19/07/18

Mengapa Orang Manggarai Menggunakan Ruha sebagai Medium Ritual Ngelong?

Ditulis oleh: Melky Pantur***),
Jumat (20/7/2018).

[Penulis]

[Co'o tara eme ngelong data Manggarai ali le ruha?]

-----Sebuah pemikiran absurdity comparatives, based on those mythologies.

Apa itu ruha? Apa itu ngelong

Yah, ruha artinya telur, sedangkan ngelong adalah sebuah aktus ritual rekonsilir dengan hewan dan tetumbuhan (hambor agu weang de nuca - hambor (pendamaian), agu (dengan), weang (dedauan kering, sampah), de (dari, oleh), nuca (bumi, pertiwi, tanah) yang artinya segala sesuatu benda milik pertiwi, yang kemudian lahir istilah ata one lino disebut sebagai saung de haju wela de nuca - dedaunan pepohon dan bunga yang muncul dari bumi yang sewaktu-waktu jangka waktu tertentu akan terurai karena apa yang berasal dari bumi kembali ke bumi dan apa yang berasal dari Roh akan kembali ke Roh, demikian Injil kudus menulis juga). 

Ruha yang digunakan juga harus dari telur ayam kampung, tidak bisa telur dari unggas lain selain ayam kampung. Nah, hukum kedekatan menjadi dasar di sini - memang siapa yang dekat pasti dia yang menjadi kurban (sacrifice animals).

Coba kita perhatikan absurdity comparatives berikut:

Menurut Hindu, Dewa Brahma datang (lahir) dari sebuah telur. Brahma sebagai Pencipta bertahtakan lotus (teratai) mirip teratai tonjong di Pota, Flores, Indonesia - sekilas info, teratai tonjong hanya ada dua di dunia, Pota, Flores dan India. 

Helena, isteri dari Menelaos, seorang Raja Sparta lahir dari telur angsa. Dalam mitologi Yunani kuno, Helena yang pernah diculik Paris dari Troya yang menyebabkan pecahnya Perang Troya dinilai berasal dari titisan Dewa Zeus. Dewa Zeus merubah diri menjadi angsa karena isterinya merubah diri jadi angsa sebelumnya. Dugaan pertama Leda adalah ibu angkat, dugaan kedua Leda adalah ibu kandungnya Helena.

Mengapa bermalirupo menjadi angsa?

Dalam Hindu, angsa adalah sejenis kendaraan Dewa Brahma, Dewa Wisnu berkendarakan Garuda dan Dewa Siwa berteman dengan Cobra. Garuda kemudian menjadi Lambang Negara Indonesia.

Angling Dharma, Raja Malawapati. 

Akibat mengerling isteri Naga Bergola yang bermesum dengan naga lain, Naga Bergola geram. Ternyata tuduhannya salah setelah memergoki Angling bercakap-cakap dengan isterinya, saudari dari Batik Madrin. Angling pun yang dianggap sebagai penjelmaan Dewa Wisnu, diberi Ajian Senyawa atau Aji Gening oleh Bergola di mana Angling kemudian mampu mendengar dan memahami bahasa semua jenis binatang - hal itu persis seperti kemampuan yang dimiliki oleh Yuliana Jemen, Ibu Kandung Pak Christ Rotok).

Saudari Batik Madrin ngotot mau membongkar rahasia ilmu itu. Perempuan itupun bunuh diri ke dalam kobaran api yang menyala-nyala karena Dharma bersi keras tak membongkar. Angling kemudian stress. Ia pun berkelana dan berhasil diguna-guna oleh makhluk lain yang kemudian menjadi angsa. (Baca kisah ceki nderu Lalo Koe dan Wengke Wua di Todo).

Karena berkat angsa inilah, Angling kemudian berhasil bertemu dengan isteri keduanya yang kemudian melahirkan Angling Kusuma --- cerita itu sangat panjang!

Relasinya dengan ceki orang Nuca Lale.

Zaman lampau, orang-orang di Manggarai banyak sekali memiliki ilmu Ajian Gening yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya ceki (totem) --- Baca kisah mistis dari Wae Teku Pau Ruteng dan cikal bakal Gendang Kumba. Baca juga kisah Ndiwar Kewali di Golomori).

Relasinya dengan Kitab Kejadian. 

Masa lampau, bagaimana sebuah kiasan tentang Adam yang berbicara dengan ular di Taman Eden, Firdaus tentang buah terlarang. Adam bercakap-cakap dengan ular.  Itu adalah Aji Senyawa!

Rahim.

Kita pun melihat bagaimana rahim mirip seperti telur, yah bayi dengan plasentanya. Atas kuasa-Nya, Ilahi menciptakan ciptaan-Nya dengan secara ajaib.

Telur, Lotus dan Wijaya Kusuma.

Bunga ketika bermekar akan seperti cangkang telur (rongkam ruha). Teratai tonjong sebagai jenis lotus adalah satu simbol tahta Dewa dalam Hinduisme. Wijaya Kusuma adalah sejenis bunga yang mirip dengan kaltus, sedikit mirip teratai darat. Wijaya Kusuma adalah sejenis tetumbuhan obat yang menghidupkan orang mati oleh Sri Krisna pada kisah Jawa Kuno. Kemudian, bunga yang sama yang didapat dari alam gaib digunakan oleh Raja Angling pada masanya dulu untuk menghidupkan orang mati akibat perang. Yah.....itu hanya keserupaan saja!

-----Lalu.....

Helena tadi bercahaya. Aneh juga kan memang! Apa hubungan dengan Dewi Gangga, Bunda Maria dalam Katolik, Nyai Roro Kidul Ratu Pantai Selatan dalam mitologi Jawa, Dewi Kwan Im? Apa pula hubungannya dengan kisah Loke Nggerang, kisah Ndiwar Kewali, kisah Pong Dode dan beberapa tempat lainnya di dunia?

Dan........

Kalau orang Manggarai punya, sebagaimana telah lama lumrah terdengar, yah bernama Loke Nggerang di Ndoso, anak dari Rampasasa sebagai bapak angkatnya yang merupakan darat (bidadari). Nggerang memiliki seorang ibu kandung bernama Hendang dan diduga suami manusianya Hendang bernama Wengke Wua. Uniknya, Nggerang harus dibelis (paca le) dengan hewan yang langka, yang paling terkenal sulit dicari seantero jagat adalah Kaba Pada (Stefanus Gancur, Nggerang dalam Kisah, hal. 34-35).

Stef menulis, ciri-ciri Kaba Pada: 

Tinggi badannya -+ 30 cm; besar badannya seperti babi landak; memiliki tanduk seperti kerbau dewasa; dan panjang badannya -+ 60 cm. Kerbau tersebut, tulis dia, hanya ada di Sano Ndoeng, Pongkal Rego. Kaba Pada itu pun merupakan kaba de darat (kerbaunya bidadari).

Kita perhatikan pula bagaimana kisah di negeri timur Indonesia, di NTT tentang perempuan yang bercahaya. Tentu ada banyak hal keterkaitan kisah-kisah di negeri lain di dunia ini yang menuju pada kebesaran Ilahi.

Kemudian, mengapa menggunakan telur?

Yah, segala yang lahir datang dari telur, indung telur. Orang Manggarai menggunakan ruha karena telur adalah medium kelahiran menuju perutusan. Telur tidak mempunyai mata dan telinga tetapi kemudian mampu memiliki mulut dan telinga. Telur adalah awal kehidupan. Telur adalah representasi dari ketundukan, kepatuhan, pemaafan dan mengosongkan diri. 

Dari kisah di atas, bila Helena dari telur, Dewa Brahman dari telur, semua makluk hampir yang lahir dari telur, halnya manusia lahir dari dalam rahim ibu yang mana plasenta adalah bentuk klimaks dari telur (indung telur). Perhatikan pula hewan mamalia lainnya. Coba perhatikan pula tetumbuhan yang berbiji yang bentuknya seperti telur meski ada juga yang tumbuh dari dan menggunakan daun saja dan sebagainya. Yah itulah kehendak Yang Kuasa!

Intinya telur adalah benda buta, belum bisa melihat. Coba perhatikan ritual paki jarang bolong yang menggunakan acu mbilek, acu tesem (anjing buta), begitupun ayam yang kecil. 

Artinya, pelaku tidak tahu apa-apa karena saat melakukan kesalahan, dirinya ibarat telur yang tidak melihat, tidak memahami dan mata hati dan pikirannya buta. Itulah makanya ngelong le ruha tanda meminta maaf karena ketidaktahuan. Ruha juga simbol penyerahan diri agar mendapat anugerah kesembuhan dari rekonsiliasi (hambor) tersebut. Telur juga simbol lonto leok (perdamaian, persaudaraan) - padir wa'i rentu sa'i, wa wae cama-cama, eta golo cama-cama.

Itulah sedikit ekspresi dan gambaran dari pemanfaatan dari telur dalam ritual ngelong orang Congka Sae!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar