14/07/18

Pancasila Teks Manggarai.

Ditulis oleh: Melky Pantur***,
Kamis (16/2/2017).
Diedit lagi, Sabtu (14 /7/2018).

[Kebersamaan adalah representasi dari Pancasila]

Dalam konteks Manggarai, Pancasila akan tergambar dalam ungkapan:

1. Ca Kanang Kali Mori Keraeng.
2. Toto Molor, Bicar Hiang Hae Riang.
3. Kope Oles Todo Kongkol.
4. Mu'u Tungku Lema Emas Laro Jaong       Ro'eng  
    Do.
5. Pati Arit, Wingke Iret.

Sila kesatu, Ca Kanang Kali Mori Keraeng. 

Hal itu tampak dalam ungkapan: Mori pu'un caoca; Jari agu Dedek tanan wa awangn eta, parn awo kolepn sale; Mori yata kukut wuwung, caka berambang. Di sini neka iyo pina naeng; neka tura agu wulang, segol agu leso, sawal agu ntala, condo agu poco. 

[Morin pu'un caoca - Tuhan itu asal dari segala asal. Jari agu Dedek tanan wa awangn eta - Penjadi dan Pencipta langit dan bumi. Parn Awo Kolepn Sale - mulai dari fajar hingga terbenamnya. Mori yata kukut wuwung - Tuhan  melindungi mulai dari ubun-ubun kepala.  Caka berambang - Tuhan itu perisai dada. Hal yang perlu dilarang di sini: Neka iyo pina naeng - jangan menyembah berhala. Neka tura agu wulang - jangan berdoa kepada bulan. Segol agu leso - jangan meminta kepada matahari. Sawal agu ntala - jangan memohon kepada bintang, dan condo agu poco - berpasrah kepada gunung dan bukit-bukit].

Sila kedua, Toto Molor, Bicar Hiang Hae Riang.

Hal itu tampak dalam ungkapan: toto yata molor cama golo, bincar hiang pande pinga hae riang, hiang cama tau. Di sini neka daku ngong data; neka kope nggorong welak; neka mbangi leleng ular, ular leleng mbangi, jepek-jepek, sesa nai ite, cancar paka.

[Toto yata molor cama golo - memperlihatkan yang baik kepada sesama warga kampung. Bincar hiang pande pinga hae riang - Terperciknya rasa saling menghargai dan saling pengertian antar sesama yang berkelana di bumi. Hiang cama tau - menghormati satu sama lain. Hal yang tidak boleh dilakukan: Neka daku ngong data - Jangan menjadikan milik orang lain yang diakui sebagai milik sendiri. Neka kope nggorong welak - Jangan mengadu domba. Neka mbangi leleng ular, ular leleng mbangi - Jangan memanfaatkan orang lain untuk mencari keuntungan diri sendiri, misalnya menjadikan kelompok sendiri sebagai perusuh lalu hadir sang penyelamat yang ternyata masih satu kelompok dengan mereka. Jepek-jepek - hidup itu harus rata net atau ca wa main ca ite main yang berarti dalam bertindak, bertutur kata harus tepat, benar, pasti dan jujur. Sesa nai ite - berbesar hati. Cancar paka - hidup jangan menjadi jurang bagi orang lain atau adil].

Sila ketiga, Kope Oles Todo Kongkol. 

Hal itu tampak dalam ungkapan: nai ca yanggit tuka ca leleng; impung ce tiwud neka woleng wintukd, ka'eng ce waed neka woleng taed, kope oles todo kongkol. Di sini neka kope harat bali; neka behas neho kena, koas neho kota, nggesol one kembo, cecuk duhu redu, nggernggatangs du ngampang; pola gomal, embes beta, kapu pa'u, ceres kekep, inggos siong.

[Nai ca yanggit tuka ca leleng - satu hati dan tujuan. Impung ce tiwud neka woleng wintukd, ka'eng ce waed neka woleng taed - tinggal dalam satu telaga jangan berbeda tindak tanduk, tinggal dalam satu kolam jangan berbeda kata. Kope oles todo kongkol - Saling mengikat dan tumbuh bersama. Di sini yang dilarang adalah neka kope harat bali - jangan mencuci tangan atas persoalan yang dihadapi. Neka behas neho kena, neka koas neho kota, nggesol one kembo, cecuk duhu redu, nggernggatangs du ngampang - jangan terlepas seperti pagar, terbongkar seperti tembok batu, terperosok ke lubang, terjatuh ke kemiringan, dan jangan jatuh terguling-guling di jurang yang dalam. Neka pola gomal, embes bete, kapu pa'u, ceres kekep - jangan jatuh saat dipikul, robek saat digendong, jatuh saat digendong, meraung-raung saat digendong di dalam ketiak. Dan, inggos siong - datangnya meriang sebagai angin kematian].

Sila keempat, Mu'u Tungku, Lema Emas Laro Jaong Ro'eng Do. 

Hal itu tampak dalam ungkapan: mu'u tungku laro jaong, wancing nggaring we'ang gerak, nai ngalis tuka ngengga, mu'u luju lema emas. Di sini neka pangga pa'ang, doal dongkar, mohas momang, pa'u naun, pa'un patun, timpok inggos, recutn nggewur, ramen nggael, roas ponggal, raups semambu, ncihings nggiling, kokets kope, raups racuk, komus korung, kokats wokat, campangn raha, cain rani, tuan kembeluak, jern mbewe, celas teka, lentangs weda, karongs sangkol.

[Mu'u tungku laro jaong - menjadi penyambung lidah. Wancing nggaring we'ang gerak - menerima dengan senang hati permintaan orang lain dan pembuka atau penunjuk sebagai terang. Nai ngalis tuka ngengga - bersedia, berbuka dan berbesar hati. Mu'u luju lema emas - berbicara yang sopan, lembut dan sejuk, disukai orang, menjadi panutan atau contoh. Yang dilarang di sini neka pangga pa'ang - jangan menjadi penghalang di gerbang. Doal dongkar - murka dari muka bumi karena tidak memiliki standar norma hidup, harapan hidup. Mohas momang - hilangnya rasa cinta.  Pa'u naun - hilangnya citra diri, kepercayaan diri, hilang muka. Pa'un patun - hilangnya identitas sebagai tokoh model, tokoh panutan. Timpok inggos - tersandung saat melangkah maju kecil nan sopan. Recutn nggewur - terjadinya pertawuran. Ramen nggael - saling memotong nasib. Roas ponggal - munculnya rasa ingin menghukum orang dengan cara dipukul batang kayu. Raups semambu - saling bertemu dan bertarungnya pentung. Ncihings nggiling - berbunyi kerasnya perisai. Kokets kope - menangkis sembari menyingkirkan parang. Raups racuk - bertemunya jotosan, terjadinya saling jotos. Komus korung - terlepasnya lembing sebagai senjata ancaman, bertarung dengan menggunakan tombak. Kokats wokat - memegang lembing, semacam lembing tambat. Campangn raha - terjadinya penyebab perang tanding. Cain rani - datangnya perkelahian. Tuan kembeluak - munculnya sikap pembangkangan dan masa bodoh. Jern mbewe - lahirnya penolakan. Celas teka - timbulnya penendangan. Lentangs weda - saling tendang dan terlempar. Karongs sangkol - munculnya saling memusuhi, perbuatan menjatuhkan].

Sila kelima, Pati Arit Wingke Iret. 

Hal itu tampak dalam ungkapan: pati gici arit, wingke gici iret. Di sini neka gege goa; neka cowel mo'eng de ro'eng; neka mohas agu cowak bora neho ola; neka nanang cangas hang data baling racap; neka wedi repi de ceki wu'al agu wura.

[Pati gici arit wingke gici iret - berbagi sama rata dan adil. Hal itu kendati sedikit semua harus merasakannya. Yang dilarang di sini adalah neka gege goa - jangan berat sebelah. Ceka cowel mo'eng de ro'eng - jangan mengambil sekalipun sedikit milik rakyat. Neka mohas agu cowak bora neho ola - jangan menghilangkan atau mengambil harta kekayaan bersama seperti menggayung telaga hingga tidak ada satupun yang tersisa makhluk hidup di situ seperti ikan, belut atapun udang di telaga yang digayung itu. Neka nanang cangas hang data baling racap - jangan mengambil dan membawa lari seperti seekor anjing yang membawa lari makanan dari teman dekat sekalipun. Dan, neka wedi repi de ceki wu'al agu wura - jangan melanggar perjanjian atau aturan yang ditetapkan Tuhan lagipula bersoal tegang dan tidak mau mengikuti adat yang baik yang lazim dari nenek moyang].

Ditambahkan oleh Penulis, Senin (16/7/2018).

[Penulis]

Pancasila relasinya dengan angka 5 orang Manggarai.

1. Letang Mbaru Gendang.
2. Filosofi gendang onen lingkon pe'ang.
3. Lilik compang.
4. Lampek ngasang poro putes.
5. Sanda lima.
6. Bonen Mbaru Gendang.
7. Ngasang dempo du cear cumpe.
8. Lilik sa'i de cear cumpe.
9. Ngasang de Mbaru.
10. Adak.
11. Na'a helang.
12. Ceki lima.
13. Pa'eng pande cacat'eseh mbolot.
14. Lingko.
15. Diding.

Kebanyakan aktivitas ritual adat ada lima.

Berikut penjelasannya.

1. Letang Mbaru Gendang (tangga rumah adat).

Tangga atau letang orang Manggarai ada lima susunannya.

2. Filosofi gendang onen lingkon pe'ang (filosofi dasar orang Manggarai).

Di sini mulai dari mbaru, natas, compang, wae bate teku, lingko sebagai uma bate duat.

3. Lilik compang (ritual memutari mezbah adat).

Dalam ritual lilik compang saat congko lokap dan paki jarang bolong, lilik compang (memutari compang sebanyak 5 kali). Tidak boleh lebih apalagi kurang. Harus jepek.

Ada dua perbedaan mendasar, manakala congko lokap niang dan tambor dilarang melakukan sae di alun-alun.

4. Lampek ngasang poro putes (saat memotong tali       pusat).

Di sini disebutkan lima kali dengan mana sembilu (lampek) sebagai sarananya. Hal itu biasa disebutkan oleh suami dari isteri yang sedang melahirkan.

5. Sanda lima.

Terlihat dalam sanda lima yang mengelilingi siri bongkok lima kali pula.

6. Bonen Mbaru Gendang.

Hal itu terlihat dari tingkatan di dalam rumah adat mulai dari leba mese cai nang sepot neka lelo).

7. Ngasang dempo du cear cumpe.

Biasanya menyebutkan ngasang de wura (nama dari nenek moyang sebanyak 5 orang).

8. Lilik sa'i de cear cumpe.

Ayam kurban akan diputar lima kali saat digelarnya cear cumpe oleh juru adat.

9. Ngasang de Mbaru (nama-nama rumah).

Nama dari rumah (mbaru) juga ada lima, yaitu gendang, tembong, tambor, niang, bendar.

10. Adak (struktur kehidupan sosial).

Tu'a Kilo/Panga, Tu'a Beo, Tu'a Teno, Tu'a Gendang dan Tua Golo. Struktur di situ ada lima meski struktur pemerintahan adatnya ada tiga.

11. Na'a helang (tempat menaruhnya sesajian).

Saat ritual, hang helang atau sesajian ditaruh di tempat sesajian khusus di bawah atap rumah (langkar), depan rumah (lutur), di pintu kamar tidur (para lo'ang), di ruangan tamu di mana ritual itu digelar (lupi ata torok), dan di tungku api (sapo).

12. Ceki lima.

Hal itu terlihat sebelum saung ta'a (membersihkan pakaian jenazah dengan daun legundi atau saung woing dilakukan setelah sejak kematian hingga hari kelima). Hal itu ada hubungan dengan cear cumpe-nya dulu.

13. Pa'eng pande cacat'eseh mbolot.

Di sini berupa benda korban pendukung terlaksananya sebuah ritual berupa: Telur, ayam, babi, anjing, dan kuda.  Hal itu misalnya pada saat digelarnya paki jarang bolong.

14. Lingko.

Lingko terdiri atas lima, yaitu lodok, cicing, moso, banta, langang.

15. Diding.

Diding adalah orang-orang yang terbentuk persekutuan tertentu. Adapun bentuk diding tersebut, yaitu anak rona, anak wina, ase ka'e (weda wuwung tau, pa'ang olo ngaung musi, woe nelu), ende ema, ata long weki toe pecing ranga toe pala (orang lain yang tidak ada hubungan sama sekali).

Adapun bentuk lima lainnya, akan dibahas kemudian oleh Penulis.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar