19/04/22

MANUNGGÉ: UPAYA KOMPARASI DAN ANALOGI


DAFTAR  ISI

JUDUL
KATA PENGANTAR
PENDAHULUAN
DAFTAR ISI
BAB I. MANUNGGÉ
1.1 Apa Itu Manunggé?
1.2 Bentuk.
1.2.1 Ciri Khusus.
1.2.2 Pembentukan.
1.2.3 Sifat.
1.3 Habitat.
1.4 Tugas dan Fungsi.
BAB II. PERSPEKTIF
2.1 Budaya.
2.2 Agama.
2.3 Pemikir Kontemporer.
BAB III. KOMPARASI
3.1 Naga.
3.2 Api.
BAB IV. ANALOGI
4.1 Versi Manggarai.
4.2 Kisah Jawa Kuno.
4.3 Menurut Hinduisme dan Budha.
4.4 Tradisi China.
4.5 Tradisi Jepang.
4.6 Pandangan Eropa.
4.7 Mitologi Yunani Kuno.
4.8 Tafsiran Agama.
BAB V. EKSISTENSI SUPRANATURAL
5.1 Cara Berada.
5.2 Relasi.
BAB VI. REPRESENTASI
6.1 Pemelihara.
6.2 Simbol Kedewasaan.
6.3  Kekuatan Alam
BAB VII. REALITAS TERTINGGI
7.1 Manifestasi Ilahi.
7.2 Triesa.
BAB VIII. KISAH NYATA
8.1 Guru Penawar.
8.2 Tuhan Sayang Manusia.
8.3 Kesaksian.
PENUTUP

                     
https://youtu.be/lJ3kD4JIoYA

Ini gambaran manunggé (Foto: Istimewa)

MANUNGGÉ: 
         KOMPARASI DAN UPAYA ANOLOGI

BAB I. MANUNGGÉ

1.1 Apa Itu Manunggé?

Manunggé adalah binatang mitologi dalam bahasa Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Manunggé terbentuk diyakini karena merupakan dampak dari metamorfosisnya. 

Manunggé terkadang disebut kakartana (binatang bumi yang sifat). Manunggé adalah binatang yang merupakan ciptaan Tuhan untuk maksud yang khusus. 

Manunggé diduga tersebar di berbagai daerah di dunia hanya saja namanya berbeda sesuai dengan bahasa setempat. 

Manunggé secara umum dianggap sebagai binatang mitologi di mana hanya berada di dalam dunia fantasi semata. Meski demikian, ada pula orang yang menyakini manunggé itu sungguh ada di dunia nyata. 

1.2 Bentuk.

1.2.1 Ciri Khusus.

Manunggé memiliki ciri-ciri khusus, yaitu seperti ular biasa pada umumnya, di kepalanya terdapat mahkota yang bercahaya mengkilat, kakor (berkokok), panjangnya tidak sampai semeter. Warnanya gelap.

1.2.2 Pembentukan.

Manunggé dibentuk dengan melewati tahapan, seperti kaka ta'a (ular hijau), liko dango (ular hijau yang ekornya sudah mulai menghitam), mbawarani (hitam), manunggé. Ketika bertumbuh menjadi mbawarani, jarang dilihat oleh manusia. Mbawarani sudah mengarah menjadi binatang supranatural.

1.2.3 Sifat.

Manunggé sifatnya tersembunyi. Kehadirannya dalam dunia nyata sebagai tanda ajal dan kematian. Tidak senantiasa terlihat dan selalu menyembunyikan diri dari manusia. Kehadirannya dalam dunia nyata bersifat pribadi dan dinyatakan melalui pesan mimpi. 

Sama halnya dengan manunggé, mbawarani juga demikian amat tersembunyi dan sebagai tanda kematian. Bagi yang memiliki guru (mantra khusus), manunggé dapat dijinakkan walaupun perkataan ini masih anggapan karena amat sulit diterima akal masyarakat milenial.

1.3 Habitat.

Manunggé berada di pong cengit (daerah mata air yang memiliki rawa-rawa), di berada di hutan dan pengunungan. Dapat pula berada di dekat pemukiman warga hanya saja tidak kelihatan. Kehidupannya di dalam gua-gua dan berada di dalam tanah. 

1.4 Asumsi.

Manunggé diasumsikan sebagai londé. Londé biasanya terbang di pagi hari, saat subu. Bentuknya seperti bola api terbang dan ular terbang tetapi berwarna merah. 

Londé sebagai pengkabar kematian dan dianggap sebagai roh yang mencabut nyawa manusia. 

1.5 Tugas dan Fungsi.

Manunggé bertugas untuk menjadi eksistensi alam terutama mata air dan hutan-hutan. Ular hijau awalnya hidup di semak-semak, memakan tikus, kadal, katak. Pada tahap menjadi mbawarani dan manunggé, eksistensinya yang serba supranatural sulit diketahui apa makanannya. Manunggé diduga bertugas menggerakkan biji-biji dan tetumbuhan agar tumbuh subur. Dan melalui kekuatannya, hama dapat dijauhkan.

1.6 Kekuatan.

Manunggé tidak memiliki kekuatan sendiri. Manunggé hanyalah ular hijau biasa tetapi tingkatannya yang bisa selamat dari metamorfosisnya membuat eksistensinya serem menurut manusia. Manunggé diberi kekuatan oleh Roh sehingga menjadi supranatural. Manunggé adalah energi bumi yang berasal dari dalam bumi untuk menggerakkan.

1.7 Makanan.

Karena ini tulisan analogi, manunggé yang sifatnya supra tidak memiliki makanan jasad atau fisik. Sama seperti roh-roh halus lainnya yang mana makanannya adalah nyawa manusia. 

1.8 Eksekutor Mantra.

Manunggé diduga sebagai eksekutor mantra. Artinya, semua racun hewan berbisa dapat ditangkalnya. Sama seperti karena terangnya, ia memberi kekuatan sebagai penjaga untuk memberi kesuburan.

BAB II. PERSPEKTIF

2.1 Budaya.

Menurut asumsi budaya, manunggé adalah kekuatan alam bawah tanah. Dalam budaya Manggarai, ada sebutan naga tanah. Naga tanah itu bercahaya. 

Dapat dianalogikan, karena manunggé itu bercahaya, naga tanah yang dipercaya itu adalah manunggé. Naga tanah adalah pemberi kekuatan, rezeki dan berkat bagi suatu daerah.

Dalam budaya Manggarai, ritual takug naga mbaru, takung naga golo kerap dilakukan. Maksudnya, boto goro bongkok, gege leles, lekas lepas (rumah menjadi kuat dan kokoh). Selain itu, orang yang mendiami rumah diberi kesejukan, betah dan ketenangan. 

Pratik budaya takung naga tana diduga memohon bantuan manunggé untuk berkomunikasi dengan dengan makhluk, hewan dan binatang mempengaruhi mereka menjauh dari tanaman yang ditanam oleh manusia. 

2.2 Agama.

Dalam kejadian, kisah adam dan hawa di sana dijelaskan tentang ular yang melambangkan setan. Di sana ular berbicara. Di sini, apakah itu ular sanca ataukah justru manunggé yang menguji manusia? 

Dalam Hindu, apakah manunggé identik dengan tatsaka? Dalam kebudayaan China, apakah manunggé adalah naga barong?

2.3 Pemikir Kontemporer.

Masa kontemporer, segala perkara terkait mistis adalah hal yang absurd. Orang-orang lebih bergeliat pada hal-hal yang faktual, bukan fiksi, imajinatif, utopis dan fantasi.  

Sesuatu yang bersifat mitos dijauhkan. Apa pun harus bersifat faktual kendati masih ada orang yang percaya pada kekuatan roh-roh alam. 

BAB III. KOMPARASI

3.1 Naga.

Cerita tentang naga, seperti naga brola, naga baruna apakah merupakan representasi dari manunggé? Manunggé tidak bertanduk sebagaimana digambarkan para pelukis zaman postmodern. 

Tetapi banyak kisah, penglihatan dan mimpi di mana ada ular yang memiliki mahkota di kepalanya. Manunggé yang sifatnya supranatural sulit diketahui perubahan selanjutnya setelah statusnya menjadi manunggé. 

3.2 Api.

Manunggé memiliki cahaya di kepalanya. Itu dapat dikatakan, ia memiliki api dari eksistensinya yang supra itu. Secara logika, kepalanya yang bermahkota cahaya dan oleh karena kekuatan yang dimilikinya, ia sudah barang pasti bisa hidup dalam tiga dunia, di lautan, gunung berapi, terbang dan hutan belukar.

BAB IV. ANALOGI

4.1 Versi Manggarai.

Orang Manggarai mengenal naga tanah. Naga tanah itu memiliki cahaya. Lazimnya, agar sebuah gendang berdiri makmur digelarlah ritual takung naga golo. 

Kemudian, manunggé diceritakan amat menyeramkan dan bahkan dijuluki kakartana (poti). Karena stigma yang disematkan, manunggé kemudian menjadi makhluk yang ditakuti karena cerita tentangnya pasti seputaran ajal. 

Menurut orang Manggarai, naga mbaru dan naga golo itu bercahaya. Bagi yang mempunyai ilmu kanuragan dan sakti mandraguna, mereka bisa melihat naga tanah yang bercahaya dari dalam tanah. Tidak semua orang mampu melihat itu kecuali orang-orang terpilih saja. Tentu itu semua sesuai dengan kehendak Yang Kuasa.

4.2 Kisah Jawa Kuno.

Banyak kisah Jawa Kuno terutama yang paling terkenal adalah Raja Malwapati, Angling Dharma. Kisah epik Jawa itu mengisahkan bagaimana Naga Brola memberi sebuah ajian senyawa atau ajian gening kepada Angling Dharma. 

Raja Angling kemudian mengetahui semua jenis bahasa binatang. Banyak kisah lain di Jawa tetapi yang paling tersohor adalah kisahnya yang hebat. 

Apa yang dimiliki oleh Raja Angling, tahun 1900-an di Ruteng juga ada orang yang memiliki ajian serupa. Ajian itu diberikan oleh seekor belut. Sama halnya dengan kisah-kisah awal totemisme di Manggarai di mana orang-orang zaman dulu dapat berbicara dengan binatang. 

Kebiasaan bermalirupo juga hal biasa. Hal mana seperti kisah Empo Siuk orang Wangkung yang berceki cik petola. Cik petola hanya ada di pong cengit. Sangat susah untuk melihatnya.

Mitologi yang paling menarik juga adalah soal ratu pantai selatan. Ratu pantai selatan dalam tradisi Jawa selalu berhubungan seekor naga. Hal inilah yang perlu dicocok-cocokkan apakah itu wujud dari manunggé? Manunggé bukan lagi dilihat sebagai yang serem tetapi juga penyeimbang. 

Apakah Manunggé juga adalah Dewa Baruna, naga Baruna? Lukisan-lukisan naga bertanduk berbeda dengan Manunggé yang bertugas menjaga keseimbangan alam. Lukisan cukup membuat tafsiran menjadi bingung. 

4.3 Menurut Hinduisme dan Budha.

Dalam Hindu terdapat gambaran Sri Kresna atau Dewa Visnu yang bersandar di tubuh ular yang berkepala delapan. Tetapi ular itu adalah ular kobra. 

Menurut pengetahuan orang Manggarai, dari semua jenis ular yang berubah bentuk hanya ular hijau. Ular lainnya tidak berubah menuju kesupraan. Ular yang lain diciptakan bentuknya sama sejak lahir sampai ular itu mati. Ular kobra hanya ukuran panjangnya yang bertambah begitupun ular sanca. Berbeda dengan ular hijau, ular hijau berubah bentuk menjadi pendek tetapi kemudian menjadi manunggé. 

Lukisan-lukisan ular kobra tentu sesuai dengan tradisi India di mana Dewa Siva berkalungkan ular kobra. Ular kobra di leher Sri Siva sebenarnya adalah Dewa juga tetapi bermalirupa seperti ular. 

Dalam sejarah Hindu, dikenal dengan ular tatsaka (ular berkepala manusia). Tatsaka dalam kisah epik Mahabharata membantu kelompok Duruyudana. Bahkan untuk menyerang Pandawa, ular-ular terbang dikirim untuk menghantam Arjuna.

4.4 Tradisi China.

China khususnya Tiongkok memiliki tradisi yang sama. Kisah-kisah Sun Go Kong  dengan Biksu Tang atau perjalanan ke timur kaitannya Dewi Kwan Im juga menggambarkan tentang naga. Kisah ini tentu berada di planet bumi. 

4.5 Tradisi Jepang.

Orang-orang Jepang juga mengenal yang namanya naga. Negara Shinto di mana bagi mereka Tuhan adalah terang. Di sana ada pemahaman masyarakat lokal soal naga.

4.6 Pandangan Eropa.

Orang-orang Eropa pada umumnya tidak yakin dengan dunia mitos. Mereka masyarakat sains yang bergantung sepenuhnya pada akal budi. Bagi mereka ular apa pun hanya ciptaan. 

Masyarakat Eropa hanya percaya pada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu. Ular apa pun adalah ciptaan Tuhan semata.

4.7 Mitologi Yunani Kuno.

Dalam budaya Yunani Kuno, ular adalah simbol dewi kesuburan. Hanya saja apakah yang dimaksudkan adalah manunggé? 

Ini adalah pertanyaan penting bagi generasi milenial untuk mencaritahu soal keberadaan manunggé relasinya dengan kepercayaan masyarakat di belahan dunia lainnya.

4.8 Tafsiran Agama.

Banyak tafsiran agama soal naga. Bagi agama Islam dan Kristen, naga simbol setan, kehancuran. Dalam agama samawi, ular adalah pembawa sial. 

Ular pun diidentikkan dengan maut. Tidak ada tempat bagi yang namanya ular untuk dihormati. Mengacu pada Wahyu Yohanes, ular disimbolkan sebagai kiamat, murka Allah. 

Berbica tentang ular tentu topik yang tidak diinginkan karena stigma apalagi kisah awal tentang kisah penciptaan manusia, ular adalah tokoh antagonis yang dibenci oleh kelompok agama. Apa peran peran penting ular tidak dibicarakan dalam agama. 

Ditilik dari sisi pertanian, orang Yunani malahan melihat ular sebagai dewi kesuburan. Mengapa? Hadirnya ular justru membuahkan hasil yang melimpah. 

Padi dengan hasil yang berlimpah ketika ada ular di dalamnya, maka tikus-tikus tidak berkeliaran. Burung-burung pipit pun ketakutan. Pandangan tentang ular amat berbeda untuk tiap budaya.

Bagi masyarakat Hindu, ular kobra sangat dihormati karena ada hubungannya dengan Dewa Siva (Trimurti). Yah, tergantung pemahaman masing-masing daerah. 

BAB V. EKSISTENSI SUPRANATURAL

5.1 Cara Berada.

Cara berada manunggé tergantung Roh. Kekuatan yang berasal dari Roh membuatnya berguna. Mahkota di kepalanya melekat pada hukum determinan. Hukum determinan adalah hukum pemberian. 

Artinya, Yang Kuasa adalah pemberi kekuatan melalui representasi Roh. Manunggé juga adalah binatang bermalirupa. Roh adalah kekuatan utama manunggé karena itu ia bertugas untuk menjaga keseimbangan alam.

5.2 Relasi.

Manunggé tentu saja memiliki relasi dengan makhluk halus lainnya. Dengan belut besar seperti gendang (tuna gendang) memiliki relasi satu sama lain. Mereka adalah bangsa ular. 

BAB VI. REPRESENTASI

6.1 Pemelihara.

Manunggé adalah pemelihara, penyeimbang sekaligus penyelaras alam. Di mana hal itu sesuai dengan kehendak Yang Kuasa, Allah yang maha tinggi. 

Sebagai pemelihara, ia berhak menegur sekaligus memberi hukuman ketika alam dirusak oleh tangan manusia. 

6.2 Simbol Kedewasaan.

Manunggé adalah simbol kesabaran, mawas diri dan kedewasaan. Dalam penempaannya yang panjang, ia diuji sampai tahap tertinggi di mana ia menemukan identitasnya. 

Ziarah ular hijau tidak mudah. Tentu banyak tantangan sampai ke tahap manunggé. Tantangannya adalah manusia, binatang buas lainnya, bencana alam seperti kebakaran hutan. 

Kucing hutan termasuk menjadi pemangsanya. Belum lagi faktor alam yang lain yang membuat proses pembentukan jati dirinya bisa kandas di tengah jalan. Jadi, tidak gampang ditapaki untuk menjadi sempurna.

6.3 Kekuatan Alam. 

Manunggé memberi kekuatan pada alam. Menggerakkan kehidupan sesuai tugasnya yang ia emban dari Tuhan. 

Manunggé tidak bergantung pada kekuatannya sendiri terutama pada saat statusnya yang hanya sebagai ular. Ular tak ubahnya binatang melata. Bentuknya yang tidak berdaya simbol kesabaran. 

Ia bergegas dengan perutnya menapaki hidup. Ziarah hidupnya sama yaitu menanti belas kasihan dari Yang Mahakuasa tetapi kekuatan alam dilimpahkan kepadanya sebagai satpam. 

BAB VII. REALITAS TERTINGGI

7.1 Manifestasi Ilahi.

Manunggé sebenarnya adalah manifestasi Ilahi. Manunggé adalah cahaya Ilahi itu sendiri. Sama seperti manusia adalah citra, demikianpun manunggé adalah manifestasi Ilahi.

7.2 Triesa.

Manunggé adalah manifestasi Triesa. Triesa adalah Allah Tritunggal Mahakudus. Bukan hanya manunggé, setiap makhluk baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan berasal dari Triesa itu. 

Semua kekuatan makhluk berasal dari Triesa. Atas izinNyalah, apa pun memiliki kuasa di bumi. Triesa selalu berada di dalam setiap makhluk.

BAB VIII. KISAH NYATA

Manunggé adalah sejenis binatang supranatural yang sangat sulit dijumpai oleh manusia di dunia nyata. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya. 

Melihatnya tak ubahnya seperti mimpi dan merupakan pengalaman yang paling menarik selama berziarah di muka bumi. Apabila setelah melihatnya dalam dunia nyata masih diberi umur panjang, maka dipastikan itu adalah sukacita yang hebat. Mengapa? Melihat binatang itu identik 
dengan sial dan kematian walau ada yang pernah menjumpainya secara langsung tetapi orang itu masih hidup. Itu adalah berita yang mencengangkan. Manunggé oleh sebagian orang adalah binatang yang hanya ada dalam dunia
mitologi tetapi justru ada orang yang pernah bertemunya secara langsung nyaris beberapa meter saja (6 meter).

Menurut pengetahuan orang Manggarai, manunggé
adalah ular yang merupakan perubahan bentuk atau
metamorfosis keempat. Sebelum menjadi manunggé, prosesnya cukup panjang hingga ke tahap itu. Tahapan metamorfosisnya, yaitu ular hijau, liko dango, mbawarani dan terakhir berwujud manunggé. Tahap ketiga, yaitu mbawarani. Saat menjadi mbawarani, binatang itu 
sudah mulai tidak kelihatan oleh mata manusia. Siapapun yang dapat menjumpainya sudah pasti orang itu menemui ajalnya. Hanya dengan melihatnya, sudah pasti ajal menjemput apalagi digigit. Sedangkan, tahap kedua yaitu liko dango adalah tahap ular biasa. Tahap ini masih dijumpai oleh  orang-orang. Warnanya masih hijau tetapi ekornya sudah mulai berwarna hitam. Artinya, kalau digigit sudah pasti badan membengkak. Jika tidak ditangani, sangat berbahaya bagi keselamatan manusia apalagi ular hijau termasuk jenis ular berbisa.

8.1 Guru Penawar.

Jika digigit ular hijau, orang-orang 
dapat menangkalnya dengan obat-obatan. Para 
tabib sangat lincah mengetahui ramuan apa yang 
pas untuk menangkal racun ular hijau. Pada umumnya, bara api (ratung api) adalah penangkal terbaik untuk  membunuh racun ular hijau. Sama seperti apabila disengat lebah (ngkuang), racunnya yang panas dapat ditangkal dengan bara api. Racun ular tidak berdaya apabila berhadapan dengan api. Berbeda dengan ular kobra, racunnya cepat menyebar sehingga bara api yang terlambat
sudah pasti tidak menyelamatkan nyawa. Racun ular kobra, pasalnya cepat menyebar ke seluruh tubuh.

Walau racun ular hijau atau kobra berbahaya, 
seperti halnya di daerah lain, guru (mantra) adalah cara terbaik agar terhindar dari gigitannya.
Mantra ular hijau, ada dua jeni,  yaitu guru hesing
(mantra untuk menghindar) dan guru akit (mantra 
penyembuhan pasca digigit).  Tanpa pengobatan 
herbal ataupun medis, racun bisa ular hijau tidak 
berfungsi sama sekali di dalam tubuh. Orang-orang di Manggarai kerap menggunakan mantra apabila mereka hendak ke hutan atau ke kebun. Bukan hanya mantra ular hijau, mantra-mantra lainnya juga dipakai. Bahkan, teknik sungké juga dipakai sebagai perisai dari gigitan binatang-binatang mematikan.

Di hutan, selain binatang berbisa ada juga tetumbuh-
an yang berbahaya apabila tersentuh.  Contohnya, 
lanteng (dalam bahasa Manggarai). Lanteng ada dua jenis, yaitu lanteng haju (pohon yang daunnya terasa gatal bila tersentuh) dan lanteng wasé (sejenis tanaman rambat). Biasanya, untuk menghindari lanteng, mantra adalah senjata terbaik. Tidak hanya guru lanteng, orang Manggarai juga menggunakan guru agar terhindar dari makhluk-makhluk halus yang mengusil. Mereka memakai 
mantra untuk menjauhkan makhluk halus. Mantra biasanya didapat melalui mimpi atau diwariskan dari nenek moyang. Mantra biasanya amat ampuh menghadapi tantangan di hutan, baik saat berburu, mencari kayu api maupun saat mencari pohon untuk dijadikan balok.

8.2 Tuhan Sayang Manusia.

Kendati Tuhan menciptakan binatang buas dan berbisa begitu pun tetumbuhan yang berbahaya, Yang Kuasa juga memberikan penawar, baik tanaman herbal, benda-benda seperti batu mau-
pun mantra-mantra penawar.  Di satu sisi, Tuhan begitu tega menciptakan benda-benda berbahaya, namun kasihNya tetap ada untuk manusia. Tuhan pula yang mengajarkan manusia mantra-mantraNya dalam pelbagai bahasa di muka bumi. Ajaran mantra bisa dapat melalui nipi/raja wié (mimpi) bisa juga didapat melalui raja leso (diajar secara langsung). Tuhan sayang pada manusia
dibuktikan dengan turunnya sabda suci yang diajarkanNya secara langsung. Memang, untuk mendapatkan mantra harus dicari ataupula didapat karena rahmat terberi.  Kecuali apabila ada upaya 
dari orang-orang untuk mencari mantra kepada orang-orang yang memilikinya. Mantra kerap juga diucapkan dalam hati saja berupa komunikasi intrapersonal (humit - dalam bahasa Manggarai).

8.3 Kesaksian.

Manunggé adalah binatang mitologi sekalipun itu nyata. Berdasarkan penuturan berbagai sumber, manunggé adalah ular yang bermahkota. Mahkota di kepalanya lebih besar dari tubuhnya. Mahkota di kepalanya bersinar. Kurang lebih sinar yang keluar dari mahkota di kepalanya berkedap-kedip seperti
lampu sirene mobil patroli polisi atau ambulance. Terkadang, sebelum berjumpa dengannya pada siang hari, ada proses perjumpaan raja wié. Seseorang yang berjumpa dengan manunggé dapat saja pada malam hari bermimpi bertemu dengan laki-laki berjubah putih. Sumber yang diperoleh Penulis, seorang perempuan yang berjumpa dengan manunggé itu salah satu kelopak matanya sela (semacam buta atau katarak). 

Perempuan itu berjumpa dengan manunggé pada siang hari di kebunnya. Malam hari ia bermimpi seorang pria berjubah putih menegurnya mengapa dirinya membakar kebunnya. Perempuan itu menjawab, ia hanya ingin membersihkan kebunnya. Siang hari saat ke kebun, betapa kaget perempuan itu melihat ular bermahkota terang di kepalanya itu. Peristiwa nyata itu terjadi di Kisol, Waé Korok. Saat perjumpaan itu, si ular tidak berkata apa-apa, hanya baku tatap berjarak 6 meter. Sejak peristiwa itu, perempuan itu hingga sekarang matanya katarak. Sebelum manunggé itu pergi, ia terlebih dahulu kakor (berkokok). Yah, bentuknya seperti ular tetapi panjangnya tak sampai semeter hanya kepalanya memiliki mahkota. Mahkotanya lebih besar dari kepalanya. 

Menurut seorang sumber, Sobina Sidung dari Sampar yang dituturkan kepada Penulis, manunggé adalah perubahan bentuk yang keempat. Menurut cerita, ada seorang laki-laki di Mbélaing kemudian meninggal karena digigit mbawarani. Banyak cerita tentang bertemu ular dalam dunia nyata misalnya kobra atau ular sendok, yah pada malam hari bermimpi bertemu dengan suster (biarawati/nun). 
Mimpi yang adalah bunga tidur, terkadang susah digubris oleh seseorang karena tidak tahu menganalisa kecuali oleh ahli tafsir mimpi.
Yang pasti bahwa mimpi adalah teka-teki, butuh analisis kalaupun mimpinya masih diingat. Pasca kejadian nyata baru menyadari mimpi semalam atau sebelumnya apalagi bukan ata waé nggéreng (ahli nujum).

Raja wié atau mimpi, bagi orang awam tentu tidak 
dianalisa karena selain tidak paham, ada pikiran
hanya membuang-buang waktu. Menurut beberapa
sumber, mimpi yang terus-menerus butuh didiskusikan ke orang mata gérak. Pasalnya, memberi kabar tertentu. Dalam budaya Manggarai, terkadang ditafsir lalu dibuatlah ritual adat kando nipi da'at (ritual tolak bala). Tetapi, mimpi yang hanya sekali tampaknya susah untuk dipikirkan 
karena berbagai kesibukan. Yah, mimpi mengandung pesan tetapi pesannya teka-teki. Karena teka-tekinya itu, orang-orang kemudian tidak mau ambil pusing. Contohnya peristiwa yang sebagaimana dialami oleh seorang perempuan di Kisol beberapa tahun silam yang namanya dirahasiakan Penulis. Tentu ada juga orang zaman lampau yang mengalami perjumpaan dengan manunggé hanya saja tidak diceritakan.

Manunggé dipercaya menempati daerah-daerah rawa-rawa dekat mata air, di hutan-hutan lembab. Manunggé diduga sebagai pelindung hutan dan mata air.


PENUTUP

Tulisan ini sebagai bahan informasi tentang sisi lain kehidupan orang Manggarai. Orang Manggarai 
yakin benar bahwa manusia hidup berdampingan dengan roh alam. Orang Manggarai juga percaya
bahwa ada intervensi dari pihak lain soal kesuburan. Praktik ngelong dan takung adalah catatan tebal 
orang Manggarai. Orang Manggarai yakin sekali adanya Tuhan yang representatif. Karena itu, ritual adat pra dan pasca panen pastidilakukan. Hasil yang melimpah bagi orang Manggarai terjadi karena intervensi Yang Kuasa. Jika ada binatang di tanah yang menderita, mereka meminta maaf dengan dibuatnya ngelong.Dewa kesuburan dihormati dengan cara takung (meminta perlindungan)
atas segala niat dan karya. Bukan menyembah berhala.

Dengan demikian, manunggé adalah binatang yang nyata yang juga memiliki hak untuk dilindungi dan dihormati.

Pembaca disarankan untuk menggali dan mencari refrensi tambahan tentang binatang mitologi dalam budaya atau daerah-daerah lainnya di nusantara dan dunia. Mengapa? Tulisan ini masih perlu refrensi pembanding atau analogi lainnya. Dan tulisan masih perlu disempurnakan secara terus-menerus menuju ke kesempurnaannya karena harus disandingkan dengan pelbagai pandangan dan budaya di dunia. 

REFRENSI

1. Pengalaman pribadi.
2. Wawancara.
3. Buku-buku.
4. Tradisi.
5. Agama

Penulis:
Melky Pantur.
Ruteng.
Senin (8/4/2022).




17/04/22

Kajian Teoritik: Identitas yang Dipertuankan dalam Budaya Orang Manggarai



Melky Pantur
 
DAFTAR ISI

Pengantar
Pembahasan
I. Pendahuluan
II. Identitas yang Dipertuankan dalam Budaya Orang Manggarai
2.1 Arti Kata dan Penjelasan
2.1.1 Mori
2.1.2 Keraéng
2.1.3 Adak
2.1.4 Tu'a
2.2 Identitas Status.
2.2.1 Mori Adak.
2.2.2 Keraéng Tu'a.
2.2.3 Keraéng Mori.
2.2.4 Keraéng Adak.
2.2.5 Tu'a Adak. 
2.3 Unsur Ketuhanan.
2.3.1 Pandangan Realitas Tertinggi.
2.3.2 Mori Keraéng.
2.4 Aktivitas Ritual.
2.4.1 Adak Mori.
2.4.1.1 Relasi Manusia.
2.4.1.2 Relasi dengan Leluhur.
2.4.1.3 Relasi dengan Alam
2.4.1.4 Relasi dengan Roh Alam
2.4.1.5 Relasi dengan Tuhan
2.4.2 Adak Keraéng.
2.4.2.1 Berstrata Tinggi.
2.4.2.2 Masyarakat Biasa.
III. Penutup
Refrensi

                               KAJIAN    


Pengantar
Pembahasan

I. Pendahuluan

Sebelum membahas tulisan ini, ada tiga hal penting yang perlu dicermati sebagai kategori yang saling bertautan, yaitu identitas status, ketuhanan, dan aktivitas ritual. 

Identitas status berkaitan dengan predikat Mori Adak, Keraéng Tu'a, Keraéng Mori, Keraéng Adak, dan Tu'a Adak. Unsur ketuhanannya seperti sebutan untuk realitas tertinggi orang Manggarai adalah Mori Keraéng. Sedangkan, sebutan aktivitas ritual yang ada hubungannya dengan identitas status tampak dalam frasa adak mori, adak keraéng. 

Tulisan ini mengangkat tema: Identitas yang Dipertuankan dalam Budaya Orang Manggarai, yang mana kajiannya untuk mempermudah generasi milenial termasuk kelompok-kelompok sporadis dari Nuca Lalé ataupula bagi keraéng-keraéng pendatang yang ingin mencari ilmu pengetahuan ataupun para pendatang yang sekedar mencari nafkah di Nuca Lalé. Tugas generasi asli menulis dan menarasikan itu agar diketahui. 

II. Identitas yang Dipertuankan dalam Budaya Orang Manggarai

2.1 Arti Kata dan Penjelasan

Sebelum mengkaji lima identitas di atas, hal pertama adalah membahas 4 (empat) kata kunci untuk menjelaskan sebutan identitas sosial: Mori, keraéng, Adak, Tu'a.

2.1.1 Mori

Mori artinya Allah, Tuhan. Mori juga berarti tuan. Bila ditambah dehakamenpresty n, maka menjadi morin. Morin artinya pemilik. Contoh sebutan: Mori jari (Tuhan penumbuh dan pemelihara).

2.1.2 Keraéng

Keraéng artinya seseorang yang dituakan, dipertuankan, diperpuankan. Keraéng adalah panggilan untuk status sosial yang dituakan, dihormati. Kata keraéng bisa untuk jenis kelamin laki-laki, bisa untuk jenis kelamin perempuan. Misalnya, frasa keraéng Ema (bapak-bapak), keraéng Endé (ibu-ibu). 

2.1.3 Adak

Adak artinya Raja. Adak juga dapat berarti ritual (suatu rentetan aktivitas ritual). Misalnya, adak wé'é mbaru (ritual adat atas terselesainya pembangunan sebuah rumah). Adak berkonotasi Raja, misalnya sebutan Adak Todo (Raja Todo). Adak bagi orang Manggarai bukanlah Raja karena Adak orang Manggarai menganut sistem trias partiarkif dialogis. 

2.1.4 Tu'a

Tu'a artinya besar, yang diagungkan. Tu'a berbeda dengan tua. Tua artinya muncul. Tu'a dapat berarti usia tua. 

2.2 Identitas Status.

Terdapat lima sebutan identitas (status) yang dipertuankan dalam budaya orang Manggarai, antara lain:

2.2.1 Mori Adak.

Frasa Mori Adak adalah predikat untuk sebutan Raja yang dihormati. Terjemahan lain, frasa ini mau menjelaskan Tuhan adalah Raja. Predikat lainnya adalah tuan dari para Raja adalah Tuhan, Allah. Bila ditulis Morin Adak, maka ini adalah frasa ekspresif di mana Tuhan adalah pemilik dari Raja, yang memilih dan mengangkat seseorang menjadi Raja. 

Konteks budaya dan tradisi, sebutan Mori Adak menunjuk pada identitas tertinggi strata sosial kemasyarakatan. Mori Adak dapat diartikan sebagai para Raja. Sebutan Adak orang Manggarai bersifat partiarki, sehingga menunjuk pada sifat kepriaan. Tradisi Manggarai menganut sistem kelas subordinatif kendati hanya dalam urusan kedudukan (jabatan) dan pemecahan masalah (problem solver) saja. 

Sebutan Mori Adak agak enggan digunakan dalam konteks kaitannya dengan status puteri Raja atau putera mahkota walaupun orang Manggarai asli tidak mengenal istilah Raja. Adak sebetulnya bukan merujuk pada kata Raja karena orang Manggarai tidak mengenal kata Raja yang selalu berkonotatif penuh haus kuasa, tiran dan diktator. Raja adalah predikat sosial terapan yang diambil dari sistem kepemimpinan di negeri lain. Sifat Raja sangat absolut dan perkataannnya adalah undang-undang. 

Berbeda dengan Adak orang Manggarai. Adak orang Manggarai bukanlah Presiden sebagaimana dianut dalam sistem presidensil. Sistem pemerintahan demokrasi terpimpin mirip Raja yang absolut. Baik sistem presidensil, demokrasi terpimpin maupun bersistem Raja tetap tidak sama dengan sistem Adak orang Manggarai. Trias Politica juga tidak sama dengan sistem Adak orang Manggarai. Presiden mengangkat yudikatif berdasarkan persetujuan legislatif. Sistem pengangakatan ini berbeda dengan sistem Adak orang Manggarai. 

Adak orang Manggarai terdiri atas Tu'a Golo, Tu'a Gendang dan Tu'a Teno. Ada pula sebutan Tu'a Béo, Tu'a Panga, Tu'a Kilo. Konteks Cibal, ada pula nama status Adak lazim disebut Tu'a Lumpung. Adak tertinggi ada tiga, yaitu Tu'a Golo, Tu'a Gendang, Tu'a Teno. Tugas dan fungsi dari Tu'a itu diatur secara lisan. Kasus pidana diurus oleh Tu'a Gendang. Kasus perdata diurus oleh Tu'a Teno bersama Tu'a Gendang. Tu'a Golo mengurus masalah berkaitan dengan kasus-kasus dengan gendang lainnya. Tu'a Golo adalah orang pertama yang membuka kebun dan mendiami salah satu kampung adat. Tu'a Golo adalah pemimpin tertinggi. 

Predikat Tu'a di atas itulah yang disebut dengan Mori Adak walau dalam kondisi lain, sebutan Mori Adak bisa juga untuk penyematan terhadap tamu kehormatan. Era abad 21, sebutan Mori Adak amat luas digunakan. Pejabat negara dan orang-orang yang dituakan dapat dipanggil sebagai Mori Adak. Dalam satu acara adat misalnya, tongka (jubir adat) dapat dipanggil Mori Adak. Hal mana pemakaiannya dalam interaksi sosial dapat digunakan secara umum dan massif situasional. Konteks memasukkan unsur ekspresi itu sebetulnya sebagai bentuk sentimen pemertuaan, penghargaan dan pemosisian diri terhadap identitas sosial baik umum maupun situasional terhadap subjek yang merasa perlu dipertuakan.

2.2.2 Keraéng Tu'a.

Frasa ini lazim dipakai dalam strata, interaksi dan relasi sosial. Amat erat kaitannya dengan prinsip pemertuanan. Keraéng Tu'a menunjuk pada identitas partiarkif (maskulinisme). Dalam kaitannya dengan kelompok srikandi, ucapan yang populer digunakan adalah keraéng Endé. Etika komunikasi sosial, baik komunikasi interpersonal maupun komunikasi sosial umum, dalam diskusi kelompok dan dialog, prinsip-prinsip etika pasti terlontar secara reflektif. Rasa etis bisa saja dipakai lalu muncul ekspresi-ekspresi bukan penyetaraan identitas dengan sebutan keraéng Endé

Predikat untuk status Keraéng Tu'a biasanya orang yang dituakan, seperti: Bapak kandung, kakak kandung, subjek-subjek sosial yang memiliki pengaruh sosial, baik karena etos kerja, pembawaan sosial maupun strata sosial. Penyematan status keraéng tu'a terhadap seseorang bisa ditempatkan pada orang yang umurnya lebih kecil yang hanya karena strata sosialnya, maka penyematan itu pantas diterimanya. Siapapun dapat dipanggil keraéng tua tergantung strata dan rasa mut (perasaan seseorang yang tiba-tiba senang terhadap subjek tertentu). 

Masa lampau, sebutan keraéng tua erat kaitannya dengan strata. Misalnya, status Adak. Kelaziman dan ngancek géal (biasa diungkapkan) apalagi konteks zaman milenial, seseorang wajar mendapat predikat keraéng tu'a apabila berprestasi dan masih dalam kategori konglomerat. Keraéng Tu'a masa lampau amat feodal. Masa kini (2022), pencatutan itu sudah amat situasional. Panggilan keraeng tu'a terkadang sengaja dihembuskan dengan maksud terciptanya relasi intimitas antara komunikan dan komunikator dalam percakapan formal dan informal. Tujuannya komunikasi responsif, dialogis dan diskursus berjalan sesuai asa komunal.  

2.2.3 Keraéng Mori.

Keraéng mori nyaris sama dengan sebutan umum. Konteks tertentu, ekspresi keraéng mori sifatnya tidak terikat pada usia dan strata sosial seseorang. Sifat ekspresinya fleksibel dan kontekstual dan umum.

Sebutan keraéng mori bisa menunjuk pada entitas sosial yang tidak ada relasi atau sangat berjauhan satu sama lain. Misalnya sebutan ini: Keraéng mori lau Amerika, Eropa, Asia. 

Kendati sebutan itu juga menunjuk pada keprerogatifan Tuhan, di mana Allah adalah tuan, namun tidak lumrah memang dipakai dalam interaksi sosial harian tetapi lazim digunakan dalam situasi-situasi khusus dengan penekanan pada sebutannya. 

Sebutan keraéng mori sifatnya khusus dan nilai estetik linguisnya halus, sopan dan sederajat. Sebutan itu menunjukkan peramahan, intimitas absolut, tanpa beban, dekat, akrab dan penuh perkoncoan. Walau amat halus, bagi yang tidak biasa mendengar (subjek yang dipredikat) bisa merasa gerah, minder dan kaku karena sesuatu ketidaklaziman. Lama-lama akan menjadi sapaan perekatan pertemanan.  Berbeda dengan panggilan keraéng tu'a karena terlalu kental dan stratif berbeda dengan panggilan keraéng mori yang amat cair dan arif. 

2.2.4 Keraéng Adak.

Sebutan ini lazim dipakai untuk sinis dan sindir. Semacam bahasa perendahan. Dalam komunikasi sosial, penekanan ungkapan ini sifatnya situasional tergantung subjek pengguna. Respon komunikan akan tidak baik apabila komunikator menggunakan ungkapan keraéng adak. 

Keraéng Adak adalah sebuah posisi, strata, jabatan, kedudukan bukan sebuah ekspresi komunikasi sosial. Keraéng Adak adalah entitas sosial. Entitas itu adalah tetua adat. Jadi, bukan ekpresi komunikasi sosial tetapi problem solver mandegnya interaksi sosial. 

Ketika komunikan dan komunikator menggunakan sebutan keraéng adak sebagai frasa dalam menyampaikan pesan, maka ada unsur perendahan terhadap status subjek. Ekspresi penyetaraan dan pemertuanan lazimnya memakai sebutan keraéng tu'a dan keraéng mori. Keraéng adak adalah ungkapan peremehan di bawah posisi kata hau (kau). Artinya, keraéng adak masih halus dari kata hau.

2.2.5 Tu'a Adak. 

Tu'a Adak adalah tokoh-tokoh adat, tetua adat, Adak Telu (Tu'a Golo, Tu'a Gendang dan Tu'a Teno). Tu'a Adak adalah nama dari strata sosial keadatan di Manggarai.

2.3 Unsur Ketuhanan.

2.3.1 Pandangan Realitas Tertinggi

Realitas tertinggi bagi orang Manggarai digambarkan melalui ungkapan ini: Mori agu Ngaran, Jari agu Dédék (Tuhan Pemilik, Penumbuh, Pencipta). Ungkapan lain untuk menyebut realitas tertinggi adalah parn awo kolepn salé; tanan wa, awangn éta (mulai terbit hingga terbenamnya; langit dan bumi).

Sebutan Yang Kuasa bagi orang Manggarai amat abstrak bukan person. Parn awo, kolepn salé adalah predikat tentang Allah yang menjadikan siang dan malam. Sebutan ini tentu sesuai dengan konteks eksistensi kehidupan dan wujud alamnya. Manggarai memiliki waktu siang dan malam masing-masing 12 jam. Khusus untuk predikat tanan wa, awangn éta, sebutan ini amat simbolik. Mengapa? Unsur kekelaminannya ada, yaitu kategori feminim dan maskulin.

2.3.2 Mori Keraéng.

Yang menarik dari gambaran tentang Allah menurut orang Manggarai adalah predikat Jari Dédék. Jari Dédék (Tuhan Allah) adalah sesuatu yang mencipta. Sesuatu yang mencipta tentu memiliki unsur idea, seni, arsitektur. Unsur-unsur dalam Jari Dédék, seperti: pemikir, estetika, dan desainer. Itu artinya bersifat inovatif dan kreatif. Terlepas jika dihubung-hubungkan dengan konsep agama berkaitan dengan kata "citra", itu penjelasan lainnya. Apabila manusia adalah gambaran Allah, citra-Nya, maka pengaruh teologi kristen di sini masuk. Yang pasti bahwa ekspresi Jari Dédék menurut orang Manggarai abstraktif. Upaya aufklarung analogi antara konsep adat, tradisi dan agama lazim dilakukan para teolog kontemporer. Di sini hanya sebatas menjelaskan tentang frasa berdasarkan konteks lokal saja. Upaya pencarian penghubungan tugas oleh pembaca sendiri.

Kemudian, identitas Allah oleh orang Manggarai kerap diungkapkan melalui gambaran maskulin dan feminim. Hal itu tampak dalam ungkapan: Amé rinding mané, Iné rinding wié. Ungkapan ini lebih condong ke person walaupun ungkapan ini kerap menegaskan bahwa ayah dan ibu adalah Allah yang kelihatan. Ayah dan Ibu oleh orang Manggarai adalah sosok Allah yang nyata.  

Sebagaimana sebutan keraéng bukan hanya untuk jenis kelamin laki-laki tetapi juga untuk jenis kelamin perempuan, maka nama Mori Keraéng terdiri dari sosok laki-laki dan perempuan. Jadi, Mori Keraéng adalah sosok yang memiliki dua jenis kelamin (yang dipertuankan dan diperpuankan). Menurut konsep ini, maka gambaran tentang Allah mengambil tipe laki-laki dan perempuan (Ayah Ibu). 

Allah yang seolah-olah vegetatif itu, dapat disetarakan dengan ungkapan Amé rinding mané, Iné rinding wié; kémbé lé, tadu lau; réa éta, cakat wa; raés salé, raop awo, ciki cimping. Artinya, Mori Keraéng digambarkan sebagai pelindung, perisai, penganyom siang dan malam. 

Ketika gambaran tentang Allah orang Manggarai bisa dipertegas oleh konsep-konsep ke-Allah-an menurut agama-agama, tentu itu sebuah tindakan analogif atau upaya pemertautan dua hal bisa dipertalikan yang kemudian mendapat benang merahnya. Hal itu misalnya, konsep ke-Allah-an dalam kekristenan dan hinduisme tetapi agar tidak mencocok-cocokan apalagi itu nanti panjang ulasannya dengan mengacu pada berbagai refrensi, Penulis menghindari pembahasan analogifnya karena tulisan ini hanya untuk menjelaskan frasa-frasa seturut konteks budaya Manggarai saja.

2.4 Aktivitas Ritual.

2.4.1 Adak Mori.

Frasa ini kebalikan dari frasa Mori Adak. Adak di sini erat hubungannya dengan ritual. Adak mori adalah suatu aktus terciptanya relasi dengan sesama, roh leluhur, alam, roh alam, dan Tuhan. Praktik-praktik riil adak mori tampak dalam ritual-ritual adat tertentu sesuai dengan subjek yang dituju atau meminta rezeki dan pengampunan. 

Praktik ritual adak mori, misalnya ritual selek dan caca selek, ritual ngelong, dan ritual barong. Ada banyak hal ritual adak mori sesuai jalur dan tujuannya. Berikut rinciannya:

2.4.1.1 Relasi Manusia.

Ritual adak mori kaitannya dengan manusia secara runut mulai dari céar cumpé hingga kélas. Disebutkan misalnya, sélék dan caca sélék, hambor, pongo, oké dara ta'a. Adak mori di sini amat klop dengan ritual berkaitan dengan strata sosial, misalnya ritus adat untuk keturunan tuan tanah (lord land).  

2.4.1.2 Relasi dengan Leluhur.

Sesajian terhadap leluhur dapat dimengerti sebagai adak mori. Bentuk ritualnya adalah téing hang wura agu ceki. Biasa juga disebut téing hang kolang. Ritual lainnya adalah takung waé cemok. 

2.4.1.3 Relasi dengan Alam.

Ritual yang dipakai di sini bisa dalam bentuk ngelong, kaér ulu waé (ritual di mata air) dan barong waé. 

2.4.1.4 Relasi dengan Roh Alam.

Orang Manggarai percaya bahwa setiap mata air ada penjaganya. Manusia menjalin relasi dengan penjaga itu. Ritual yang dibuat sebagai bentuk adak mori. Ritual yang dilakukan berupa takung. Takung di sini bukan lancung karena orang Manggarai percaya, roh penjaga mata air adalah representasi dari Jari Dédék.

2.4.1.5 Relasi dengan Tuhan.

Adak mori di sini bisa dalam bentuk ritual hambor asé ka'é weki, paki jarang bolong, penti, congko lokap, kaér ulu waé.

Jadi, adak mori adalah sebuah ungkapan yang ada hubungannya dengan ritual dan acara-acara baik menurut tradisi dan budaya setempat sesuai konteks.

2.4.2 Adak Keraéng.

Adak keraéng hampir mirip dengan adak mori hanya saja keraéng adalah predikat yang bersifat pemberian. Artinya setiap orang bisa diberi pangkat keraéng tetapi bukan mori. Keraéng adalah tuan, sedangkan mori adalah pemilik.  Lord land misalnya adalah terjemahan dari morin nuca (tuan tanah). Bisa juga pemilik lingko-lingko. Sedangkan, keraéng bisa sematan status kepada pendatang atau bukan lord land, bisa juga tamu kehormatan. 

Hal yang lazim misalnya curu keraéng atau kerap dilakukan acara tuak curu (penjemputan secara adat). Di sana tidak disebutkan curu mori tetapi curu keraéng. Ketika dikatakan curu mori, maka konotasinya mengarah ke realitas tertinggi. Karena yang dijemput adalah manusia yang berstrata, maka disebutlah istilah curu keraéng. Adak keraéng dan adak mori dalam runutan ritus-ritus hampir sama hanya saja kedua frasa itu masing-masing memiliki penekanan dan makna tersendiri yang tidak bisa diselaraskan. 

2.4.2.1 Berstrata Tinggi.

Adak keraéng erat pula dengan status kelas sosial, berstrata tinggi. Ritu s adak keraéng misalnya syukuran keturunan (kaér ulu waé), paki kaba bakok dilakukan termasuk pada saat kelas menggunakan kerbau. Adak keraéng dalam hal ini ada hubungannya dengan pangkat keadatan. 

2.4.2.2 Masyarakat Biasa.

Sebutan adak kéraeng bisa juga disematkan pada masyarakat biasa tetapi orang kaya kendatipun bukan tuan tanah. Karena ekonomi tinggi dan kuat, masyarakat pendatang yang kemudian memiliki relasi kawin mawin ataupun tidak dengan tuan tanah, ritus adat baginya bisa disebut sebagai adak keraéng. 

Zaman milenial, pandangan tentang keraéng bukan mori sudah berubah dari status keadatan (Adak, Raja) ke orang-orang yang memiliki ekonomi dan relasi sosial yang tinggi. Dengan demikian, sematan keraéng sudah sesuai konteks zaman. 

III. Penutup
Refrensi

Melky Pantur.
Ruteng.
Jumat, 15 April 2022






04/03/22

Roh Semesta dan Pengampunan

Merangkai Hukum Positif Satpam Pengampunan

Ijazah bukan tolok ukur tetapi hanya jembatan pencapaian kesejahteraan. Yang paling penting mind set dan terus belajar. Mind set itu prerogatif Yang Kuasa --- pikiran yang baik dapat diraih melalui kontemplasi, doa kepada Yang Kuasa walau Roh pulalah yang mengajarkan orang untuk berdoa. Yang berdoa bukanlah tubuh manusia karena tubuh hanyalah bait Yang Kuasa). Karena mind set prerogatif Yang Kuasa, maka itulah cikal bakal lahirnya ajaran cinta kasih. Mind set yang keliru melahirkan hukuman dan pengampunan. Agar hukuman dihindari, doa adalah medium untuk bebas dari pencobaan. 

Setiap orang yang mempunyai milik kepunyaanNya dan setiap orang yang tidak mempunyai hak kepunyaanNya. Itulah makanya dilarang untuk cemburu akan harta ---harta hanyalah kepercayaan, titipan. Dan kepercayaan sebuah anugerah, rahmat tetapi rahmat bukanlah kemutlakan karena rahmat kepercayaan diberi keleluasaan kebebasan untuk menggunakan rahmat itu apakah digunakan dengan baik atau tidak. Kepercayaan juga bagian dari pencobaan sehingga sekalipun itu kepercayaan maka dalam menanggungnya berdasarkan azas moralitas dan etika). Yang Kuasa memberi kepunyaan apa yang menjadi kemauanNya. Ekspresi lain segala sesuatu atas izinNya. Seseorang yang tidak mempunyai janganlah dihakimi, direndahkan sebab pencarian dan rezeki juga adalah kepunyaanNya. Itulah makanya mind set adalah kepunyaanNya pula.

Pengampunan adalah kesadaran tertinggi akan status hak prerogatif dari Yang Kuasa. Pengampunan, belajar dari kesalahan cikal bakal kedamaian. Hukum positif adalah satpam pengampunan. Bencana, konflik, peperangan adalah cambuk kesadaran dari hak kestatusan Yang Kuasa. Cambuk adalah pengadilan kesadaran yang tidak lain adalah contoh dan cermin. Hal itu sama halnya dengan belajar dari kesalahan orang lain. 

Roh Semesta

Kisah penyaliban hanyalah sebuah cermin atau contoh. Janganlah menghakimi seseorang yang tidak semestinya dihakimi apalagi mengucap nazar bahwa perbuatan yang tidak benar ditanggung anak cucu. Doa penghapusan dapat dilakukan dengan ritual tolak bala. Maksudnya agar Roh tidak menyiksa seseorang karena nazar baik dari nenek moyang maupun oleh dan dari dirinya dan karena itu juga merupakan konsekuensi dari setiap manusia dibimbing oleh Rohnya sendiri. Sebab setiap orang memiliki Roh masing-masing. Roh yang ada pada setiap manusia adalah representasi dari Yang Kuasa. Roh pada setiap orang itulah yang mendorong untuk berdoa agar bait Roh itu tidak runtuh tetapi tetap kokoh dan kuat. Itulah makanya manusia memiliki kehendak bebas (optio fundamentalis). Dalam konteks budaya tertentu dinamakan takung asé ka'é weki

Roh Tertinggi

Roh tertinggi adalah Roh Semesta. Roh Semesta adalah cahaya, terang, inti dan sumber dari sumber apa pun. Semua roh berasal dari Roh Semesta. Setiap makhluk diberi Roh sebagai kekuatan. Itulah yang kerap juga disebut sebagai malekat pelindung. Perhatikanlah aktivitas manusia, perhatikanlah status-status manusia yang berbeda-beda sesuai dengan kehendak misalnya di facebook, instagram, WhatsApp dan lain sebagainya. Perhatikanlah pula pada saat pemilihan pemimpin. Tetapi yang mengendalikan semua kehendak yang berbeda-beda adalah Roh Semesta. Roh yang dititipkan kepada setiap manusia itulah yang disebut kehendak. Kehendak itu dijalankan melalui pikiran dan bimbingan. Pikiran berasal dari Roh. 

Manusia terdiri dari tiga unsur: tubuh, jiwa dan roh. Tubuh terdiri atas darah dan daging, jiwa adalah kesadaran, roh adalah mind set, kehendak. Rohlah yang mengatur keseimbangan pada manusia termasuk memastikan kesadaran. Jadi, manusia terdiri atas tubuh (tulang, darah dan daging), jiwa (kesadaran, akal), roh (kehendak). Kematian terjadi karena jiwa dan roh meninggalkan tubuh. Roh adalah dokter asli dari tubuh, yang mengatur tubuh beraktivitas. Keseimbangan tubuh dengan alam sekitar diatur oleh Roh. Misalnya, pada saat di tengah malam yang dingin, Roh dapat membuat seseorang terasa hangat. Pada saat seseorang dalam keadaan tertentu dapat membuat seseorang menggigil. Roh adalah energi, hidup, kekuatan pengendali, subjek kesadaran, tempat bersandar dan bertanya, sumber ajian dan perisai ajian, kecerdasan, penemuan, daya kritis, imajinasi, solusi, rezeki, kemudahan, kekuatan, pangkat, keindahan, kesejukan, kegembiraan, juga kesedihan. Roh yang diberikan kepada tiap-tiap manusia sebagai kehendak diberi prerogatif khusus oleh Yang Kuasa (Roh Semesta) untuk mengatur ritme kehidupan seseorang. 

Minum Mabuk

Orang yang mabuk membuat tulang dan dagingnya lemah. Jiwa mengikuti kelemahan tulang dan daging. Sedangkan, Roh memberi kesadaran, menguatkan. Roh adalah energi sekalipun jiwa juga adalah kesadaran. Jiwa tergantung pada Roh dan Roh pada manusia tergantung pada Roh Yang Kuasa. Jiwa atau kesadaran, akal adalah kesadaran Yang Ilahi tetapi kesadaran itu diperkuat oleh Roh. 

Pada saat seseorang tidur, kesadarannya keluar dari tubuh (antakarana) maka lahirlah mimpi. Seseorang kemudian kembali terjaga karena kesadaran dikembalikan. Kesadaran itu ditopang oleh Roh sebagai pengatur kesadaran. Roh itu bebas, berwujud tetapi tidak kelihatan. Jiwa adalah energi cahaya atau terang. Pertimbangan adalah hasil dari pertemuan antara jiwa dan roh, sedangkan tubuh hanyalah rumah, bait saja. 

Sabtu, 5 Maret 2022
Ruteng
Melky Pantur

15/02/22

Waé Barong sebagai Unsur Identitas, Syarat dalam Bingkai Entitas "Kepemimpinan Tiga Serangkai" Keadatan Kampung Adat Orang Manggarai


Orang Manggarai memasukkan mata air (waé baté teku/waé barong) sebagai salah satu unsur identitas dan syarat keadatan yang harus dipenuhi.

Sebuah kampung adat yang di dalamnya memiliki gendang dan tambor sudah pasti memiliki unsur-unsur pendukung lainnya yang kemudian menjadi sebuah filosofi gendang onén lingkon pé'ang. Unsur filosofi itu adalah rumah adat (mbaru gendang), alun-alun (natas), mezbah adat (compang baté dari), kebun ulayat (lingko), dan mata air (waé baté téku). 

Sebuah kampung adat tentu memiliki kelima unsur itu. Kelima unsur itu dinahkodai oleh Adak Telu. Adak Telu atau kepemimpinan tiga serangkai itu, seperti: Tu'a Golo, Tu'a Gendang dan Tu'a Teno. Adak artinya Raja (King), pempimpin, sedangkan telu artinya tiga (three). Adak Telu adalah kepemimpinan tiga serangkai.

Adak Telu berperan penting dalam mengatur keseluruhan kehidupan keadatan. Tu'a Golo adalah penentu kebijakan dan pengatur umum termasuk meminta Tu'a Gendang, Tu'a Teno dan Tu'a Panga untuk mengurus persoalan-persoalan. Tu'a Gendang memimpin rapat-rapat adat, Tu'a Teno mengatur pembagian tanah dan Tu'a Panga mengatur panga-panga (clan) mereka sendiri. Tu'a Gendang akan memanggil Tu'a Teno jika terjadi masalah tanah dan akan memanggil Tu'a Panga apabila terjadi konflik di dalam keluarga dalam satu panga. Apabila ada Tu'a Kilo, maka Tu'a Gendang akan memanggilnya juga bila dalam satu rumpun keluarga besar terjadi persoalan internal. 

Waé Téku dan Compang

Bagi orang Manggarai, mbaru (rumah) terdiri atas: mbaru gendang/mbaru tembong, tambor, niang dan béndar. Mbaru gendang adalah rumah umum, tambor adalah rumah adat dari woé (berupa pemberian kepada anak perempuan jika terjadi kawin masuk), niang (rumah suku), dan bendar (rumah dari anak-anak cucu di sekitaran rumah adat atau rumah-rumah yang ada di wilayah pemekaran). Bagian wilayah Locé di Manggarai bagian utara ada juga yang disebut dengan lumpung

Apabila dalam satu kampung adat berdiri tambor, gendang dan niang bisa saja compang hanya satu termasuk waé barong. Yang berbeda adalah waé cemok. Waé cemok adalah mata air yang dikhususkan untuk suku-suku atau kilo-kilo tertentu. Dalam satu wilayah gendang terdapat kumpulan suku-suku. Jika terjadi perkawinan, maka lahirlah istilah anak rona (pihak perempuan) dan anak wina (pihak laki-laki).

Tu'a Teno dan Lingko

Setiap lingko memiliki Tu'a Teno masing-masing. Ia ditugaskan oleh Tu'a Golo dan Tu'a Gendang untuk membagi lingko-lingko. Tu'a Teno adalah Tu'a yang diambil dari pemilik lingko. Adak Telu adalah pemilik lingko (kebun ulayat). Jika terjadi masalah batas antara moso (elemen tanah/bidang tanah dalam satu lingko), maka Tu'a Teno yang mengurusnya di bawah komando Tu'a Gendang.

Gendang Cahir dan Gendang Widang

Gendang cahir maksudnya gendang yang dibagi ke keturunan dari Tu'a Golo atau Tu'a Gendang, sedangkan gendang widang adalah gendang yang diberikan kepada asé ka'é (berasal dari suku-suku lain atau kepada anak wina yang diserahkan oleh anak rona). Gendang widang berarti gendang yang diserahkan ke anak wina disertakan dengan lingko-lingko

Lumpung

Di wilayah Ruis dan Locé tidak ada gendang cahir atau widang. Pembagian dari gendang disebut sebagai lumpung. Ada pula yang disebut dengan lumpung léca dan lumpung rangko. Lumpung léca maksudnya pembagian dari gendang ke asé ka'é dalam satu wilayah gendang karena mereka mau berdiri sendiri. Sedangkan, lumpung rangko maksudnya ada dua atau tiga gendang duduk bersama lalu memberikan lingko-lingko mereka kepada asé ka'é yang tergabung dalam satu lumpung. Di sini memiliki alasan khusus karena lingko-lingko jauh dari gendang-gendang sementara mereka ingin menggarapnya dan berada dalam satu bingkai rumah adat. Maksudnya, tiga gendang bergabung menjadi satu berbentuk satu lumpung. Pemilik lingko dari gendang berbeda tetapi dalam satu kawasan. Mereka kemudian membentuk lumpung rangko. Lingko-lingko itu berada di wilayah kantong.

Perbedaan Sisi Ritual Adat dari Gendang, Tambor dan Lumpung

Dalam hal ritual adat paki kaba (mempersembahkan hewan kurban berupa seekor kerbau) gendang akan melakukan saé sebelum lilik compang. Kerbau disembelih di tengah natas. Sedangkan, tambor tidak menggelar saé. Saé dilarang apabila meresmikan tambor. Sedangkan, lumpung tidak ada saé juga hewan kurban disembelih di depan lumpung bukan di compang

Jadi, perbedaannnya jelas yaitu lumpung dan tambor tidak menggelar saé (tarian sakral) sementara dalam hal menyembelih hewan kurban, lumpung menyembelih hewan kurban berupa kerbau di depan lumpung bukan di compang dan lilik compang tidak digelar, sedangkan tambor penyembelihan hewan kurbannya dilakukan di alun-alun dekat compang. Sementara gendang menggelar saé dan hewan kurban disembelih dekat compang

Untuk lebih jelasnya:

Lumpung tidak menggelar saé dan lilik compang. Hewan kurban disembelih di depan lumpung.

Tambor tidak menggelar saé tetapi lilik compang dan hewan kurban disembelih di alun-alun. 

Gendang wajib menggelar saé, lilik compang dan hewan kurban disembelih di dekat compang.

Kebeng dan Congko Lokap

Kedua istilah ini dipakai oleh masing-masing wilayah di Manggarai. Bagi orang Cibal, acara puncak pembangunan rumah adat disebut kebeng, sedangkan bagi orang Rahong dan Ruteng, Ndoso dan Kuwus disebut congko lokap (upacara puncak pembangunan rumah adat). 

Waé Barong Léca dan Rangko

Waé barong adalah komponen kelima dalam falsafah gendang, niang, tambor dan lumpung. Ada yang disebut dengan waé barong léca dan waé barong rangko.

Waé barong léca maksudnya, dalam satu kampung adat gendang memiliki hanya satu waé barong, sedangkan waé barong rangko maksudnya dalam satu kampung adat terdapat tiga gendang tetapi satu alun-alun dan satu compang termasuk satu waé barong saja. Misalnya, di kampung adat Barang, Kecamatan Cibal. Dapat juga satu kampung adat terdapat tambor dan gendang di mana natas, compang dan waé barong hanya satu.

Perbedaan Waé Barong, Waé Cemok, Waé Téku

Waé barong adalah mata air sakral dari kampung adat yang bersifat komunal atau milik bersama warga kampung adat. Waé cemok juga disebut mata air sakral yang hanya dimiliki oleh suku atau kilo tertentu. Sedangkan, waé téku sifatnya umum. Meskipun semua mata air disebut waé téku. Waé téku yang bersifat umum tidak bersifat sakral. Yang sakral adalah waé barong dan waé cemok. Baik waé barong, waé cemok maupun waé téku di bawah kekuasaan gendang. Pada saat acara bowo waé biasanya, ketika saat yang pergi abadi itu hendak dikuburkan orang-orang terutama keluarga akan pergi membilas diri ke waé téku

Compang Buatan dan Compang Alami

Compang (atau disebut pula dengan dari) terdiri atas dua jenis. Ada compang yang disusun oleh tangan manusia, ada pula compang yang tersusun secara alami. Compang yang tersusun secara alami tanpa dibuat oleh tangan manusia, contohnya, compang gendang Sampar di Desa Pong Lalé, Kecamatan Ruteng.

Gendang Lancung

Gendang lancung adalah gendang yang memiliki compang tetapi hanya bersifat sementara. Bisa juga disebut sebagai gendang singgahan. Misalnya, salah satu gendang di Golo Nawang yang sudah ditinggalkan oleh nenek moyang yang sifatnya sementara. Generasinya kemudian tersebar ke mana-mana. Gendang itu serta compang-nya ditinggalkan. 

Waé Barong Loang

Waé barong loang adalah waé barong yang ditinggalkan oleh nenek moyang karena memindahkan kampung adat ke lokasi yang lain yang tidak jauh dari kampung adat sebelumnya. Kampung adat yang baru bukan wilayah kantong. Bisa juga waé barong yang memang ditinggalkan sama sekali.

Memindahkan Kampung Adat

Masa lampau, nenek moyang di Manggarai bisa memindahkan gendang dan kampung adat ke lokasi yang lain. Mereka mendirikan rumah adat baru, compang baru dan waé barong baru. Hal itu berdasarkan persetujuan. Waé barong lama disebut juga waé barong mbaté tetapi sudah ditinggalkan karena alasan tertentu. Salah satu contoh adalah waé barong orang Taga, Ruteng yang kemudian ditinggalkan nenek moyang di dekat lingko Lamba persis di aliran sungai Tiwu Riung. Hal itu bisa terjadi karena kesepakatan bersama masa lampau mengingat masa lampau tanah masih luas sementara manusia sedikit.   

Pa'ang Olo Ngaung Musi

Istilah yang kerap dipakai oleh orang Manggarai adalah pa'ang olo ngaung musi. Pa'ang artinya gerbang masuk ke kampung yang berada di depan (olo, be bolo). Ngaung (kolong) artinya bagian bawah rumah karena orang Manggarai kerap membangun rumah adat dengan sistim panggung. Musi artinya belakang. Pa'ang olo ngaung musi dapat diartikan juga sebagai seluruh warga kampung adat termasuk mereka yang berada di perantauan. 

Pangga Pa'ang Nggalu Ngaung

Ini adalah istilah pemerisaian di mana sebuah kampung adat memiliki tameng atau perisai untuk melindungi diri dari serangan apa pun. Istilah ini adalah simbol bahasa persatuan nai ca yanggit, tuka ca léléng (bersatu padu, satu pikiran). 

Beberapa Istilah yang Ada Hubungannya dengan Waé

Waé Nggéreng dan Waé Woang

Waé nggéreng artinya air jernih, bersih. Toém tebur, cino (tidak keruh dan bening). Waé nggéreng adalah sebuah ekspresi simbolik untuk menyebut ata jangka (paranormal). Terkadang waé nggéreng disebut pula ada ata pecing, ata mata gérak, ata mbeko.

Kemudian waé woang adalah mata air asli, alami, yang keluar dari tanah bukan air kali atau waé meti (terkadang tidak muncul) pemberian dari Yang Kuasa secara langsung (Morin Jari Dédék). Bukan dari pipa buatan. Istilah yang kerap dipakai adalah mboas waé woang, kembus waé téku (mata air jernih yang besar berasal dari sumbernya di mana orang-orang menimba). 

Waé Takung dan Takung Waé

Waé barong disebut pula sebagai waé takung, waé téku tédéng. Tetapi waé takung ada dua jenis, yaitu waé barong dan waé cemok. Tetapi takung waé adalah sebuah aktivitas memberi sesajian. Takung waé dalam konteks ritual adalah aktivitas meminta kemurahan kepada penjaga mata air agar selalu terlindungi dari pengaruh jahat. Takung waé dapat juga diartikan sebagai aktivitas atau ritual apabila ada orang-orang yang hendak menjala ikan di kali atau pula ada warga kampung yang melepaskan ikan, udang di kali maka digelarlah ritual takung (sesajian). Ritual takung dilakukan apabila hendak menjala agar tangkapan banyak dan berlimpah. 

Waé Cebong

Waé cebong adalah air yang bersifat umum sekali. Waé cebong tidak harus bersifat sakral karena khusus untuk mandi dan cuci. Kali-kali juga disebut waé cebong

Waé Géok dan Waé Bung

Waé géok adalah mata air yang kecil dan bersih yang terkadang muncul sesaat. Bisa sering datang tetapi kecil (waé lemes dalam sebutan lain akibat dibuatnya waduk atau embung). Sedangkan, waé bung adalah air yang keluar sewaktu-waktu di saat musim hujan saja. Ketika musim kemarau tiba, airnya tidak keluar. Untuk mengatasi waé bung biasanya orang-orang menggelar ritual takung waé dan menanam berbagai jenis pohon di atasnya. 

Barong Waé

Barong waé adalah suatu aktivitas ritual adat di mana tetua adat berkumpul di waé barong sebagai salah satu komponen runutan ritual adat. Barong waé juga digunakan untuk sebutan lain dari suatu aktivitas rutinitas untuk mengalirkan mata air dari parit yang dibangun demi mengairi ladang-ladang. 

Waé barong Gendang Lawir di Ruteng.

Foto: Roy Jehapu

Waé Mata dan Mata Waé

Waé mata adalah mata air, sedangkan mata waé adalah sumber awal di mana air keluar dari mata air. Waé mata dalam sebutan lain juga dterjemahkan sebagai air mata. Misalnya, air mata cinta. 

Waé Timbu dan Timbu Waé 

Waé timbu maksudnya, genangan air yang sengaja dibuat atau ditimbulkan dalam bentuk atau dibuat dalam bentuk kolam kecil untuk menampung air hujan. Sedangkan, timbu waé artinya aktivitas menadah air dengan membuat pematang atau tanggul dengan tujuan menadah air agar bisa dialirkan ke ladang melalui parit.

Timbu waé jika salah dapat menyebabkan rudak misalnya di mata waé. Timbu mata waé jika salah akan direkonsiliasi melalui ritual ngelong (sesajian berupa telur ayam kampung). 

Derek Waé

Derek waé adalah suatu aktivitas ritual adat agar mata waé selalu kémbus (air keluar selalu stabil dari dalam tanah). Ritual ini adalah meminta intervensi Yang Kuasa agar menumbuhkan pohon-pohon dengan caraNya dan juga hujan senantiasa mengguyur wilayah itu. Adapula sebutan derek siri bongkok (aktivitas ritual adat saat mendirikan tiang tengah dari rumah adat). 

Waé Samo dan Waé Wacang

Waé samo maksudnya air bersih yang digunakan untuk mencuci tangan ketika ada acara-acara tertentu terutama saat terjadi kedukaan. Waé wacang juga artinya air bersih untuk membilas diri. Biasa juga kerap disebut waé nawi. Waé nawi biasanya menggunakan air bersih untuk mencuci pakaian ataupun perabot-perabot rumah tangga.

Liang Waé, Waé Liang dan Waé Loang

Liang waé maksudnya air yang keluar dari tebing yang memilik lubang besar. Air yang keluar dari lubang besar. Bisa juga di dalamnya terdapat liang. Lazimnya memiliki bebatuan besar. Waé liang maksudnya mata air yang berbentuk kolam. Tidak mengalir keluar tetapi meresap ke bawah bisa juga habis karena proses penguapan. Sumber air bisa muncul dari tingkap-tingkap bebatuan atau rembesan resapan air hujan yang tertampung dalam sebuah wadah. Biasanya terdapat di gua-gua dan liang-liang tanah akibat longsor. Sedangkan, waé loang adalah mata air yang sebelumnya digunakan orang-orang tetapi warga pindah atau karena tercemar, terkontaminasi maka kemudian ditinggalkan. Terkadang disebut waé téku loang. 

Waé Nécak dan Waé Délem

Waé nécak maksudnya genangan air yang tidak dalam misalnya telaga, kali, kolam, sumur air. Sedangkan, waé délem adalah genangan air berupa telaga, kolam sumur yang cukup dalam.

Waé Néneng dan Néneng Waé

Waé néneng adalah kumpulan air dalam dalam satu wadah kolam, telaga, tacik (laut) yang dalam biasanya berwarna hitam dan jika di laut berwarna biru. Sedangkan, néneng adalah pantulan air akibat terkena cahaya sinar mata hari. 

Waé Bincar dan Bincar Waé

Waé bincar adalah genangan air yang ditimbulkan akibat terbentur dengan benda lain kemudian mengenai sesuatu titik benda atau wadah. Lama kelamaan bisa menjadi danau. Sedangkan bincar waé maksudnya percikan air akibat hujan atau semprotan.

Waé Lemes dan Lemes Waé

Waé lemes adalah air yang kecil yang dtimbulkan akibat misalnya seng atap rumah bocor. Sedangkan, lemes waé adalah air yang mengalir kecil yang membasahi lantai rumah atau alun-alun yang tengah kering karena tersumbatnya parit.

Waé Inung dan Inung Waé

Waé inung adalah air untuk minum. Waé inung juga biasanya untuk menyebut mata air yang khusus ditimba untuk diminum. Sifat airnya tidak tercemar. Sedangkan, inung waé artinya meminum air. 

Waè Cancor dan Cancor Waé

Waé cancor maksudnya air besar yang mengalir dari tebing atau mata air yang dekatnya terdepat rendahan atau tebing kecil. Biasanya orang-orang menggunakan talang agar bisa dimandikan. Waé cancor adalah air terjun bisa mengalir langsung dari mata air sebagai sumbernya bisa juga di kali-kali. Sedangkan, cancor waé maksudnya air yang keluar atau mengalir seperti air terjun yang kemudian bisa bincar dan lemes.

Cunca dan Cunca Waé

Cunca adalah air terjun. Cunca terkadang ada yang tinggi ada yang berukuran satu meter lebih. Biasanya di kali yang agak besar. Sedangkan, cunca waé maksudnya air yang mendidih. Cunca waé lazim juga disebut sebagai sebuah tebing yang ada di kali kering yang pada saat hujan airnya berbentuk seperti air terjun.

Sermuli dan Bemberluak Waé

Sermuli artinya pusaran air. Bemberluak waé maksudnya air yang keluar dari kolam atau parit karena tersumbat. Apabila tanggul jebol di saat musim hujan dapat mengakibatkan ladang-ladang hancur dan air tergenang ke mana-mana. Bemberluak waé dapat pula terjadi karena air yang keluar dari dalam tanah meluncur ke permukaan tanah sehingga membentuk luncuran atau terjun.

Waé Ronco dan Ronco Waé

Waé ronco adalah air yang ditimbulkan karena hujan lebat yang apabila tidak diatur dengan baik akibatnya aliran airnya sembarangan. Sedangkan, ronco waé maksudnya air yang keluar dari waduk disebabkan oleh hujan lebat akibatnya tanggul jebol sehingga air dapat merembes ke mana-mana menghancurkan apa pun.

Waé Sor dan Sor Waé

Waé sor maksudnya mata air cahir biasanya dari asé ka'é ketika membuat gendang baru. Bisa juga mata air pemberian, hadiah, widang dari anak rona ke anak wina. Sedangkan, sor waé adalah aktivitas membagi air, mata air. Sor waé dapat pula diartikan sebagai air yang segaja disemprotkan. Biasanya saat menyiram bunga atau tanaman. 

Waé Sosor dan Sosor Waé

Waé sosor maksudnya mata air untuk mandi dan cuci tetapi mata airnya agak di atas sehingga orang-orang menggunakan bambu untuk talang. Waé sosor ada di mata air bukan waé sosor yang muncul dari atap seng atau ijuk rumah yang dialirkan melalui talang. Sedangkan, sosor waé maksudnya talangan air. 

Waé Génang

Waé genang artinya air telaga. Waé génang juga dapat diartikan air dingin (ces) yang sudah dimasukkan aji-ajian atau mantra-mantra mandraguna untuk menyembuhkan berbagai penyakit bisa juga patah tulang dan sebagainya. 

Waé Kolang dan Kolang Waé

Waé kolang artinya artinya air panas, sedangkan kolang waé artinya memanaskan air. Waé kolang sebutan lain untuk air yang mengandung mantra-mantra mematikan. 

Waé Cehéng dan Mata Waé Regis

Waé cehéng dapat berupa air minum yang sudah dinazar atau memiliki perjanjian khusus yang apabila dilanggar dapat mematikan. Waé cehéng dapat pula disebut sebagai air permurnian sebagai penyuci kekesalan, amarah dan perbuatan-perbuatan tercela. Waé cehéng dapat juga diartikan sebagai mata air yang memiliki unsur-unsur magis atau ada orang yang bernazar tidak akan menganggu karena telah melanggar ketentuan tertentu baik karena masalah antara sesama manusia maupun penghuni air. Sedangkan, mata waé regis maksudnya mata air yang serem. Dalam istilah orang Manggarai dinamakan sebagai pong cengit.

Waé Ru'u dan Ru'u Waé

Waé ru'u maksudnya air yang diisi dengan mantra-mantra khusus. Biasanya air ditaruh di wadah-wadah khusus. Mantra yang dimasukkan berupa ilmu totok (ru'u da'ét), ru'u tako tédéng (mantra yang membuat orang-orang terus mencuri).

Waé Rénéng

Waé réneng maksudnya mata air yang digunakan untuk keperluan memasak tetapi karena tidak dirawat dengan baik jadinya rénéng. Tentu tidak bagus untuk digunakan. Waé rénéng dapat pula disebut air minum yang sudah dimasak tetapi diminum terasa lain karena masaknya belum matang. Rénéng itu sendiri maksudnya aktivitas memasak yang menyebabkan nasi habel dan kar (nasinya lembek dan keras). Itu disebabkan karena apinya kurang stabil. 

Waé Bakok dan Waé Nggélel

Waé bakok bukan bermaksud untuk menyebut air putih karena air itu bening bukan putih. Waé bakok adalah sebutan untuk mincé (nira) bukan tuak karena tuak dicampur dengan berbagai kulit kayu sehingga warnanya tergantung damer (campuran kulit kayu yang digunakan yang diisi di dalam bumbung atau gogong). Jika damer berwarna putih susu, maka menjadi putih. Sedangkan, waé nggélel adalah air yang agak licin, nggelék karena telah tercemar hingga tidak baik untuk diminum. Waé nggélel dapat sebagai mata air yang sudah tercampur dengan katak, ikan dan binatang melata lainnya. Waé nggélel ini menimbulkan waé wau (air yang berubah warna dan busuk). 

Waéng Waé

Waéng waé adalah sebutan kiasan dari suatu aktivitas tertentu. Misalnya, pergi menangkap ikan di kali dengan menggunakan perangkap tertentu. Dapat pula melakukan aktivitas hedong waé. Hedong waé maksudnya mengeluarkan air dari kolam atau memindahkan air dari parit yang dialiri ke ladang agar mengalir ke tempat lain misalnya ke sungai. Maksudnya agar tanaman tidak busuk. Waéng waé dapat pula disebut sebagai aktivitas mencari udang, ikan, katak, kepiting dan belut di sungai. Waéng waé bagi nelayan disebut melaut. Ada ungkapan lainnya waéng tuak. Waéng tuak berarti menyadap nira. Kerap orang Manggarai menyebutnya panté tuak. 

Waé Worang dan Worang Waé

Waé worang adalah sebutan kiasan atau bahasa simbolik dari waé barong yang bening, jernih. Waé worang juga diartikan sebagai air hujan. Dalam ungkapan simbolik lain, waé worang adalah artian untuk generasi atau anak-anak di dalam kampung adat yang merupakan hadiah Yang Kuasa. Berkeriapnya anak-anak disampaikan melalui ekspresi ta'i cala wa'i, borék cala bocél (berkeriapnya anak-anak). Sedangkan, worang waé berarti membagi air atau memandikan anak-anak dengan air. Atau mengambil air dengan gayung lalu disiram ke tanaman.

Waé Rua dan Rua Waé

Waé rua maksudnya air yang sudah dimasak matang dan segar untuk diminum, sedangkan rua waé maksudnya air yang tengah mendidih.

Waé Céncés dan Céncés Waé

Waé céncés adalah air yang sudah dimasuk. Tetapi ini adalah bahasa kiasan untuk menyebut anak orang miskin. Sedangkan, céncés waé artinya memasak air. 

Waé Waké dan Waké Waé

Waé waké artinya akar yang sudah berair, sudah kuat, keras. Waé waké maksud lainnya adalah hidup, vitae, semangat. Sedangkan, waké waé maksudnya airnya mengalir secara terus-menerus. Berkaitan dengan identitas keadatan, waké waé maksudnya generasi yang sukses, makmur. Waé waké adalah ungkapan simbolik untuk keturunan. Hal yang mirip dengan ungkapan waké waé adalah lor waé. Lor waé maksudnya keturunan yang berkeriapan.

Waé Doang

Waé doang adalah air yang telah mengandung mantra-mantra penyembuhan. Waé doang berasal ata jangka, waé nggéreng. Mantra oleh orang Manggarai menyebutnya guru.


Melky Pantur
Ruteng
Selasa, 15 Februari 2022

27/10/21

Tangké

Melky Pantur

Setiap orang pasti mengalami mimpi saat tidur. Ada mimpi yang diingat, ada mimpi yang samar-samar diingat, ada mimpi yang mengingat dengan jelas sekali alur ceritanya, ada pula mimpi yang terlupakan sama sekali. 

Bagi orang Manggarai, dalam mimpi mengenal apa yang disebut dengan tangké. Tangké adalah bentuk pemodelan atau mengambil model tempat tertentu. Misalnya, mimpi diberi "sesuatu" oleh yang tidak dikenal ataupun telah dikenal terjadi di tempat tertentu. Tempat di sini bisa mengambil tempat apa saja sesuai apa yang ditunjuk dalam mimpi. 

Manakala dalam mimpi menunjuk ke orang, oleh orang Manggarai menyebut itu sebagai ba tara. Ba tara artinya menyerupai muka orang tertentu. Ada banyak penyerupaan dalam mimpi. Mimpi terkadang menimbulkan multi tafsir karena terkadang seperti mengandung kiasan.

Dalam tulisan ini menitikberatkan pada istilah tangké. Tangké membuat penafsir mimpi begitu sulit menerjemahkannya. Mimpi sukar dipercaya karena menggunakan tangké dan ba tara dalam alur ceritanya. Kemudian, mimpi yang lebih dari satu membuat si pemimpi mengingat dengan jelas mimpi-mimpinya. 

Kando Nipi Da'at

Orang Manggarai mengenal budaya takung (sesajian). Mimpi yang dianggap buruk akan diritualkan secara khusus dengan mempersembahkan hewan kurban tertentu berupa ayam. Penyilihan terhadap mimpi yang dianggap buruk dengan membuat ritual kando nipi da'at. Lazimnya pula ritual kando nipi da'at menggunakan sebutir telur. Persembahan sebutir telur kerap disebut sebagai takung atau ngelong

Waé Nggéreng

Waé nggéreng adalah sebutan untuk orang-orang yang mengerti hal-hal supranatural. Nama lainnya adalah ata jangka. Kerap juga disebut ata pecing. Melalui petunjuk mimpi, biasanya orang-orang melakukan ritual silih dan rekonsiliasi. 

Mengapa Ada Tangké?

Tangké tentu merupakan salah satu ciri khusus dalam mimpi. Yang unik adalah ada tangké-nya, ada pula ba tara. Pertanyaannya mengapa ada tangké dalam mimpi? Nah, itulah ciri khusus dalam mimpi seolah-olah memasukkan unsur dongeng di dalamnya tetapi yang pasti mimpi selalu memiliki unsur tangké di dalamnya sesuai maunya mimpi. Bak cerita dongeng, mimpi selalu menunjuk tempat tertentu di dalamnya. Tangké ada sebagai petunjuk kiasan yang dimasukkan mimpi itu sendiri sebagai pelengkap alur kisah dalam mimpi itu sendiri.

Ruteng, Rabu (27/10/2021).
Oleh: Melky Pantur


09/08/21

Maksimus Bangkur

Maksimus Bangkur meninggal di Gang Sasando, Kelurahan Bangka Leda, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Temggara Timur (NTT), Indonesia, Asia. Senin (9/8/2021).
Maksimus Bangkur bersama isteri Elsiana Dabung. Foto tersebut saat Gereja Paroki St. Vitalis Cewonikit, Keuskupan Ruteng. Mereka memiliki dua orang puteri Nesa dan Naira.


Foto berikut diambil saat pernikahan mereka 1 Desember 2014 dari

Maksimus Bangkur dan Elsiana Dabung di Ros, Gang Sasando, Leda Ruteng.


16/07/21

Yoséph Nabut

Yoséph Nabut asal Subu, Desa Gelong, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Yoséph Nabut kelahiran Subu, 15 November 1964. Yoséph Nabut putera dari pasangan Fransiuskus Banggu dan Bérta Ganung. Dirinya meninggal di Subu pada hari Kamis (15/7/2021). Yoséph Nabut berziarah di bumi kurang lebih 57 tahun.  

Ýoséph Nabut memperisterikan Thérésia Anul. Thérésia Anul kelahiran Coal, 16 Oktober 1978. 

Yoséph Nabut


Ia meninggal karena menderita sakit. Sebelum meninggal, ia dirawat di rumah oleh isteri tercinta.  Ia sempat dirujuk ke Puskesmas di Pahar dan kemudian ke BLUD RSUD Ruteng.


Kepergiannya meninggalkan 5 (lima) buah hatinya. Yoséph Nabut meninggal di Subu, Kamis (15/7/2021) di kediamannya di Subu. 

Jenazah Yoséph Nabut saat disemayamkam di kediamannya di Subu, Desa Gelong

Yoséph Nabut memperisterikan Thérésia Anul.  Thérésia Anul dan Yoséph Nabut memperanakkan Frédérikus Jéfri Darmin Ndili, Maria Kurniati Purnama, Mikaél Évérgian Syukur, dan Hardianus Yoswaldi Rahman, dan seterusnya.

Pétrus Gambut memperisterikan Sabina Anut. Sabina Anut berasal dari Lando, Kuwus. Pétrus Gambut memperanakkan Thérésia Anul (puteri tunggal). Thérésia Anul kelahiran Coal, 16 Oktober 1978 bersuamikan Yoséph Nabut, kelahiran 15 November 1964. Yoséph Nabut anak dari Fransiuskus Banggu dan Bérta Nganung berasal dari kampung Subu, Gelong.

Pétrus Gambut adalah putera dari pasangan suami-isteri Yakobus Antan dan Régina Nganul asal Coal, Desa Coal, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, Flores.