09/01/18

Perempuan dalam Budaya Manggarai.

Ditulis oleh: Melky Pantur***, 
Selasa (9/1/2018).



Mengkaji tentang eksistensi perempuan ala Manggarai memang menjadi perbincangan sepenggal karena adanya stigma eksteren tentang mengakarnya prinsip subordinatif yang terlihat sepertinya masih sangat kental apalagi dengan sistim partiarki yang dianut. Namun, cara pandang seperti itu sangatlah keliru karena sebenarnya budaya dan tradisi orang Manggarai tidak melihat perempuan sebagai entitas subordinatif alias kelompok kelas kedua. Beberapa alasan tradisi dan budaya orang Manggarai yang sangat menjunjung tinggi gender, antara lain:

Pertama, belis. Belis bukanlah wujud dari subordinatif - subordinatif artinya perempuan sebagai kelas kedua atau penurunan dari laki-laki), tetapi belis lebih pada tanggungjawab, tanggung renteng soal pengasuhan, penghargaan bukan pula pembelian karena belis itu sifatnya dinamis bukan statis. Kepada siapa penghargaan itu diberikan? Yah, kepada kedua orang tuanya. Memang berbeda dengan tradisi orang Bajawa yang hak warisan diserahkan kepada perempuan atau dikenal matrilineal. Karena dibelis, demikian tradisi orang Manggarai, perempuan disebut ata pe'ang atau orang di luar sedangkan anak laki-laki disebut ata one (orang di dalam).

Kedua, tradisi kepok. Kepok atau dikenal sapaan adat lazim dilakukan oleh kaum laki-laki. Tetapi dalam tradisi dan budaya orang Manggarai, tidak ada aturan atau kebiasaan yang melarang perempuan untuk kepok. Kepok bisa dilakukan oleh perempuan bisa oleh laki-laki.

Ketiga, tradisi tudak. Tudak atau doa adat bisa dilakukan oleh perempuan. Hal itu tidak ada larangan yang terpenting perempuan itu bisa berbicara secara adat.

Keempat, tradisi purak/raha. Dalam tradisi purak alias raha atau kerap diterjermahkan sebagai perang tanding perempuan bisa menjadi pemuka perang. Hal itu kerap terjadi di Manggarai.

Kelima, tradisi tiba meka. Menyelendang tamu, bisa dilakukan oleh laki-laki, bisa juga oleh perempuan.

Keenam, tradisi sae. Tarian sae lazim laki-laki bersama perempuan termasuk rangkuk alu bisa dimainkan pria dan wanita.

Ketujuh, roko molas poco. Di sini perempuan sangat diagungkan apalagi siri bongkok adalah perempuan itu sendiri dengan mana para tetua adat bersandar di tempat tersebut.

Kedelapan, tradisi ngelong. Rekonsiliasi itu dapat dilakukan oleh perempuan.

Kesembilan, pangga wakas. Tradisi ini bisa oleh laki-laki juga oleh perempuan.

Ada beberapa hal yang sulit dilakukan perempuan dalam tradisi dan budaya orang Manggarai, antara lain: lilik compang, tudak kaba, renge jarang, renge ela, oke dara ta'a, dan termasuk poro putes. Kalau tudak manuk teing hang bisa dilakukan oleh perempuan. Mengapa tidak boleh dilakukan oleh perempuan? Alasannya? Yah, seorang tukang tudak diawali dengan ritual takung/wuat wa'i dan caca selek. Lalu, lilik dengan mana perempuan adalah simbol pisau sedangkan laki-laki adalah parang. Nah, kalau tudak manuk saja bisa, maka kepok sangat bisa karena kepok hanyalah sapaan biasa!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar