia maupun penghuni air. Sedangkan, mata waé regis maksudnya mata air yang serem. Dalam istilah orang Manggarai dinamakan sebagai pong cengit.

Waé Ru'u dan Ru'u Waé

Waé ru'u maksudnya air yang diisi dengan mantra-mantra khusus. Biasanya air ditaruh di wadah-wadah khusus. Mantra yang dimasukkan berupa ilmu totok (ru'u da'ét), ru'u tako tédéng (mantra yang membuat orang-orang terus mencuri).

Waé Rénéng

Waé réneng maksudnya mata air yang digunakan untuk keperluan memasak tetapi karena tidak dirawat dengan baik jadinya rénéng. Tentu tidak bagus untuk digunakan. Waé rénéng dapat pula disebut air minum yang sudah dimasak tetapi diminum terasa lain karena masaknya belum matang. Rénéng itu sendiri maksudnya aktivitas memasak yang menyebabkan nasi habel dan kar (nasinya lembek dan keras). Itu disebabkan karena apinya kurang stabil. 

Waé Bakok dan Waé Nggélel

Waé bakok bukan bermaksud untuk menyebut air putih karena air itu bening bukan putih. Waé bakok adalah sebutan untuk mincé (nira) bukan tuak karena tuak dicampur dengan berbagai kulit kayu sehingga warnanya tergantung damer (campuran kulit kayu yang digunakan yang diisi di dalam bumbung atau gogong). Jika damer berwarna putih susu, maka menjadi putih. Sedangkan, waé nggélel adalah air yang agak licin, nggelék karena telah tercemar hingga tidak baik untuk diminum. Waé nggélel dapat sebagai mata air yang sudah tercampur dengan katak, ikan dan binatang melata lainnya. Waé nggélel ini menimbulkan waé wau (air yang berubah warna dan busuk). 

Waéng Waé

Waéng waé adalah sebutan kiasan dari suatu aktivitas tertentu. Misalnya, pergi menangkap ikan di kali dengan menggunakan perangkap tertentu. Dapat pula melakukan aktivitas hedong waé. Hedong waé maksudnya mengeluarkan air dari kolam atau memindahkan air dari parit yang dialiri ke ladang agar mengalir ke tempat lain misalnya ke sungai. Maksudnya agar tanaman tidak busuk. Waéng waé dapat pula disebut sebagai aktivitas mencari udang, ikan, katak, kepiting dan belut di sungai. Waéng waé bagi nelayan disebut melaut. Ada ungkapan lainnya waéng tuak. Waéng tuak berarti menyadap nira. Kerap orang Manggarai menyebutnya panté tuak. 

Waé Worang dan Worang Waé

Waé worang adalah sebutan kiasan atau bahasa simbolik dari waé barong yang bening, jernih. Waé worang juga diartikan sebagai air hujan. Dalam ungkapan simbolik lain, waé worang adalah artian untuk generasi atau anak-anak di dalam kampung adat yang merupakan hadiah Yang Kuasa. Berkeriapnya anak-anak disampaikan melalui ekspresi ta'i cala wa'i, borék cala bocél (berkeriapnya anak-anak). Sedangkan, worang waé berarti membagi air atau memandikan anak-anak dengan air. Atau mengambil air dengan gayung lalu disiram ke tanaman.

Waé Rua dan Rua Waé

Waé rua maksudnya air yang sudah dimasak matang dan segar untuk diminum, sedangkan rua waé maksudnya air yang tengah mendidih.

Waé Céncés dan Céncés Waé

Waé céncés adalah air yang sudah dimasuk. Tetapi ini adalah bahasa kiasan untuk menyebut anak orang miskin. Sedangkan, céncés waé artinya memasak air. 

Waé Waké dan Waké Waé

Waé waké artinya akar yang sudah berair, sudah kuat, keras. Waé waké maksud lainnya adalah hidup, vitae, semangat. Sedangkan, waké waé maksudnya airnya mengalir secara terus-menerus. Berkaitan dengan identitas keadatan, waké waé maksudnya generasi yang sukses, makmur. Waé waké adalah ungkapan simbolik untuk keturunan. Hal yang mirip dengan ungkapan waké waé adalah lor waé. Lor waé maksudnya keturunan yang berkeriapan.

Waé Doang

Waé doang adalah air yang telah mengandung mantra-mantra penyembuhan. Waé doang berasal ata jangka, waé nggéreng. Mantra oleh orang Manggarai menyebutnya guru.


Melky Pantur
Ruteng
Selasa, 15 Februari 2022

27/10/21

Tangké

Melky Pantur

Setiap orang pasti mengalami mimpi saat tidur. Ada mimpi yang diingat, ada mimpi yang samar-samar diingat, ada mimpi yang mengingat dengan jelas sekali alur ceritanya, ada pula mimpi yang terlupakan sama sekali. 

Bagi orang Manggarai, dalam mimpi mengenal apa yang disebut dengan tangké. Tangké adalah bentuk pemodelan atau mengambil model tempat tertentu. Misalnya, mimpi diberi "sesuatu" oleh yang tidak dikenal ataupun telah dikenal terjadi di tempat tertentu. Tempat di sini bisa mengambil tempat apa saja sesuai apa yang ditunjuk dalam mimpi. 

Manakala dalam mimpi menunjuk ke orang, oleh orang Manggarai menyebut itu sebagai ba tara. Ba tara artinya menyerupai muka orang tertentu. Ada banyak penyerupaan dalam mimpi. Mimpi terkadang menimbulkan multi tafsir karena terkadang seperti mengandung kiasan.

Dalam tulisan ini menitikberatkan pada istilah tangké. Tangké membuat penafsir mimpi begitu sulit menerjemahkannya. Mimpi sukar dipercaya karena menggunakan tangké dan ba tara dalam alur ceritanya. Kemudian, mimpi yang lebih dari satu membuat si pemimpi mengingat dengan jelas mimpi-mimpinya. 

Kando Nipi Da'at

Orang Manggarai mengenal budaya takung (sesajian). Mimpi yang dianggap buruk akan diritualkan secara khusus dengan mempersembahkan hewan kurban tertentu berupa ayam. Penyilihan terhadap mimpi yang dianggap buruk dengan membuat ritual kando nipi da'at. Lazimnya pula ritual kando nipi da'at menggunakan sebutir telur. Persembahan sebutir telur kerap disebut sebagai takung atau ngelong. 

Waé Nggéreng

Waé nggéreng adalah sebutan untuk orang-orang yang mengerti hal-hal supranatural. Nama lainnya adalah ata jangka. Kerap juga disebut ata pecing. Melalui petunjuk mimpi, biasanya orang-orang melakukan ritual silih dan rekonsiliasi. 

Mengapa Ada Tangké?

Tangké tentu merupakan salah satu ciri khusus dalam mimpi. Yang unik adalah ada tangké-nya, ada pula ba tara. Pertanyaannya mengapa ada tangké dalam mimpi? Nah, itulah ciri khusus dalam mimpi seolah-olah memasukkan unsur dongeng di dalamnya tetapi yang pasti mimpi selalu memiliki unsur tangké di dalamnya sesuai maunya mimpi. Bak cerita dongeng, mimpi selalu menunjuk tempat tertentu di dalamnya. Tangké ada sebagai petunjuk kiasan yang dimasukkan mimpi itu sendiri sebagai pelengkap alur kisah dalam mimpi itu sendiri.

Ruteng, Rabu (27/10/2021).
Oleh: Melky Pantur


09/08/21

Maksimus Bangkur

Maksimus Bangkur meninggal di Gang Sasando, Kelurahan Bangka Leda, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Temggara Timur (NTT), Indonesia, Asia. Senin (9/8/2021).
Maksimus Bangkur bersama isteri Elsiana Dabung. Foto tersebut saat Gereja Paroki St. Vitalis Cewonikit, Keuskupan Ruteng. Mereka memiliki dua orang puteri Nesa dan Naira.


Foto berikut diambil saat pernikahan mereka 1 Desember 2014 dari

Maksimus Bangkur dan Elsiana Dabung di Ros, Gang Sasando, Leda Ruteng.


16/07/21

Yoséph Nabut

Yoséph Nabut asal Subu, Desa Gelong, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Yoséph Nabut kelahiran Subu, 15 November 1964. Yoséph Nabut putera dari pasangan Fransiuskus Banggu dan Bérta Ganung. Dirinya meninggal di Subu pada hari Kamis (15/7/2021). Yoséph Nabut berziarah di bumi kurang lebih 57 tahun.  

Ýoséph Nabut memperisterikan Thérésia Anul. Thérésia Anul kelahiran Coal, 16 Oktober 1978. 

Yoséph Nabut


Ia meninggal karena menderita sakit. Sebelum meninggal, ia dirawat di rumah oleh isteri tercinta.  Ia sempat dirujuk ke Puskesmas di Pahar dan kemudian ke BLUD RSUD Ruteng.


Kepergiannya meninggalkan 5 (lima) buah hatinya. Yoséph Nabut meninggal di Subu, Kamis (15/7/2021) di kediamannya di Subu. 

Jenazah Yoséph Nabut saat disemayamkam di kediamannya di Subu, Desa Gelong

Yoséph Nabut memperisterikan Thérésia Anul.  Thérésia Anul dan Yoséph Nabut memperanakkan Frédérikus Jéfri Darmin Ndili, Maria Kurniati Purnama, Mikaél Évérgian Syukur, dan Hardianus Yoswaldi Rahman, dan seterusnya.

Pétrus Gambut memperisterikan Sabina Anut. Sabina Anut berasal dari Lando, Kuwus. Pétrus Gambut memperanakkan Thérésia Anul (puteri tunggal). Thérésia Anul kelahiran Coal, 16 Oktober 1978 bersuamikan Yoséph Nabut, kelahiran 15 November 1964. Yoséph Nabut anak dari Fransiuskus Banggu dan Bérta Nganung berasal dari kampung Subu, Gelong.

Pétrus Gambut adalah putera dari pasangan suami-isteri Yakobus Antan dan Régina Nganul asal Coal, Desa Coal, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, Flores.


09/07/21

Yovita Setia

Yovita Setia adalah puteri dari Veronika Danut.

Yovita Setia bersama Nera di Denpasar, Bali

Foto-foto Saat Wela Meninggal


Yovita Setia, lahir di Coal, 27 Agustus 1987 bersuamikan Lambertus Suri. Lambertus Suri lahir di Wek Motis, 15 November 1976. Ia putera dari dari pasangan suami-isteri Dominikus Mese dan Rouk Leki. Dominikus Mese berasal dari Desa Nanaet, Kecamatan Nanaet Duabesi, Kabupaten Belu, NTT.



Disemayankan di Sampar. Tampak Pamannya, Herman Kiot (kiri) dan Marten Jalu (kanan).

Catatan Ringkas tentang Lambertus Suri dan Yovita Setia

Lambertus Suri, pria kelahiran Wek Motis, 15 November 1976 anak dari pasangan Dominikus Mese dan Rouk Leki yang berasal dari Desa Nanaet, Kecamatan Nanaet Duabesi, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, tutup usia persis 39 tahun 7 bulan di kampung halamannya, Kamis (14/4/2016) Pukul 04.00 pagi.

Lambertus Suri (kanan)

Menurut Melky Fahik, rekan serantau dari Atambua menjelaskan, Lambertus Suri sudah belasan tahun bahkan lebih merantau ke Denpasar-Bali. Dia adalah putera semata wayang dari Keluarga Dominikus Mese. Saat kedua orang tuanya meninggal, dirinya merantau ke Bali untuk tujuan menyambung nyawa. "Lambertus ditinggalkan oleh ibunya pada usia delapan hari. Saat itu, Suri dibesarkan oleh mama tuanya. Setelah besar merantau ke Bali. Pasca ibunya meninggal karena dia anak satu-satunya, ayahnya pun mengambil isteri lagi. Anak dari isteri kedua semuanya tinggal di Belu", demikian Fahik.


 Yovita Setia saat di Bali

Di Bali tahun 2010-2011, dia bertemu dengan seorang perempuan dari Manggarai-Flores bernama Yovita Setia yang kemudian menikahinya pada Agustus 2014. Dari hasil perkawinan mereka, lahir dua orang puteri. Puteri pertama bernama Maria Febriani Abu Nera Suri, kelahiran Denpasar, 22 Februari 2012. Kemudian, puteri kedua lahir di Denpasar-Bali, 31 Januari 2015 dengan nama panggil Sera. Namun kemudian, Sera dipanggil lagi oleh Yang Mahakuasa pada Selasa, 3 November 2015 dan dikebumikan di pemakamam umum Denpasar-Bali.


Lambertus Suri dan Yovita Setia saat menikah di Paroki St. Fransiuskus di Bali

Selang lima bulan kemudian, Lambertus Suri dipanggil Yang Mahakuasa pada Kamis, 14 April 2016, tepat Pukul 04.00 pagi di kampung halamannya di Atambua. 

Lambertus pergi ke Atambua dengan tujuan berobat bersama isteri tercintanya Yovita Setia sementara puteri sulung mereka Nera ditinggalkan. Sebelum ke Wekmutis, Lambertus sempat dilarang oleh adik perempuan dari isterinya, Florida Sinar. Namun menurut Florida, saat dilarang, Lambertus tetap bersikeras untuk pergi ke kampung halamannya. Sementara, hal yang sama dilarang oleh mertuanya Theodorus Tamat. Meski begitu, Lambertus tetap bergegas. Betapa kaget, tiga pekan kemudian, keluarga di Bali dan Manggarai mendapat kabar Lambertus sudah dipanggil Yang Mahakuasa.

Nyaris tiga Minggu di Atambua, cita-citanya untuk berobat pupus karena Yang Mahakuasa memanggilnya dengan meninggalkan isteri tercinta dan seorang puteri. Informasi yang diperoleh dari isterinya, Lambertus Suri mengalami sakit bengkak di leher selama beberapa hari. Keluarganya hendak mencarikan ramuan, namun tidak tertolong.

Yovita Setia saat di Denpasar, Bali

Sedihnya, selama puteri keduanya dirawat di salah satu rumah sakit di Denpasar-Bali yang bernama Sera, pihak rumah sakit meminta tebusan sebesar Rp30.000.000,00 padahal mereka dari keluarga yang sangat miskin. Sekalipun dirawat selama beberapa Minggu, nyawa Sera tidak tertolong. 

Belum terlunas semua uang Rp30.000.000,00 tersebut, sang suami terkena sakit. Mereka melakukan pemeriksaan ke dokter namun dokter tak menemukan penyakitnya. Karena itulah Lamber mencari pengobatan tradisional alternatif di kampung halamannya. Maksud hati mendapat kesembuhan, namun tangan Tuhan bertujuan lain, Suri pun menghembuskan nafas terakhir. 

Suri meninggalkan puterinya Nera dengan istri tercinta, Yovita Setia. Kedua harapannya sudah tidak punya sandaran hidup lagi. "Semuanya kami pasrahkan kepada Tuhan Yesus", demikian Yovita kepada media ini dari Atambua. 



Yovita dan Lambertus Suri memiliki dua orang puteri bernama Maria Febriani Abu Nera Suri. Nera lahir di Denpasar, 22 Februari 2012. Kemudian, puteri kedua lahir di Denpasar Bali, 31 Januari 2015 dengan nama panggil Sera. Namun kemudian, Sera dipanggil lagi oleh Yang Mahakuasa, Selasa, 3 November 2015 dan dikebumikan di pemakamam umum Denpasar-Bali.
 


Di rumah Gaspar Garung dan Sobina Sidung di Sampar, Desa Pong Lalé


Saat Yovita Setia meninggal di Sampar. Warga berkumpul untuk berdoa.



Nama kecilnya lazim dipanggil Wela. Ia bersuamikan orang Wek Mutis, Atambua. Nama suaminya, Lambertus Suri. Suaminya meninggal di Atambua. Ia bersama suaminya dianugerahi dua orang puteri Nera Suri dan Sera. Sera meninggal saat masih kecil di Bali. Sera kemudian dimakamkan di pemakaman Bali.

Setelah menyaksikan suaminya meninggal di Atambua, ia kembali ke Manggarai dan meninggal di Leda, Ruteng. Ia kemudian disemayankan di Sampar, Desa Pong Lale, Kecamatan Ruteng. 

Wela dikuburkan di samping kuburan ibu kandungnya Veronika Danut di Sampar. Pamannya Herman Kiot, Kakek dan Neneknya, Gaspar Garung dan Sobina Sidung juga dimakamkan di kompleks yang sama. 

Nera Suri kemudian tinggal bersama mama kecilnya, Florida Sinar (2021) di Denpasar, Bali. 




Sejarah Suku Nampé Mbaru di Coal

Penulis

Seiring berjalannya waktu, keturunan Nampé Mbaru tersebar ke beberapa tempat di wilayah Manggarai termasuk Lelak. Suku keturunan Nampé Mbaru yang lain kemudian ke Lambur dan Coal (belum diketahui apa hubungan antara Suku Mbaru Asi asal Pongkor dengan Nampé Mbaru. Kebenaran sejarahnya masih dicari soal kejelasannya karena harus dipertautkan lagi dengan sejarah Pongkor –red).

Matias Hagul (62) persis di Goro-Ruteng, Rabu (12/9/2015) menjelaskan, keluarga Nampé Mbaru bertotem (ceki) rajawali atau cemberuang dan ayam hutam (rata). Suku Nampé Mbaru, kata dia, tidak ada hubungannya dengan suku Mbaru Asi di Pongkor.

Cikal Bakal Suku Nampé Mbaru

Silsilah Wéwét

Dalam versi kedua, Wéwét berasal dari Kolé, Kecamatan Satar Mésé Utara (SMU), Kabupaten Manggarai. Isterinya Wéwét bernama Lenjang (nama Lenjang ini belum pasti kebenarannya) dari Bola, Ruang. Anaknya Wéwét adalah Rimang dan Rina (laki-laki). Anaknya Wéwét adalah Rina, Péléng, Sambi dan Lembung.

Empo Rina.

Empo Rina hijrah ke Lambur. Kakek Rina memiliki tiga orang anak. Anak laki-laki bernama Pinggang. Sedangkan, dua orang anak perempuan. Soal sejarahnya dapat dilihat di sini: Sejarah Empo Rina di Lambur, Flores.

Empo Péléng.

Péléng mempunyai dua orang anak. Nama mereka adalah Sélé dan Géré.

Kakek Sélé.

Sélé mempunyai anak di Nampé, namanya Rimang. Anaknya Rimang adalah Mbatang.

Selanjutnya, Mbatang tinggal di Nampé. Mbatang memiliki anak bernama Bobok dan Nimpang.

Anaknya Bobok adalah Matias Hagul, Nimul, Ida Jenia. 

Nimpang anaknya Yohanés Kabut, Thomas Nisa, Agus Atum. Anaknya Matias Hagul adalah Monika Iman, Kosmas Blaang, Yustina Mumur, Adrianus F. Guntur, Maria F. Angur, Bonéfasius Ombot, Érémias Bok. (Soal keluarga di Nampé, akan ditelusuri ulang). 

Anaknya Agus Atum adalah Paulus Pangu, Marsélus Mawan.

Empo Sambi.

Empo Sambi menuju ke Boléng. Lebih banyak di Wangkung. 

Nenek Lembung.

Lembung bersuamikan orang Ndung, namanya Tindok. Tindok ini berasal dari Coal. Orang Ndung berasal dari Coal.

Keturunan Sélé di Coal.

Adapun anak dari Sélé, seperti: Manjing, Yakobus Antam, dan Nél.

Manjing.

Manjing memperisterikan Éva Laham. Éva Laham berasal dari Wérak-Wélak. Manjing memperanakkan Gabriél Jehama dan Paulus Anggal.

Gabriél Jehama

Gabriél Jehama memperisterikan Tin Mémas. Gabriél Jehama memperanakkan Sius Damar. Tin Mémas dari keturunan Tanggar. Saudara dari Tin Mémas adalah Gabriél Gahi, Pétrus Bahor, dan Nanus (Nanus adalah ibu kandung dari Boné Kémon) yang menetap di Coal.

Paulus Anggal

Paulus Anggal memperisterikan Sofia Lulus dari Senda-Léwur. Paulus Anggal memperanakkan Lus, Édu dan Hél. Lus dan Hél bersuamikan orang Lénténg, Béokina.

Yakobus Antam.

Yakobus Antam memiliki dua orang isteri. Isteri pertama bernama Régina Nganul. Isteri kedua bernama Éva Laham. Régina Nganul melahirkan Pétrus Gambut dan Théodorus Tamat, Sofia Banul (Sofia Banul meninggal di Sampar semasa gadis), sedangkan Éva Laham memperanakkan Dominikus Babu.

Pétrus Gambut

Pétrus Gambut memperisterikan Sabina Anut. Sabina Anut berasal dari Lando, Kuwus. Pétrus Gambut memperanakkan Thérésia Anul (puteri tunggal). Thérésia Anul kelahiran Coal, 16 Oktober 1978 bersuamikan Yoséph Nagut, kelahiran 15 November 1964. Yoséph Nagut anak dari Fransiuskus Banggu dan Bérta Nganung berasal dari kampung Subu, Gelong.

Thérésia Anul dan Yoséph Nagut memperanakkan Frédérikus Jéfri Darmin Ndili, Maria Kurniati Purnama, Mikaél Évérgian Syukur, dan Hardianus Yoswaldi Rahman, dan seterusnya.

Théodorus Tamat

Théodorus Tamat kelahiran Coal, 13 Juni 1956 memperisterikan Véronika Danut. Véronika Danut berasal dari Sampar, Desa Pong Lalé, Kecamatan Ruteng. Véronika Danut puteri dari Gaspar Garung dan Sobina Sidung. Théodorus Tamat memperanakkan Mélkior Pantur, Férdinandus Gau (meninggal waktu kecil), Tini Nau (meninggal waktu kecil) Yovita Sétia dan Florida Sinar. 

Mélky Pantur

Mélky Pantur memperisterikan Régina Wanggung, kelahiran Karot, 21 November 1992 berasal dari Karot Tadong, Ruteng berketurunan Ndoso dari pasangan Belasius Tika dan Paulina Jelina.

Mélky Pantur dan Régina Wangung memiliki tiga orang putera, yaitu:

Arnoldus Sanpépi Juang Pantur

Arnoldus Sanpépi Juang Pantur, lahir di RSUD Ruteng, 19 Mei 2013 pada Pukul 18.00 WITA (saat tulisan ini dirilis pada Mei 2014).

Vinsénsan Jovialén Pérki Pantur

Kemudian putera kedua bernama Vinsénsan Jovialén Pérki Pantur, lahir di Puskesmas Kota Ruteng, Sabtu, 21 Februari 2015 pada Pukul 17.00 WITA (ini dirilis pada, Senin, 9 November 2015).

Oktovian Gening Pantur

Putera ketiga bernama Oktovian Gening Pantur lahir di Léda, Ruteng. Jumat, 23 Oktober 2020, Pukul 01.40 WITA.

Yovita Sétia

Kedua saudarinya Mélky Pantur masing-masing berkeluarga dari Atambua, NTT. Anak kedua Yovita Sétia, lahir di Coal, 27 Agustus 1987 bersuamikan Lambertus Suri, kelahiran Wek Motis, 15 November 1976 anak dari pasangan Dominikus Mese dan Rouk Leki berasal dari Desa Nanaet, Kecamatan Nanaet Duabesi, Kabupaten Belu, NTT dengan memiliki orang putri bernama Maria Fébriani Abu Néra Suri, kelahiran Denpasar, 22 Februari 2012. Kemudian, puteri kedua lahir di Denpasar Bali, 31 Januari 2015 dengan nama panggil Séra. Namun kemudian, Séra dipanggil lagi oleh Yang Mahakuasa, Selasa, 3 November 2015 dan dikebumikan di pemakamam umum Denpasar-Bali.

Florida Sinar

Anak ketiga Florida Sinar, kelahiran 8 Agustus 1990 bersuamikan Melky Fahik. Melkianus Fahik anak dari pasutri Fransiuskus Luan dan Maria Lulik, kelahiran 2 Mei 1982 berasal dari Lebur, Desa Mandeu, Kecamatan Rai Manuk, Kabupaten Belu, NTT.

Dominikus Babu

Yakobus Antan kemudian memperistrikan Éva Laham, maka lahirlah Dominikus Babu. Éva Laham adalah isteri dari Manjing. Dominikus Babu memperistrikan Maria Niul keturunan Mbajang? Manggarai Barat. Dominikus Babu memperanakkan Stéfanus Ramé, Fransius Galus, Yulti, Dan, dan Égi, dan seterusnya.

Nel.

Nel saudari dari Manjing dan Yakobus Antam bersuamikan orang Bung, Lelak. Suaminya bernama Némpa. Némpa memperanakkan Lius Gaut, Bernabas Gandut, Baltasar Barung, Tina dan Gina, Rua.

Lius Gaut isterinya dari Léntang, Lelak. Bernabas Gandut isterinya dari Woang, Ruteng. Baltasar Barung isterinya dari Bajawa. Tina suaminya di Anam. Gina suaminya di Rua, Iténg.

Keturunan Géré di Coal.

Géré memperisterikan Wiwa yang berasal dari darah Ciréng. Lalu, lahirlah Pédo, Mias dan seorang saudarinya. Namun, Mias dan saudarinya satu kali meninggal. Wiwa dari Ciréng, asli Coal. Wiwa memiliki seorang saudara bernama Kasmir Kaso.

Géré berasal dari Boncu Kodé. Isteri dari Sélé namanya Énjéng. Énjéng berasal dari Manga, Pontu Pépak di Wontong. Géré sebenarnya berasal dari Nampé. Hanya pergi long (merantau) di Boncé Kodé.

Saat Sélé meninggal, Géré kemudian memperisterikan Énjéng. Géré dan Énjéng kemudian melahirkan Rém (perempuan) dan Éntém. Sélé dan Géré adalah beradik kakak kandung.

Rém.

Rém mempersuamikan Miténg dari Pérang. Éntém kemudian memperisterikan Naham. Naham berasal dari Manga. 

Miténg.

Miténg dan Rém melahirkan Thérésia Asul dan Dangul. Dangul bersuamikan orang Lalé, Todo (Ponggéok).

Thérésia Asul.

Thérésia Asul berasal dari Pérang. Orang tuanya Miténg dan Rém. Thérésia Asul bersuamikan Gabriel Ngapal.

Gabriél Ngapal.

Gabriél Ngapal dan Thérésia Asul memperanakkan Rofinus Jehama, Martinus Musa, Romanus Sambut, Antonius Ganca, Lin, Yustina Banur, Véronika Jenia. Gabriél Ngapal berasal dari Coal.

Mawar dan Kuwang.

Kuwang (perempuan) melahirkan Gabriél Ngapal. Saudari dari Gabriel Ngapal bernama Lanang.

Lanang.

Lanang bersuamikan Nakang. Nakang dan Lanang memperanakkan Makarius Makas, Frans Gas, Yanat, Ferdy Pantas.

Mawar.

Mawar berasal dari Ciréng, Kénggu. Kénggu itu terletak di Kecamatan Satar Mésé Utara. Mawar bertotem (céki) nggewo.

(Sumber: Dominikus Babu. 
Liang Roju, Selasa, 28 Juni 2022).

Éntém

Éntém memperisterikan Naham dari Manga-Pang Lémbor melahirkan Yohanés Jehaban dan Bibiana. Éntém kemudian memperisterikan Maria Isung dari Suku Nawang, Coal melahirkan Agustinus Antas.

Yohanés Jehaban

Yohanés Jehaban memperisterikan Tin Mémas dari Suku Tanggar-Coal dan Lusia Lulus dari Cangkang-Boléng. Tin Mémas melahirkan Belasius Énjel (Énjel pergi merantau dibawa oleh seorang Suster dan menetap di Ende). Sedangkan, Lusia Lulus melahirkan Férdi Bambang, Sana. Bambang mengambil isteri dari Jéong-Manggarai Barat. Férdi Bambang memiliki dua orang anak, sementara saudarinya Sana memiliki seorang anak perempuan (yang lain belum diketahui persis).

Bibiana

Bibiana saudarinya Yohanés Jehaban bersuami di Porong Tédéng bernama Yoséph Mat. Bibiana melahirkan Ari (Ari sudah meninggal tetapi isterinya dan anaknya belum diketahui) dan tiga saudara lainnya. Sementara, kakak kandungnya Yoséph Mat adalah Yohanés Méntot. Yohanés Méntot memperistrikan Gina dari Lambur, Manggarai Barat keturunan Mjaung dari suku Nampé Mbaru. Yohanés Méntot memiliki 5 orang anak tetapi merantau. Yoséph Mat adalah keturunan Suku Képé.

Agustinus Antas

Kemudian, Maria Isung melahirkan Agustinus Antas. Agustinus Antas memperisterikan Maria Jiman berasal Waé Ri’i, Manggarai Barat. Agustinus Antas memperanakkan Nimus, Bi, Frédi, Fons, Géti, dan Déli. Nimus mengambil isteri dari Nampé yang merupakan Nampé. Bi bersuami di Kapér, Manggarai Barat.

Maria Isung

Suami pertama Maria Isung berasal dari Dangka, Pacar adalah ayahnya Damianus Déléng. Saudari dari Damianus Déléng adalah Bèrta Sinuk. Bérta Sinuk bersuami di Waé Ri’i bernama Tinus. Damianus Déléng memperisterikan Bibi Juét dari Goloworok. Damé Déléng memperanakkan Irwan.

Régina Nganul

Yakobus Antan memperistrikan Régina Nganul. Ayah dari Régina Nganul adalah namanya Ndaga. Artinya, Règina Nganul anak dari Ndaga dan Damung.

Ndaga

Salah satu keturunan suku Nawang yang lain di Coal adalah Empo Ndaga. Empo Ndaga beristerikan Damung. Nenek Damung bangkong dari orang Anam. Sedangkan, Empo Ndaga tidak tahu soal hubungannya dengan Bénédiktus Hampi. Ndaga dan Bénédiktus Hampi memiliki hubungan saudara Kakek mereka. Empo Ndaga dan Nawung melahirkan Této Natan dan Régina Nganul.

Této Natam

Této Natam diduga memiliki dua isteri. Sedangkan, Této Natam beristerikan Biata Ganggus dari Léntang yang melahirkan Her Rutuk dan Kristina Baus. (Lih. asal mula Kampung Coal). Dengan demikian, Régina Nganul titisan dari Suku Nawang, sedangkan ibu kandungnya adalah Damung. Damung dari Anam tetapi kemudian Damung bersuami lagi di Mata Waè.

Saudara kandung dari Règina Nganul adalah Této Natam. Istrinya Této Natam adalah Biata Ganggus dari Léntang, Lélak. Saudaranya Biata Gambus di Léntang namanya Natus Nangur, Martinus Marut dan Gabriél (Gaba).

Suku-Suku di Coal

Suku-suku tersebut adalah Nampé Mbaru, Nawang, Ciréng, Tanggar, Ndajang, Ndoso, Rédo, Maras, Dangka, Wélak, Nua, Képé, Bung, Suka, Rahong, Wéwo, Nggorong, Léwur, Bajawa (1) dan Bajawa (2).

Suku Nampé Mbaru di Coal, keturunannya seperti: Manjing, Yakobus Antan dan Éntém. Suku Nawang adalah keturunan Dapung dan keluarga lainnya. Suku Ciréng adalah keturunan Gabriél Ngapal dan keluarga lainnya. Suku Tanggar adalah keturunan Hubèrtus Garut dan keluarga lainnya.

Suku Ndajang adalah keturunan Férdinandus Pantas dan keluarga lainnya. Suku Ndoso adalah keturunan Martinus Kontan dan keluarga lainnya. Suku Rédo adalah keturunan Anton Maus dan keluarga lainnya. Suku Maras adalah keturunan Mikaél Rénca dan keluarga lainnya. Suku Dangka adalah keturunan Damé Déléng. Suku Wélak adalah keturunan Dortéus Magut. Suku Nua adalah keturunan Markus Magul dan keluarga lainnya.

Suku Képé adalah keturunan Mén. Suku Bung adalah keturunan Laba. Suku adalah keturunan Boné Kémon dan keluarganya. Suku Rahong adalah keturunan Béda. Suku Wéwo adalah keturunan Markus Kandang. Suku Nggorong adalah keturunan Hérmanus Jehalut. Suku Léwur adalah Gabriél Séa. Suku Bajawa (1) adalah keturunan Yoséph Boga (Paulus Madu). Suku Bajawa (2) yang lainnya adalah Sirilus dan keluarganya.

Mengapa Disebut Kampung Coal?

Disebut kampung Coal karena ada sebuah batu berdiri tegak di depan pintu gerbang kampung sebelum masuk alun-alun kampung dan rumah adat Gendang Coal. Kalau diterjemahkan, Coal adalah bahasa Inggris yang diindonesiakan sebagai batu bara. Maka, Kampung Coal identik dengan kampung batu bara.

Sekitar 100 m di bagian barat kampung tersebut menuju Lenggo terdapat tumpukan bongkahan batu yang terbentuk dari lapisan batu kapur diberi nama watu ngeru. Watu artinya batu, ngeru artinya bau yang keluar dari benda tertentu layaknya batu. Dengan demikian, watu ngeru artinya bau khasiat dari sebuah bau.

Anak Kampung di Coal.

Coal memiliki pemekaran anak kampung, di antaranya: Lénggo, Béa Waék, Ntalung, Liang Roju.

Wilayah Perkebunan di Coal.

Wilayah persekitaran Sama adalah Limbang, Rohi, Rohi Saung Sué, Geleng, Ndori, Ros, Waé Todo, Kébè Léwé, Ngondé. Wilayah persekitaran Dantung adalah Dantung, Rebong, Ros, Da’éng, Waé Lowang, Waniasa, Likang Lénggo.

Wilayah persekitaran Ntalung adalah Liang Roju, Belang Ta’ak, Watu Pentung, Ndori, Ntalung, Béa Waék, Tamong, Réwéng Ajo, bagian utara-timur Porong Tédéng. Wilayah persekitaran Ramé Gilo adalah Ramé Gilo, Watu Nénu, Lénggo. Wilayah persekitaran Coal adalah Coal, Ngangkar, Lungkung, Lombong, Rahi.

Kesimpulan:

Wéwét - Péléng - Sélé - Yakobus Antam - Theodorus Tamat - Melkior Pantur  - Arnoldus Sanpépi Juang Pantur.

Wéwét - Péléng - Sélé - Yakobus Antam - Petrus Gambut - Thérésia Anul (bersuamikan Yoséph Nabut di Subu, Gelong) - Jefri Darmin Ndili (di Subu, Gelong). 

Wéwét - Péléng - Sélé - Yakobus Antam - Damonikus Babu - Frans Galus.

Wéwét - Péléng - Sélé - Manjing - Paulus Anggal - Edu.

Wéwét - Péléng - Sélé -  Manjing - Gabriél Jehama - Sius Damar.

Wéwét - Péléng - Géré - Éntém - Yohanés Jehaban - Belasius Enjél.

Wéwét - Péléng - Géré - Éntém - Yohanés Jehaban - Férdi Bambang.

Wéwét - Péléng - Géré - Éntém - Agustinus Antas - Nimus. 

Wéwét - Péléng - Géré - Rém (bersuamikan Miténg orang Pérang) - Thérésia Asul (bersuamikan Gabriél Ngapal dari suku Cireng di Coal) -  Romanus Sambut - Willy Hasan. 

Catatan: 

Narasumber tunggal Théodorus Tamat (58) berasal dari Coal, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Diwawancarai di Ruteng, 14 Mei 2014. Jika ada sejarah yang keliru akan diperbaiki lagi.

Diedit lagi oleh:
Melky Pantur.
Cobol, Cancar.
Selasa (12/7/2022).