27/04/20

Rumus Bilangan dan Angka dalam Rupiah

Si A memiliki harta bergerak dan tak bergerak, jika dirupiahkan senilai:

1.234.567.891.011.121.314.151.617.181.920,-rupiah.

Lazim dalam perhitungan jumlah uang, seperti: 

Ribu
1.234.

Juta
567.891.

Miliar
011.121.314.

Triliun
151. 617.181.920

dstnya.......sampai ke desiliun kemudian dan kemudian!

Bilangan rupiah bila dibaca, maka hasilnya, seperti: 

1.234.
(Seribu dua tiga puluh empat)

567.891.
(Lima ratus enam puluh tujuh ribu delapan ratus sembilan puluh satu)

011.121.314.
(Sebelas juta seratus dua puluh satu ribu tiga ratus empat belas)

151.617.181.920
(Seratus lima puluh satu miliar enam ratus tujuh belas juta seratus delapan puluh satu ribu sembilan ratus dua puluh).

Nah, bagaimana membaca angka 1.234.567.891.011.121.314. 151.617.181.920,-rupiah ini?

Jika mengacu pada rumus sederhana di atas, maka akan dibaca begini: 

Seribu seratus tiga puluh empat juta, lima ratus enam puluh tujuh ribu delapan ratus sembilan puluh satu miliar, sebelas juta seratus dua puluh satu ribu tiga ratus empat belas triliun, seratus lima puluh satu miliar enam ratus tujuh belas juta seratus delapan puluh satu ribu sembilan ratus dua puluh rupiah. 

Nah, rumusan itu menunjukkan bahea menghitung jumlah uang rupiah mulai dari angka yang kecil ke angka yang besar sesuai urutan kemudian dari angka besar ke angka kecil. Dengan demikian, sistimnya piramida sama kepala terbalik.

Lihat gambar:


Coba perhatikan angka berikut:

1.234.

567.891.

011.121.314.

151.617.181.920

Jika, 

1.234.

567.891 

digabung, maka menjadi 1.234.567.891, angka ini menunjuk ke jumlah miliar rupiah (1,2 M).

Jika, 

011.121.314.

151.617.181.920

digabung 11.121.314.151.617.181.920, ini menujukkan triliun. (sebelas juta triliun).

Jika, 

567.891.

011.121.314.

151.617.181.920

digabung 567.891.011.121.314.151.617.181.920, ini menunjukkan juta miliar triliun (lima ratus enam puluh tujuh ribu delapan ratus sembilan puluh satu miliar sebelas juta seratus dua puluh satu ribu tiga ratus empat belas triliun seratus lima puluh satu miliar enam ratus tujuh belas juta seratus delapan puluh satu ribu sembilan ratus dua puluh rupiah).

Ketika semua angka itu digabung, maka

1.234.567.891.011.121.314.151 akan dihurufkan menjadi satu miliar miliar dua ratus tiga puluh empat juta lima ratus enam puluh tujuh ribu delapan ratus sembilan puluh satu triliun sebelas miliar seratus dua puluh satu juta tiga ratus empat belas ribu seratus lima puluh satu rupiah.

Manakala 

1.234.567.891.011.121.314. 151.617, maka akan ditulis begini: Seribu dua ratus tiga puluh empat miliar lima ratus enam puluh tujuh juta delapan ratus sembilan puluh satu ribu sebelas triliun seratus dua puluh satu miliar tiga ratus empat belas juta seratus lima puluh satu ribu enam ratus tujuh belas rupiah.

Bila begini 1.234.567.891.011.121.314. 151.617.181, maka ditulis: Satu juta dua ratus tiga puluh empat ribu lima ratus enam puluh tujuh miliar delapan ratus sembilan puluh satu juta sebelah ribu seratus dua puluh satu triliun tiga ratus empat belas miliar seratus lima puluh satu juta enam ratus tujuh belas ribu seratus delapan puluh satu rupiah.

Bagaimana kalau begini 1.234.567.891.011.121.314.151.617.181.920,- rupiah, maka akan dihurufkan: Satu juta dua ratus tiga puluh empat ribu lima ratus enam puluh tujuh triliun delapan ratus sembilan puluh satu miliar sebelas juta seratus dua puluh satu ribu tiga ratus empat belas triliun seratus lima puluh satu miliar enam ratus tujuh belas juta seratus delapan puluh satu ribu sembilan ratus dua puluh rupiah.

Nah, untuk menghindari kekeliruan satuan besaran harus dipakai

1.234.

567.891.

011.121.314.



151.617.181.920

dengan mana

1.234 berjumlah 4 dijit. Atau, 1 + 3.

567.891 berjumlah 6 digit

011.121.314 berjumlah 9 digit

151.617.181.920 berjumlah 12 digit

Jadi, 4 6 9 12 dengan selisih 2 3 3

Kita pecahkan angka ini berdasarkan urutan

1.00
1.000
10.000
100.000
1.000.000
1.000.000.000
1.000.000.000.000

Kemudian, angka di bawah dirubah ke angka nol (0), maka terdapat 31 digit.

1.234.

567.891.

011.121.314.

151.617.181.920

Katakanlah 31 digit ini di bawah ke nol (0), maka akan menghasilkan

0000
000000
000000000
000000000000

0.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000

Angka nol (0) di depan dirubah menjadi angka 1, maka menjadi

1.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000, - rupiah.

Bagaimana menghurufkan jumlah nominal rupiah ini?

1.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000,- rupiah.

1.000.000.(000.000.000.000).(000.000.000.000), maka akan menghasikan satu juta triliun triliun rupiah.

Inilah kesulitan ketika tidak ada hitungan keuangan di atas triliun.

Cara menghitung yang lain:

Juta= 6 digit 0
Miliar = 9 digit 0
Triliun = 12 digit 0
Kuadriliun=15 digit 0
Kuantiliun= 18 digit 0
Sekstiliun=21 digit 0
Septiliun= 24 digit 0
Oktiliun= 27 digit 0
Noniliun= 30 digit 0
Desiliun=33 digit 0

Dengan demikian, jumlah nominal ini 1.234.567.891.011.121.314.151.617.181.920,- rupiah sama dengan: 

"Satu noniliun dua ratus tiga puluh empat oktiliun lima ratus enam puluh tujuh septiliun delapan ratus sembilan puluh satu sekstiliun sebelas kuantiliun seratus dua puluh satu kuadriliun tiga ratus empat belas triliun seratus lima puluh satu miliar enam ratus tujuh belas juta seratus delapan puluh satu ribu sembilan ratus dua puluh rupiah". 

Perhitungan di atas sama dengan sebutan: 


Seribu seratus tiga puluh empat juta, lima ratus enam puluh tujuh ribu delapan ratus sembilan puluh satu miliar, sebelas juta seratus dua puluh satu ribu tiga ratus empat belas triliun, seratus lima puluh satu miliar enam ratus tujuh belas juta seratus delapan puluh satu ribu sembilan ratus dua puluh rupiah. 

Melky Pantur***).
Senin, 27 April 2020.
Ruteng.

Catatan:

Silakan dikoreksi jika ada yang keliru! Penulis akan memperbaiki setelah ada komentar tambahan dari Pembaca Budiman.

___________#Sebuah Refleksi Kehidupan!
Relasinya dengan kehidupan manusia apa?

Jika angka uang dari yang terkecil menuju ke besar lalu kembali ke angka kecil seperti sistim piramida kepala terbalik, maka begitulah realitas kehidupan manusia. Dari bayi yang kecil tak berdaya ke masa lansia yang tak berdaya. Dalam pertengahan ziarah kehidupan ada kenaikan tetapi kemudian kembali ke penurunan atau ke kekecilan.

23/04/20

Watu Penang


#Zaman masih kecil
teringat dengan benda ini!
Colek saudara Jefry De Gunnerz
yang telah memosting gambar ini.
Kalau mau buat rebok
atau hang kabo, watu penang
alat tumbuk yang bagus
terutama menghancurkan jagung
yang sudah keras.

21/04/20

Yakobus Antam dan Regina Nganul

Cerita tentang Suku Mbaru Asi di Coal, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia, Asia.

Suku Mbaru Asi di Coal adalah salah satu titisan keturunan Empo Mashur. Bagaimanakah keturunan Suku Niang Asi itu hingga berada di Coal? Inilah catatan sejarah yang berhasil dirangkum Penulis.

Sekilas Tapak Tilas Mashur Masuk Nuca Lale.

Menurut buku Histiografi Manggarai tulisan Damian Toda menulis bahwa Mashur berangkat dari Minangkabau lalu ke Majampai lalu ke Ujung Pandang lalu ke Bone lalu ke Bima lalu ke Warloka atau Gunung Talo lalu ke Lale Lombong lalu ke Weri Ata dekat pemukiman Desu di Satar Mese Barat.
Di Weri Ata, Mashur menikahi Rewung Ngoel Putri Peti Ine Holas dan Larung turunan Poca pemuka Beo Desu berasal dari Wangsang Kuleng-Mandusawu. Mashur kemudian menetap di Desu.

Dari perkawinannya dengan Rewung Ngoel, maka lahirlah empat orang anak. Keempat anak tersebut adalah Ra Ratung Masa, Wake Laut, Hormat dan Selatan.

Suku Mbaru Asi atau Niang Asi adalah keturunan anak kedua dari Mashur, yaitu Wakelaut. Keturunan Mashur tersebut kemudian membentuk delapan Adak Panga Todo.

Kedepalan panga tersebut adalah Niang Asi, Niang Dopo, Niang Mongko, Niang Toto Bicar, Niang Keka, Niang Wowang, Niang Rato, dan Niang Lodok.
Khusus untuk Adak Niang Asi untuk Panga Adak Enam Pongkor dijabat oleh Kraeng Kanggang bersaudara (anak Keraéng Cera Amé Cero) terutama menanggani urusan protokol dan peradilan.

Seiring berjalannya waktu, keturunan Niang Asi atau Mbaru Asi tersebar ke beberapa tempat di wilayah Manggarai termasuk Lelak. Suku keturunan Mbaru Asi yang lain kemudian ke Nampe, dari Nampe baru yang lain ke Lambur dan Coal. (Kebenaran sejarahnya masih dicari soal kejelasannya).

Beginilah keturunan Niang Asi di Coal.

Rimang memperanakkan Wewet, Wewet memperanakkan Ronco, Ronco memperanakkan Sele, Sele memperanakkan Gere (Gere memperanakkan Pedo tetapi kemudian Pedo meninggal muda), Manjing, Yakobus Antan, Entem, dan Nel.

Keturunan Manjing.

Manjing memperisterikan Ewa Laham. Ewa Laham berasal dari Werak-Welak. Manjing memperanakkan Gabriel Jehama dan Paulus Anggal.

Gabriel Jehama memperisterikan Tin Memas. Gabriel Jehama memperanakkan Sius Damar. Tin Memas dari keturunan Tanggar. Saudara dari Tin Memas adalah Gabriel Gahi, Petrus Bahor, dan Nanus (Nanus adalah ibu kandung dari Bone Kemon) yang menetap di Coal.

Paulus Anggal memperisterikan Sofia Lulus dari Senda-Lewur. Paulus Anggal memperanakkan Lus, Edu dan Hel. Lus dan Hel bersuami di Lenteng-Beokina.

Keturunan Yakobus Antam.

Yakobus Antam memiliki dua orang isteri. Isteri pertama bernama Regina Nganul. Isteri kedua bernama Eva Laham. Regina Nganul melahirkan Petrus Gambut dan Theodorus Tamat,  Sofia Banul (Sofia Banul meninggal di Sampar semasa gadis) sedangkan Eva Laham memperanakkan Dominikus Babu.

Titisan Petrus Gambut.

Petrus Gambut memperisterikan Sabina Anut. Sabina Anut berasal dari Lando-Kuwus. Petrus Gambut memperanakkan Theresia Anul. Theresia Anul kelahiran Coal, 16 Oktober 1978 bersuamikan Yoseph Nagut, kelahiran 15 November 1964. Yoseph Nagut anak dari Fransiuskus Banggu dan Berta Nganung berasal dari kampung Subu-Gelong.

Theresia Anul dan Yoseph Nagut memperanakkan Frederikus Jefri Darmin Ndili, Maria Kurniati Purnama, Mikael Evergian Syukur, dan Hardianus Yoswaldi Rahman, dstnya.

Titisan Theodorus Tamat.

Theodorus Tamat kelahiran Coal, 13 Juni 1956 memperisterikan Veronika Danut. Theodorus Tamat memperanakkan Melkior Pantur, Ferdinandus Gau (meninggal waktu kecil), Tini Nau (meninggal waktu kecil) Yovita Setia dan Florida Sinar.

Melky Pantur memperisterikan Regina Wanggung, kelahiran Karot, 21 November 1992 berasal dari Karot Tadong-Ruteng berketurunan Ndoso dari pasangan Belasius Tika dan Paulina Jelina.

Melky Pantur dan Regina Wangung memiliki tig orang putera Arnoldus Sanpepi Juang Pantur, lahir di RSUD Ruteng, 19 Mei 2013 pada pukul 06.00 sore (saat tulisan ini dirilis pada Mei 2014). Kemudian putera kedua bernama Vinsensan Jovialen Perki Pantur, lahir di Puskesmas Kota Ruteng, Sabtu, 21 Februari 2015 pada pukul 05.00 sore (ini dirilis pada, Senin, 9 November 2015). Putera ketiga bernama Oktovian Gening Pantur lahir di Leda, Ruteng.

Kedua saudarinya masing-masing berkeluarga dari Atambua, NTT. Anak kedua Yovita Setia, lahir di Coal, 27 Agustus 1987 bersuamikan Lambertus Suri, kelahiran Wek Motis, 15 November 1976 anak dari pasangan Dominikus Mese dan Rouk Leki berasal dari Desa Nanaet, Kecamatan Nanaet Duabesi, Kabupaten Belu, NTT dengan baru memiliki seorang putri bernama Maria Febriani Abu Nera Suri, kelahiran Denpasar, 22 Februari 2012. Kemudian, puteri kedua lahir di Denpasar Bali, 31 Januari 2015 dengan nama panggil Sera. Namun kemudian, Sera dipanggil lagi oleh Yang Mahakuasa, Selasa, 3 November 2015 dan dikebumikan di pemakamam umum Denpasar-Bali.

Anak ketiga Florida Sinar, kelahiran 8 Agustus 1990 bersuamikan Melky Fahik. Melkianus Fahik anak dari pasutri Fransiuskus Luan dan Maria Lulik, kelahiran 2 Mei 1982 berasal dari Lebur, Desa Mandeu, Kecamatan Rai Manuk, Kabupaten Belu, NTT.

Titisan Dominikus Babu.

Yakobus Antan kemudian memperistrikan Ewa Laham, maka lahirlah Dominikus Babu. Dominikus Babu memperistrikan Maria Niul keturunan Mbajang-Manggarai Barat. Domi Babu memperanakkan Stef Rame, Frans Galus, Yulti, Dan, dan Egi, dstnya.

Keturunan Entem.

Entem memperisterikan Naham dari Manga-Pang Lembor dan memperisterikan Maria Isung dari Suku Nawang-Coal. Naham melahirkan Yohanes Jehaban, Bibiana. Maria Isung melahirkan Agustinus Antas.
Yohanes Jehaban memperisterikan Tin Memas dari Suku Tanggar-Coal dan Lusia Lulus dari Cangkang-Boleng. Tin Memas melahirkan Enjel (Enjel pergi merantau dibawa oleh seorang Suster). Sedangkan, Lusia Lulus melahirkan Ferdi Bambang, Sana. Bambang mengambil istri dari Jeong-Manggarai Barat. Ferdi Bambang memiliki dua orang anak, sementara saudarinya Sana memiliki seorang anak perempuan.

Kemudian, Maria Isung melahirkan Agustinus Antas. Agustinus Antas memperistrikan Maria Jiman berasal Wae Ri’i-Manggarai Barat. Agus Antas memperanakkan Nimus, Bi, Fredi, Fons, Geti, dan Deli. Nimus mengambil istri dari Nampe yang merupakan Mbaru Asi. Bi bersuami di Kaper – Manggarai Barat.

Bibiana saudarinya Yohanes Jehaban bersuami di Porong Tedeng bernama Yoseph Mat. Bibiana melahirkan Ari (Ari sudah meninggal tetapi isterinya dan anaknya belum diketahui) dan tiga saudara lainnya.  Sementara, kakak kandungnya Yoseph Mat adalah Yohanes Mentot. Yohanes Mentot memperistrikan Gina dari Lambur-Manggarai Barat keturunan Mjaung dari Suku Mbaru Asi. Yohanes Mentot memiliki 5 orang anak tetapi merantau. Yoseph Mat adalah keturunan Suku Kepe.

Suami pertama Maria Isung berasal dari Dangka-Pacar adalah ayahnya Dame Deleng. Saudari dari Dame Deleng adalah Berta Sinuk. Berta Sinuk bersuami di Wae Ri’i bernama Tinus. Dame Deleng memperisterikan Bibi Juet dari Goloworok. Dame Deleng memperanakkan Irwan.

Keturunan Nel.

Nel bersuami di Bung-Manggarai. Suaminya bernama Nempa. Nempa memperanakkan Lius Gaut, Bernabas Gandut, Baltasar Barung, Tina dan Gina, Rua.

Lius Gaut isterinya dari Lentang-Lelak, Bernabas Gandut isterinya dari Woang-Ruteng, Baltasar Barung isterinya dari Bajawa, Tina suaminya di Anam, Gina suaminya di Rua-Iteng.

Kilasan Keluarga Regina Nganul.

Yakobus Antan memperistrikan Regina Nganul. Ayah dari Regina Nganul adalah namanya Ndaga. Artinya Regina Nganul anak dari Ndaga dan Damung.

Ndaga.


Salah satu keturunan Suku Nawang yang lain di Coal adalah Empo Ndaga. Empo Ndaga beristerikan Damung. Nenek Damung bangkong dari orang Anam. Sedangkan, Empo Ndaga tidak tahu soal hubungannya dengan Benediktus Hampi. Ndaga dan Benediktus Hampi memiliki hubungan saudara Kakek mereka. Empo Ndaga dan Nawung melahirkan Teto Natan dan Regina Nganul. Teto Natam diduga memiliki dua isteri. Sedangkan, Teto Natam beristerikan Biata Ganggus dari Léntang yang melahirkan Her Rutuk dan Kristina Baus. (Cek di asal mula Kampung Coal). Dengan demikian, Regina Nganul titisan dari Suku Nawang, sedangkan ibu kandungnya adalah Damung. Damung dari Anam tetapi kemudian Damung bersuami lagi di Mata Wae.

Saudara kandung dari Regina Nganul adalah Teto Natam. Istrinya Teto Natam adalah Biata Ganggus dari Léntang-Lelak. Saudaranya Biata Gambus di Léntang namanya Natus Nangur, Martinus Marut dan Gabriel (Gaba).

Suku-suku di Coal.

Suku-suku tersebut adalah Mbaru Asi, Nawang, Cireng, Tanggar, Ndajang, Ndoso, Redo, Maras, Dangka, Welak, Nua, Kepe, Bung, Suka, Rahong,Wewo, Nggorong, Lewur, Bajawa (1) dan Bajawa (2). 
 
Suku Mbaru Asi di Coal, keturunannya seperti: Manjing, Yakobus Antan dan Entem. Suku Nawang adalah keturunan Dapung dan keluarga lainnya. Suku Cireng adalah keturunan Gabriel Ngapal dan keluarga lainnya. Suku Tanggar adalah keturunan Hubert Garut dan keluarga lainnya.

Suku Ndajang adalah keturunan Ferdinandus Pantas dan keluarga lainnya. Suku Ndoso adalah keturunan Martinus Kontan dan keluarga lainnya. Suku Redo adalah keturunan Anton Maus dan keluarga lainnya.
Suku Maras adalah keturunan Mikael Renca dan keluarga lainnya. Suku Dangka adalah keturunan Dame Deleng. Suku Welak adalah keturunan Dorteus Magut. Suku Nua adalah keturunan Markus Magul dan keluarga lainnya.

Suku Kepe adalah keturunan Men. Suku Bung adalah keturunan Laba. Suku adalah keturunan Bone Kemon dan keluarganya. Suku Rahong adalah keturunan Beda. Suku Wewo adalah keturunan Markus Kandang. Suku Nggorong adalah keturunan Her Jehalut.  Suku Lewur adalah Gabriel Sea.
Suku Bajawa (1) adalah keturunan Yoseph Boga. Suku Bajawa (2) yang lainnya adalah Serilus dan keluarganya.  

Mengapa Disebut Kampung Coal?

Disebut kampung Coal karena ada sebuah batu berdiri tegak di depan pintu gerbang kampung sebelum masuk alun-alun kampung dan rumah adat Gendang Coal. Kalau diterjemahkan, Coal adalah bahasa Inggris yang diindonesiakan sebagai batu bara. Maka, Kampung Coal identik dengan kampung batu bara.

Sekitar 100 m di bagian barat kampung tersebut menuju Lenggo terdapat tumpukan bongkahan batu yang terbentuk dari lapisan batu kapur diberi nama watu ngeru. Watu artinya batu, ngeru artinya bau yang keluar dari benda tertentu layaknya batu. Dengan demikian, watu ngeru artinya bau khasiat dari sebuah bau.

Anak Kampung di Coal.

Coal memiliki pemekaran anak kampung, di antaranya: Lenggo, Bea Waek, Ntalung, Laing Roju.

Wilayah Perkebunan di Coal.

Wilayah persekitaran Sama adalah Limbang, Rohi, Rohi Saung Sue, Geleng, Ndori, Ros, Wae Todo, Kebe Lewe, Ngonde. Wilayah persekitaran Dantung adalah Dantung, Rebong, Ros, Daeng, Wae Lowang, Waniasa, Likang Lenggo.

Wilayah persekitaran Ntalung adalah Liang Roju, Belang Taak, Watu Pentung, Ndori, Ntalung, Bea Waek, Tamong, Reweng Ajo, bagian utara-timur Porong Tedeng. Wilayah persekitaran Rame Gilo adalah Rame Gilo, Watu Nenu, Lenggo. Wilayah persekitaran Coal adalah Coal, Ngangkar, Lungkung, Lombong, Rahi.

Catatan: Narasumber tunggal Theodorus Tamat (58) berasal dari Coal, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Diwawancarai di Ruteng, 14 Mei 2014.  Ditulis oleh: Melky Pantur.

Catatan Perbaikan:

Wewet berasal dari Kole, Satar Mese Utara (SMU). Isterinya Wewet dari Bola, Ruang. Anaknya Wewet adalah Rimang dan Rina. Anaknya Rimang adalah Mbatang, Peleng, Sele dan Sambi. Anaknya Sele adalah Yakobus Antan di Coal. Mbatang tinggal di Nampe, anaknya Bobok, Nimpang. Karena Mbatang ini meninggal maka Peleng mengambil (lili) maka lahirlah Agus Atum. Anaknya Bobok adalah Matias Hagul, Nimul, Ida Jenia. Nimpang anaknya Yohanes Kabut, Thomas Nisa, Agus Atum. Anaknya Matias Hagul adalah Monika Iman, Kosmas Blaang, Yustina Mumur, Adrianus F. Guntur, Maria F.Angur, Bonefasius Ombot, Eremias Bok. Sambi bermusafir ke Boleng, kemudian isteri di Wakel Welu, Rejeng. Anaknya Agus Atum adalah Paulus Pangu, Marselus Mawan.

Kemudian Rina yang tinggal di Lambur memperanakkan Lija. Lija memperanakkan Ngitan dan Ngiba (lahir dari isteri pertama), istri kedua lahir Karolus Kenanu dan Sius Laho. Karolus Kenanu lahirlah Kae Mus dan Bruder Enjel Nadut.

Wawancara: Bapak Matias Hagul (62). Goro-Ruteng, Rabu (12/9/2015).
Menurut Bapak Matias, keluarga ini bertotem (ceki) garuda atau cemberuang dan ayam hutam. Nama suku Nampe Mbaru. Jadi, tidak ada hubungannya dengan suku Mbaru Asi di Pongkor.

Tambahan Lainnya: 
Sejarah Gere: Gere memperisterikan Wiwa yang berasal dari darah Cireng. Lalu, lahirlah Pedo, Mias dan seorang saudarinya. Namun, Mias dan saudarinya satu kali meninggal. Wiwa dari Cireng, asli Coal. Wiwa memiliki seorang saudara bernama Kaso.

_____Tulisan ini masih terus diperbaiki karena masih belum sempurna. 

Nikolaus Majit

Nikolaus Majit (45, 2020), Petani, agama Katolik, alamat Dusun Golo Manuk, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, Asia.

Kampung Bere

Nikolaus ini bertetangga dengan Maksimus Ental (44, 2020), Petani, agama Katolik,  alamat Dusun Bere, Desa Bangka Ajang, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai. Maksimus Ental memperisterikan Berta Ijung.


Camat Rahut Memediasi Kasus Batas Tanah Warga Kampung Bere di Kantor Desa Liang Bua

Tulisan ini diabadikan untuk dikenang sepanjang sejarah!!!

Jangan dianggap bahwa si vis pacem, para bellum atau jika kamu mendambakan perdamaian, bersiap-²lah menghadapi perang. 
Tetapi yang benar
duduk bersama terlebih dahulu baru menemukan jawaban atas soal.

Penyelesaian di Kantor Desa Liang Bua,
Selasa, 21 April 2020.

Camat Rahong Utara, Geradus Tanggung turun ke Kampung Bere, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memantau langsung soal batas (langang) antara rumah milik Nikolaus Majit (45) dengan Maksimus Ental (44) yang kembali memanas pada Jumat, 17 April 2020. Kedua rumah tersebut saling berdempetan.


Camat Geradus bersama Kepala Desa Liang Bua, Hendrikus, Babinsa, Sertu Yunus dan Serda I gusty Putrayasa telah mengecek lokasi kejadian, Sabtu, 18 April 2020, Pukul 11.00 WITA tepatnya di Dusun Golo Manuk, Kampung Bere dan selesai Pukul 13.00 WITA, demikian data yang diperoleh Penulis dari beberapa sumber di lokasi.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh di lapangan, telah terjadi masalah batas tanah rumah yang berdekatan sehingga air hujan  yang mengalir lewat atap seng mengenai tembok dinding rumah masing-masing, sementara belum ada pemasangan talang air hujan.

Pengukuran langang di lokasi bersama aparat keamanan, pihak Desa.

Langkah Babinsa bersama Babinkamtibmas telah berkoordinasi dengan Kepala Desa di dua Desa yang bertikai serta dengan Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Pemuda untuk membahas permasalahan tersebut dengan menyelesaikannya secara kekeluargaan dan adat setempat.

Permasalahan tersebut sudah disampaikan ke Camat dan Pak Camat sudah menyampaikan kembali kepada Kepala Desa Liang Bua. Rencananya akan diselesaikan di Kantor Desa Liang Bua melaksanakan mediasi sesuai kesepakatan bersama oleh Camat, Babinsa, Babinkabtinmas, Tu'a Gendang Golo Manuk, Desa Liang bua dan Tu'a Gendang Bere, Desa Bangka Ajang untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan.


Rencananya, akan mengundang semua tokoh dari kedua Desa yang bermasalah pada hari Selasa, 21 April 2020 oleh Kepala Desa Liang Bua sesuai kesepakatan untuk menyelesaikan kejadian di lokasi. Kesepakatan pun dilakukan dan pada Selasa malam, digelar hambor antara kedua belah pihak di Kampung Bere.

Kronologi Soal.

Nyaris mencapai setahun, kasus batas tanah antara Nikolaus Majit dan Maksimus Ental di Kampung Bere, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) belum kelar. Polres Manggarai telah melakukan oleh Tempat Kejadian Perkara (TKP) tetapi hingga kini kasus itu masih tersangkut di Polres.

Sabtu, 18 April 2020
Camat Rahong Utara memantau langsung lokasi sengketa langang di Kampung Bere.

Menurut Nikolaus Majit melalui salah satu sumber, Jumat (17/4/2020), awalnya kasus itu terjadi pada 12 Mei 2019. Nikolaus Majit (NM) bermasalah dengan Maksimus Ental (ME). Isterinya NM hari itu tengah menumbuk kopi. ME datang dari Ruteng. ME ini datang dari Ruteng membawa serta parang dan linggis. Tiba di Bere, ME kemudian mengancam isterinya NM. ME saat itu mengatakan, tirisan air hujan yang jatuh dari seng rumahnya jatuh tepat di lahan miliknya. Isterinya, NM kemudian menjawabi ME, bahwa rumah itu bukan rumah yang baru dibangun tetapi rumah kami sudah tua bahkan agak rusak dan soal batas (langang) masih jauh, bukan di tempat tirisan air hujan yang jatuh dari seng ini.

Karena isterinya NM menjawab demikian, ME mengancam untuk membunuhnya. ME membawa linggis dan parang untuk mengancamnya. ME kemudian menghantam tiang penopang talangan air hujan itu dengan linggis. Karena si ME ini tidak kesampaian memukul isterinya NM, maka ia kemudian menghantam tiang penopang talangan air itu.


Baca juga:


Malamnya, isteri dari NM melaporkan kejadian itu ke Polres Manggarai. Polisi kemudian ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Bere. Sayangnya, hingga hari ini, Jumat, 17 April 2020, kasus itu belum kelar-kelar.

Hari ini, Jumat, 17 April 2020, menurut isteri NM, isteri dari ME mencegat kembali soal batas tanah itu (persis rumah mereka berdampingan)‐---untuk diketahui, kasus itu tidak dibawa ke Tetua Adat tetapi langsung dibawa ke Polisi.

Polisi pada saat itu meminta agar diurus secara kekeluargaan. Keluarganya, ME membawa uang sebanyak 1,5 juta rupiah dan 1 botor bir tetapi isteri NM tidak menyetujuinya. Bagi NM, uang bisa dicari tetapi manusia tidak bisa dicari lagipula dirinya merasa kalut dengan peristiwa itu. Isteri NM mereka takut dengan kasus itu (jejer dalam bahasa Manggarai).


Ia mengaku, beberapa kali keluarga ME meminta agar berdamai (hambor) secara adat Manggarai tetapi pihak NM tidak menyetujuinya karena sudah terlanjur takut, cemas (gege). Polisi kemudian berusaha mendamaikan kasus tersebut. Namun, pihak NM meminta, kalau berdamai, pihaknya meminta uang sebesar 5 juta rupiah dan disertakan dengan surat pernyataan antara kedua belah pihak agar pihak ME tidak melakukan hal itu lagi ke depannya. Sayangnya, ME menimpali hanya dengan sebotol tuak saja. "Persis hari ini, rumah kami dikerjakan, mereka kembali menggugat batas-batas itu," ungkap isteri NM melalui sambungan selulernya.

Menurut NM, Polisi yang memeriksa ke lokasi namanya Wan Landomari (dugaan nama). Jika tidak diselesaikan kasus itu, kata NM akan terjadi baku bunuh (ala tau). Jumat, 17 April 2020, isteri dari ME itu yang mencegat. Pihak ME masih bersikeras mengaku, di bagian tirisan air hujan yang berasal dari seng itu merupakan tanah milik ME. Isteri dari ME bernama Berta Rijung.

Baca juga: Perbedaan Tala Ela Wase Lima dan Hambor


Soal Selesai.

Tepatnya Selasa, 21 April 2020, Pkl 10.00 WITA. Babinsa An Sertu Yunus, Serda I Gusty Putrayasa menghadiri penyelesaian masalah batas tanah rumah di Kantor Desa Liang Bua, antara kedua anak kampung dan Desa, atas nama Nikolaus Majit (45), Petani, alamat Desa Liang Bua, Dusun Golo Manok, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, Flores dengan Maksimus Ental (44), Petani, alamat Desa Bangka Ajang, di Dusun Bere, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai.

Adapun hasil penyampaian sesuai kesepakatan bersama. Dalam proses mediasi penyelesaian masalah ini kedua belah pihak menerima untuk masalah ini diurus secara kekeluargaan/adat Manggarai.

Hasil keputusan/kesepakatan setelah meminta  pertimbangan berapa solusi dari beberapa peserta rapat, antara lain: Tokoh Adat, Camat Rahong Utara, Kepala Desa Liang Bua, Kades Bangka Ajang, Tokoh Adat Gendang Bere, Tokoh Masyarakat dan sebagian keluarga dari kedua belah pihak, yang ikut menyelesaikan masalah tersebut.

Bahwa Nikolaus Majit dan Maksimus Ental bersepakat tanah sengketa tersebut dibagi dua dan dibuat talang masing-masing dan kesepakatan kedua belah pihak tanpa ada paksaan dari pihak manapun bahwa masing- masing kedua belah pihak mendapatkan bagian.

Ukuran tanah untuk Nikolaus Majit dengan panjang ukuran 8,7 m, lebar 85 m; ukuran tanah untuk Maksimus Ental, panjang 8,7 m, lebar 85 m.

Langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah batas tanah rumah tersebut agar kedua belah pihak tidak saling menyalahkan satu dengan yang lain karena tempat dan bangunan rumah yang kurang diperhitungkan jarak pada saat dibangun kedua rumah tersebut.

Gambar ini saat Camat Rahut datang di Kampung Bere, Sabtu (18/4/2020) melihat lokasi konflik.

Tokoh Adat, Tua Gendang, Tokoh Masyarakat, Toko Agama, Camat Rahong Utara, Babinsa dan Babinkabtinmas berkoordinasi dan menyepakati untuk menyelesaikan permasalahan batas tanah rumah dengan cara kekeluargaan, yaitu dengan cara adat-istiadat setempat.

Dan tidak ada lagi kejadian seperti ini, ke depannya karena sudah saling menerima dan saling menyadari akan perbuatannya dan diikat oleh perjanjian adat.

Dengan demikian, penyelesaian masalah tersebut dengan cara adat Manggarai kepok tuak, dengan uang sebesar 1 juta rupiah Maksimus Ental kepada Nikolaus Majit sebagai ikatan adat dan ucapan terima kasih Maksimus Ental.

Turut hadir dalam problem solving itu, antara lain:

1.Camat Rahong Utara.
2.Babinsa
3.Babinkabtinmas
4.Kades Liang Bua
5.Kades Bangka Ajang,
6.Tu'a Gendang Bere, Tomas, dan Toda,

Kegiatan penyelesaian masalah  batas tanah rumah dengan cara kekeluargaan berakhir Pukul 17.00 WITA, dalam keadaan aman dan tertib.

Syukur kepada Yang Kuasa.

Nikolaus Majit dan Maksimus Ental berdamai secara adat Manggarai di Bere, Selasa malam dengan dibuatkannya ritual adalah awek lewang gejek kut one waes laud'edeh, one lesos saled'edeh.

Ruteng.
Selasa, 21 April 2020.
Melky Pantur***).

Catatan:

Konsumsi pribadi dan sebagai dokumen sejarah saja.

Perbedaan Tala Ela Wase Lima dan Hambor dalam Konteks Soal Menurut Budaya Manggarai

Dalam budaya Manggarai, penyelesaian konflik menggunakan tiga metode, yaitu tala ela wase lima,  hambor dan redek.

Tala ela wase lima berarti seseorang dihukum dengan kewajiban membayar tuntutan hukum adat. Sedangkan, hambor tidak menuntut ganti rugi.

Manakala terjadi peheng (luka), maka tuntutan hukum dengan mewajibkan seseorang yang disebut pelaku memenuhi wunis peheng. Wunis peheng itu bukan hukuman tetapi hanya sebagai medium hambor.

Bila para pihak bersengketa dan tidak terjadi peheng, kemungkinan didenda berupa tala tetapi jika ada kesepakatan demi memulihnya relasi kekerabatan, maka cukup disebut hambor saja. Karena tala ela wase lima itu bukan damai tetapi hukuman.

Dalam konteks hukum positif, tala ela wase lima sama dengan putusan Pengadilan bahwa seseorang harus dipenjara.

Zaman dulu, manakala terjadi kasus pembunuhan, maka hukumannya tergantung hukum yang berlaku di Gendang yang dipimpin oleh Tu'a Golo bersama Tu'a Gendang sebagai saksinya Tu'a Teno, Tu'a Panga termasuk pang olo ngaung musi. Dan karena Negara sudah hadir, kasus pembunuhan diserahkan ke Pengadilan melalui proses di Kepolisian.

Secara adatnya kalau terjadi kasus pembunuhan, akan digelar ritual oke dara ta'a. Bila meniduri saudari atau ibu kandung, maka dibuat ritual kepu munak. Bila selingkuh dan loma lelo, maka ada acara tala ela wase lima. Bila terjadi kasus menceraikan isteri, maka dibuatlah ritual saung leba di mana suami-isteri resmi berpisah.

Jika saung leba ditarik kembali karena atas dasar ingin kembali hidup bersama sebagai suami-isteri, maka dibuatlah ritual hambor diikuti dengan ritual takung ase ka'e weki de wina rona karena hambor ase kae weki bentuk rekonsiliasi.

Bagaimana jika terjadi perang tanding antara Gendang? Siapa yang melakukan mediasi?

Baca: Budaya Dodo; Morin, Wura agu Ceki

Dalam kehidupan orang Manggarai, hukum rimba menjadi tolok ukur utama. Siapa yang kuat, dialah pemenang. Tetapi tiap Gendang ada relasinya. Karena ada Gendang Widang, ada pula Gendang Cahir. Dan ada Gendang Li (Gendang Li adalah Gendang yang tidak diberikan oleh Gendang-Gendang yang lain).

Di Manggarai, ada pula yang disebut Lumpung, Tambor, Niang. Lumpung bisa lumpung leca, ada pula lumpung rangko. Sedangkan, tambor adalah rumah adat yang diberikan oleh anak rona ke anak wina. Sedangkan, niang adalah rumah adat dari suku tertentu.

Mbaru di Manggarai ada beberapa jenis, yaitu: Gendang, Tembong, Tambor, Niang, Lumpung, Bendar.  Sedangkan, pondok disebut sekang. Dalam budaya Manggarai, Tambor, Niang dan Lumpung tidak boleh menggelar sae sebelum ritual hewan kurban di mezbah (compang).

Bagaimana penyelesaian soal-soal antara Gendang?

Nah, jika dua Gendang ingin berdamai, maka bisa Hakim Adatnya dari Gendang lain tetapi dalam konteks penyelesaian konflik lingko, yang berhak menyelesaikannya bisa Gendang utama dari Gendang-Gendang yang bermasalah. Yang paling baik adalah anak rona dari Gendang bersengketa tetapi Hakim itu sebaiknya berstatus sebagai anak rona. Dapat juga beberapa Gendang yang bisa dipercayakan dengan menghadirkan Tu'a Golo, Tu'a Gendang dan Tu'a Teno dari Gendang-Gendang yang ditunjuk sebagai Hakim Adat tergantung kesepakatan Gendang-Gendang yang bermasalah.

Baca juga ini: Bom Tombos Cokol Bom Turas Tuda; Takung Wae Cemok

Bagaimana penyelesaian soal di Manggarai?

Ada tiga penyelesaian kasus itu:

Pertama, oleh Pemerintah.

Di sini bisa diselesaikan di tingkat RT, Dusun, Kades, Camat dan Bupati.

Kedua, oleh Kepolisian.

Di Kepolisian bisa dengan penarikan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) atau melanjutkan kasus itu ke Pengadilan. Di Pengadilan masih diberi ruang untuk diurus secara kekeluargaan.

Ketiga, oleh Tetua Adat.

Di Mbaru Gendang dengan dibuatnya ritual adat dipimpin oleh Tetua Adat dan dihadiri oleh pa'ang olo ngaung musi.

Puncak hambor dan selesainya soal itu ada di Mbaru Gendang karena warga Gendang bagian dari Gendang itu sendiri. Penyelesaian soal termasuk apa saja di dalam Gendang. Bila warga berbeda Gendang, maka melibatkan Tetua Adat dari orang yang bersengketa bisa melibatkan Tu'a Adat Gendang lain sebagai saksi.

Penjelasan Tambahan.

Penyelesaian konflik di Manggarai sebagaimana telah disebutkan di atas menggunakan tiga metode, yaitu tala ela wase lima, hambor dan redek.

Tala ela wase lima berarti seseorang dihukum dengan kewajiban membayar tuntutan hukum adat. Sedangkan, hambor tidak menuntut ganti rugi. Kemudian, redek sebenarnya bahasa perhalusan untuk disiksa setelah diproses secara adat. Redek bisa dibunuh, disiksa secara sadis atau dibuang tergantung kesepakatan Gendang.
Penyiksaan secara hukum adat biasa dilakukan oleh Gendang, misalnya di Ruteng Pu'u. Redek ini istilah yang digunakan oleh Penulis sebagai pengganti dari penyiksaan secara sadis terutama kasus pembunuhan.

Bila kasus pembunuhan dilakukan di dalam rumah oleh tuan rumah, maka itu yang disebut purak mukang wajo kampong. Dalam konteks hukum adat Manggarai, jika tuan rumah membunuh di dalam rumah orang bermasalah dengannya, maka hukumannya diputihkan. Manakala tuan rumah yang dibunuh, maka orang yang dibunuh akan disiksa secara adat. Bila kasus pembunuhan di kebun, ladang, jalan maka prosesnya tergantung secara adat. Walau yang disebut korban menurut hukum positif mati, maka jika diselesaikan secara adat maka yang disebut pelaku pembunuhan tidak akan dihukum. Jadi, amat berbeda dengan hukum positif yang tidak melihat keadilan. Tidak ada istilah telah menyebabkan orang lain meninggal dunia. Hukum positif, yang namanya membunuh pasti dihukum meski secara kronologinya si diduga korban salah di depan hukum. Konteks Manggarai tidak hanya setelah itu hambor dan digelarnya oke dara ta'a.

Baca juga: Budaya Oke Copel Relasinya dengan Ceki, Wada dan Torok

Setelah lahirnya NKRI, dalam UUD'45 telah akui bahwa hukum adat berlaku juga di Indonesia dan dianggap bagian dari problem solver.

Ungkapan Harapan Selesainya Soal.

Porong dopo nitus rangkat one gala agu ranga, rungkut one pucu. One waes laud'edeh, one lesos saled'edeh. Cama lewang nggari pe'ang, cama po'e nggari one. Nggoling one tonis, nggolong one gong'eseh. Kapu neka pa'u, pola neka gomal, embe neka bete, lancok anggom. Porong kali ga sangged'eh watang lamba, musa le wura, pepil le ceki, ina sisang, hehak le'as, ciar ringang, wears pempang, ndurus rucuk'ekeh.

Catatan:

Pembaca bisa menambahkan atau mengurangi apa yang telah ditulis. Silakan memberi masukkan di kolom komentar jika ada waktu. Tulisan ini masih belum lengkap dan membutuhkan refrensi tambahan. Masukkan Anda akan melengkapi isi tulisan ini.

Tulisan ini dibuat secara mendadak karena pertimbangan ketika ada waktu senggang karena ditakutkan Penulis mengalih ke kesibukan lain sehingga bisa saja coretan ini bisa dilupakan. Pembaca budiman, silakan dikritik dari struktur, redaksi dan sebagainya.

Salam hormat.

Selasa, 21 April 2020
Melky Pantur***).
Ruteng.

20/04/20

Bom Tombos Cokol, Bom Turas Tuda!

Sebelum didalami apa makna dari kalimat di atas, terlebih dahulu diawali dengan arti katanya:

Bom : Maunya, karena tidak, yah memang, yah tidak mungkin, yah tidak.

Tombo: Menceritakan, memberitahu. Tombo (ditambah dehakamenpresty s menunjukkan pada penekanan dan pemberitahuan, pengkabaran dan penceritaan).

Cokol: Pinjam, meminjam.

Tura: Menceritakan secara luas, mengumunkan.

Tuda: Meminjan dengan sistim ijon. Lazimnya berlipat ganda dari ukuran sebelumnya. Misalnya, meminjan 1 kilogram akan dikembalikan 2 kilogram.

Ungkapan ini maknanya sangat luas. Ungkapan ini tidak berarti seseorang harus meminjam sesuatu dengan orang atau badan tertentu untuk mendapat bunga dari pinjamannya. Tidaklah demikian!

Makna ungkapan di atas adalah semenderita apa pun seseorang, semiskin apa pun ia, ia tidak akan mengeluh dan menyampaikannya kepada siapapun keadaannya itu ketika ia membantu sesamanya yang miskin. Ia menyimpan semua perkaranya di dalam hatinya dan menguncinya rapat-rapat sebab percuma ia mengeluh, tidak ada yang dapat menolongnya ---bukan karena menutup diri atau kuper (kurang pergaulan). Contoh, ada yang malah miskin tetapi memiliki welas asih membantu sesama yang miskin. Di sini, meski orang bersangkutan yang membantu itu hidupnya amat susah. Apa yang dikatakannya: Bom tombos cokol, bom turas tuda. Arti dari ungkapan ini adalah saya juga miskin tetapi perkara itu saya tidak menyampaikannya kepada kalian. Tidak berarti untuk mempertahankan hidup harus meminjam uang ke mana-mana demi suatu kemewahan.

Silakan baca juga ini: Perbedaan Tala Ela Wase Lima dan Hambor

Ungkapan di atas adalah suatu prinsip bahwa apa pun tantangan kemiskinan, harus dihadapi, harus diterima, jangan dihindari tetapi tabah sembari bekerja keras. Mental meminjam untuk suatu kilau-kilauan adalah bentuk kontras dari ungkapan di atas.

Orang yang karena ketidaktabahannya dalam penderitaan maka akan terjadi lino pong toe jari. Lino pong toe jari terjadi karena ada prinsip arogan dalam hidup aku kanang ro'ang le poco (aku saja orang terhebat di bumi). Prinsip aku kanang ro'ang le poco berbanding terbalik atau sangat kontras dengan prinsip hidup bom tombos cokol bom turas tuda.

Prinsip bom tombos cokol, bom turas tuda dapat diartikan penderitaanku kutanggung sendiri dan menyimpannya pula di dalam hatiku apa yang menjadi keluhanku.

Melky Pantur***).
Selasa, 21 April 2020.
Ruteng.

19/04/20

Lino Pong Toe Jari


Pong artinya oase bagi orang Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Lino (dunia), pong (oase), toe (tidak), jari (vitae, hidup, bertumbuh). Maka, ungkapan itu diartikan sebagai oase dunia yang tidak hidup, tidak bertumbuh atau dunia yang tidak beres, penuh tanda tanya karena pelbagai soal ketidakadabelaskasihan terhadap manusia dan kemanusiaannya. Lino itu sendiri adalah oase itu sendiri.
Propaganda covid-19 meluas. 

Medis dianggap sebagai Dewa sekarang ini karena apa saja kata mereka soal hasil tes dianggap pasti, mutlak. Rakyat dunia mana tahu?

Lalu, ada sekelompok orang diduga memanfaatkan situasi seperti ini ---Eric Tohir pernah menyampaikan hal itu. Sepakat dengan perkataan Menteri ini walau menyangka.

Kemudian, jika ada warga miskin yang kemplein karena tidak didata dengan baik untuk mendapat dana kompensasi 600.000 rupiah per bulan, maka inilah satu bentuk dari ungkapan lino pong toe jari. Apa yang disangkakan Menteri Eric bentuk lain dari ekspresi lino pong toe jari

Diharapkan dengan propaganda covid-19 ini, fakta lino pong toe jari ini berakhir pula.
Ekspresi penyebab terjadinya lino pong toe jari karena munculnya ungkapan ini: aku kanang ro'ang le poco.

Melky Pantur***,
Ruteng, 19 April 2020.
Pukul 19.00 WITA.

11/04/20

Molas One Mai Coal

Oe molas.....!
Bo keta molasm enu e...
Landing co'o kaut do rona me
Molas e....molas one mai Coal e
Molas e....molas one mai Coal e

Bo keta nanang genu e....
Landing co'o kaut ngonde holes me
Molas e...baes keta laing me
Molas e....molas one mai Coal e

Oe molas...!
Bokak dat' koe rona leso ho'o molas e...
Do bail jopakn molas e
Molas e, lelo di'a kates e
Molas e, rantang yoke reme ngoel me
Molas e, lelo di'a kates e
Molas e, rantang ribi rebas panden ne

Oe molas...!
Neka yita hanang reban ata molas e
Lelo kole holes weki ne
Molas e, pilir di'a di'as e molas e
Molas e, boto runcung dodo du kilos e
Molas e, boto runcung dureng du kilos e
Molas one mai Coal e

Oe molas...!
Eme tiba taeng data molas e
Yolong hintir musi main e
Molas e, rantang wuli watir moses e
Molas e, nuk di'a di'am e
Molas e, neka ba landing rang me
Molas e....molas one mai Coal e

Lagu ini diciptakan
Oleh: Melky Pantur, 2002.
Dirubah lagi,
Sabtu, 11 April 2020.

Oe molas...!
Bokak dat koe rona leso ho'o molas e....
Do bail jopakn molas e
Molas e, lelo di'a kates e
Molas e, rantang yoke reme ngoel me
Molas e, lelo di'a kates e
Molas e, rantang ribi rebas panden ne


Oe molas...!
Neka yita hanang reban ata molas e
Lelo kole holes weki ne
Molas e, lelo di'a di'as e
Molas e, pilir di'a di'as e
Molas e, boto runcung dodo du kilos e
Molas e, boto runcung dureng du kilos e

Oe molas...!
Eme tiba taeng data molas e
Yolong hintir musi main e
Molas e, rantang ruda olon e
Molas e, rantang wuli watir moses e
Molas e, nuk di'a-di'am e
Molas e....molas one mai Coal e
Molas e, nuk di'a-di'am e
Molas e....molas one mai Coal e