09/09/18

Cerita: Rajawali dan Burung Hantu.

Ceritera Singkat

Rajawali dan Burung Hantu
(Mengapa Rajawali tidak Memangsa Burung Hantu?)
Ditulis oleh: Melky Pantur***),
25 Juni 2009.

Diedit lagi oleh Penulis,
Minggu (9/9/2018).



Awal mulanya Pasangan Rajawali adalah binatang yang mengganggap diri mereka sepi dan tidak ada bintang lain di bumi lagi. Pasangan Rajawali itu hanya makan daun sejenis Pohon Okade (sejenis pohon yang daunnya tidak bisa dimakan menjadi makanan kecuali untuk diobat daunnya, itupun kalau dimasak dan airnya dipakai sebagai air untuk mandi menyembuhkan sakit tertentu) karena hanya itu saja yang tumbuh di daratan pada waktu itu.  Suatu ketika pergilah Pasangan Rajawali itu ke tepi pantai untuk bersenang-senang menyaksikan riaknya air laut di pesisir pantai sambil bernyanyi-nyanyi kecil dan terbang seperti burung camar di atas pantai kemudian turun ke pantai saling mematok-matok pasangan tanda kasih sayang dan cinta, sementara bersantai mereka terkejut karena ternyata mereka melihat Pasang Burung seperti mereka yang baru datang ke pantai itu sementara sudah jutaan miliaran tahun mereka belum pernah bertemu burung seperti mereka kecuali pohon okade dan laut, tikus laut pun tidak, apalagi Rumput Lauk Perak . Dengan tidak tanggung-tanggung dan merasa diri lebih perkasa Si Rajawali Jantan mendekati Si Burung Hantu Jantan meskipun mereka belum saling kenal satu sama lain sebelumnya. Lalu, Si Rajawali Jantan itu memperkenalkan diri, begitu juga Si Burung Hantu Jantan. Tidak lama kemudian mereka akrab, bersahabat dan menjadi tetangga yang baik. Mereka selalu hidup berdampingan tanpa permusuhan. Tetapi Si Rajawali Jantan dan Istrinya tidak pernah makan Rumput Laut Perak namanya, mereka berdua hanya makan dedaunan pohon okade  yang tumbuh di daratan, sementara Si Burung Hantu dan Istrinya hanya makan Rumput Laut Perak dan pasangan Burung Hantu itu sering berenang ke dasar laut pada setiap siang hari mencari Rumput Laut Perak dan mereka berdua tidak mau makan rumput-rumput di daratan dan malam hari Pasangan Burung Hantu kerjanya tidur-tiduran, tidak mencari makanan. Namun, pada suatu ketika Si Rajawali sakit perut dan menceret abis setiap hari selama 45 hari. Persis suatu siang bertemulah ia dengan Pasangan Burung Hantu yang membawa Rumput Laut Perak segar untuk makan malamnya. Kemudian Pasangan Rajawali mengeluh ke Burung Hantu: “Bos kami sakit perut kurang lebih 45 hari sudah, bisakah saudara-saudari menyembuhkan penyakit kami berdua ini?”. “Oke teman, kalau mau sembuh makan aja rumput ini!”. Iya bos kami percaya!”. Pasangan Rajawali itu pun makan Rumput Laut Perak itu. Beberapa menit kemudian sembuhlah Pasangan Rajawali itu. Karena Pasangan Rajawali itu sembuh maka mereka berdua berterima kasih kepada Pasangan Burung Hantu dan mulai menit itu juga mereka berdua tidak makan dedaunan di daratan dan berjanji bahwa Pasangan Burung Hantu menjadi rekan kerja mereka. Keesokan harinya Pasangan Rajawali itu lapar, mereka pun mencari Rumput Laut Perak ke lembah, ke relung-relung gunung, ke puncak-puncak gunung, ke lereng-lereng  gunung di seluruh dunia, tetapi tidak ada hasilnya. Putus asalah Si Rajawali Jantan itu dan istrinya, mereka berdua tidur dan lemas karena kelaparan. “Maka datanglah Pasangan Burung Hantu kepadanya dan berkata mengapa saudara-saudari tidur dan lemas?”. “Jawab Si Rajawali, bos kami lapar!”. Maka, dibawanyalah Pasangan Rajawali itu ke tepi pantai, dibaringnyalah Pasangan Rajawali itu di pasir sementara Si Burung Hantu Jantan pergi meninggalkan mereka bertiga dan berenang ke dasar laut mengambil Rumput Laut Perak, sementara Si Burung Hantu Betina menjaga Pasangan Rajawali itu yang sedang lapar dan lemas di pesisir pantai. Ketika Si Burung Hantu pulang, ia membawa Rumput Laut Perak untuk diberikan kepada Pasangan Rajawali. “Lalu, Si  Burung Hantu bertanya kepada Si Rajawali, apakah saudara-saudari mau makan?”. Jawab Si Rajawali: “Iya bos kami lapar!”. Bangunlah Si Rajawali Jantan itu dan Istrinya dan mereka mulai makan dan setelah makan mereka  kuat kembali. Kemudian Si Rajawali bertanya kepada Si Burung Hantu: “Darimakah teman peroleh makanan selezat ini?”. “Sahut Si Burung Hantu, dari sahabatku, si laut!”. “Oh yah begitu! Hela Si Rajawali Jantan.  Kalau begitu bisakah aku pergi bersamamu ke dasar laut? “Jawab Si Burung Hantu, okelah kalau mau ikut aku!”. Maka merekapun bergegas pergi. Ketika terjun ke atas permukaan laut, Si Rajawali sayapnya tidak bisa mengepak lagi karena kena air, ia terapung dan tidak bisa berenang ke dasar laut. Si Rajawali kemudian meminta tolong namun Si Burung Hantu sudah jauh beberapa kilometer ke dasar laut. Karena belas kasihan, Si Burung Hantu Betina kemudian cepat-cepat membantu Si Rajawali Jantan dan dibawanya kepada Istrinya di pantai yang masih menangis karena suaminya Si Rajawali Jantan dalam keadaan bahaya. Sementara itu, ketika Si Burung Hantu Jantan sampai di dasar laut, Si Burung Hantu Jantan itu dikejar oleh Si Tikus Laut Beracun sampai ke permukaan air laut,         tetapi beruntung Si Burung Hantu tidak bisa dikejar karena ia cepat dan lincah. Begitu Si Burung Hantu sampai di permukaan laut, ia melihat Si Burung Hantu Betina mengusap-usap Si Rajawali Jantan. Karena cemburu dan bercampur panik Si Burung Hantu Jantan ini langsung menyambar dan membawa pergi Si Rajawali Betina ke angkasa dan pergi menjauh sementara Si Raja Tikus Laut Beracun tetap mengejar dan sambil menyemprot dengan racunnya ke arah Si Burung Hantu jantan, tetapinya sayangnya Si Burung Hantu Jantan dan Si Rajawali Betina sudah mengangkasa. Melihat itu, Si Burung Hantu Betina tidak mau kalah dan mati bodoh apalagi menerima resiko pengejaran dan penyemprotan rancun dari Si Raja Tikus Laut Berracun yang sedang marah. Karena saking takutnya Si Burung Hantu Betina, ia tidak segan-segan membawa Si Rajawali Jantan yang sedang lemas itu terbang ke angkasa, meski Si Burung Hantu Betina tidak tenang juga karena ia masih terliput cemburu dan benci atas tingkah laku suaminya yang membawa lari istri orang. Pada saat itu,  Si Raja Tikus Laut Beracun tetap mengejar mereka sebab Si Raja Tikus Laut Beracun juga punya sirip untuk terbang  ke angkasa mengejar Si Burung Hantu Jantan dan Si Rajawali Betina. Sialnya, begitu ia turun ke daratan mengikuti jejak
Si Burung Hantu Jantan dan Si Rajawali Betina, sirip Si Raja Tikus Laut Beracun terlepas dan iapun tidak bisa mengejar musuhnya lagi. Beberapa hari kemudian Si Raja Tikus Laut Beracun lapar, karena saking laparnya ia terpaksa makan dedaunan di daratan (pohon okade), namun selang beberapa menit kemudian racunnya hilang seketika dan aneh bin ajaib Rumput Laut Perak (hanya satu rumput laut di dasar laut tetapi ratusan jutaan hektar luasnya) berubah menjadi Tikus Betina dan racunnya berubah menjadi pasangan segala jenis ular, kucing dan segala jenis binatang melata yang merayap di bumi, berubah menjadi segala jenis tumbuh-tumbuhan, hewan dan bintang di darat, di udara maupun di air, di luar Okade, Pasangan Rajawali, Pasangan Burung Hantu,  Si Raja Tikus Laut Beracun dan Rumput Laut Perak.  Tikus itupun berpasangan, maka cemburulah Si Burung Hantu Jantan dengan Pasangan Tikus itu. Lalu, ia bertanya dalam hati kecilnya: “Aku sungguh malu sekali dengan pasangan tikus itu!”. “Kalau pasangan tikus itu dilihat begitu serasi, apakah saya juga tidak bisa demikian?”. “Artinya, bahwa saya harus mengembalikan istri Rajawali Jantan ini ke dia, kalau tidak bagaimana mungkin hidupku bahagia dan melahirkan keturunan dan siapa yang menemani aku lagi sementara makananku Rumput Laut Perak sudah berubah menjadi bini Si Tikus Beracun itu?” Setelah Si Burung Hantu Jantan berpikir keras maka mendekatilah ia pada Si Rajawali Betina dan mengajaknya ke tempat di mana Si Rajawali Jantan dan istrinya berada. Maka ketika sampai ke tempat  Si Rajawali Jantan dan istrinya, Si Burung Hantu menyapa dengan hormat dan berkata: “Terbekatilah engkau di antara semua jenis burung karena bulu, ekor, leher dan sayapmu akan terhitung semuanya dan engkau akan menjadi simbol kekuatan sebuah bangsa, engkau akan menjadi bintang, menjadi kepala banteng, engkau akan terus bersarang di atas pohon yang rindang dan rimbun, menjadi padi dan kapas, dan terus menguasai mata rantai nafasmu dan keturunanmu!”. Mendengar sapaan hormat dari Si Burung Hantu Jantan itu, maka tergeraklah hati Si Rajawali Jantan kepadanya dan berkata “Aku berjanji kepadamu sesungguhnya keturunanku adalah keturunanku, keturunanmu adalah keturunanmu setulus engkau yang adalah aku, aku siang bukan malam yang menjadi siang, santapanku siang dan santapanmu malam, sebab siangmu akan menjadi malam dan malammu akan menjadi siang, dan seluruh keturunanmu akan menakuti manusia pada gulita menurut adat-istiadat mereka, engkau akan dicenggangkan karena musuhmu yang mengejar engkau oleh belas kasihanmu kepadaku telah menjadi santapanmu selamanya. Engkau akan menjangkau musuhmu sejauh 45 km jaraknya daripadamu pengganti kasihmu di hari penghabisan 45 hari kala itu!”. Sesudah mereka saling mengucap janji maka Si Burung Hantu Jantan meminta maaf kepada Si Rajawali Jantan, katanya: “Maaf! Aku telah membuatmu cemburu karena cemburu!”. Si Rajawali Jantan menjawab:”Sesungguhnya engkau dan istrimu telah menyelamatkan keturunanku, maka, aku, istri dan keturunanku terjadi seperti yang engkau nazarkan itu. Kemudian Si Burung Hantu Jantan berpesan kepada Si
Rajawali Jantan, katanya:”Aku, istri dan keturunanku akan terus berjuang menuntun keturunan semua jenis tikus ke ladang dan sawah-sawah bangsa manusia baik di petang, malam maupun pagi hari sebelum fajar mulai menyingsing supaya keturunan ular akan menuntun mereka di ladang dan sawah-sawah bangsa manusia supaya engkau, istri dan keturunanmu  menyantap semua jenis bangsa ular dengan racunnya”. “Aku, istri dan keturunanku juga akan menuntun semua jenis tikus ke tempat pertiduran manusia, supaya keturunan ular datang ke penginapan manusia, mencuri telur ayam mereka, supaya engkau, istri dan keturunanmu dapat dengan mudah memangsa mereka, binatang peliharaan manusia, ayam, anak babi, anjing dan bebek, supaya engkau dapat kenyang dan melanjutkan keturunanmu. Karena kesepakatan itu, akhirnya Si Burung Hantu Jantan mengembalikan istri Si Rajawali Jantan, Si Burung Hantu Jantan membawa kembali istrinya Si Burung Hantu Betina karena masih tersipu malu. Lalu, Pasangan Burung Hantu itu pamit minta pulang karena petang mulai mengintip malam, malam pun tiba dan berlalu mengitip pagi membuka bolong maka beristirahatlah Pasangan Burung Hantu itu di siang hari dan malam hari mencari mangsanya ialah keturunan tikus. Ketika Pasangan Burung Hantu sedang tidur berpelukan di pagi hari yang mana mataharinya mulai menyinsing di dekat mata air (biasanya di tempat-tempat bermata air, di hutan dan sebagainya) dekat dengan sawah petani yang menguning datanglah Pasangan Burung Rajawali membangunkan mereka berdua, tetapi karena nazar Si Rajawali Jantan dan janji dari Si Burung Hantu Jantan, maka terjadilah di fajar itu karena terdapat banyak tikus dan ular di sawah yang sedang menguning itu dan Pasangan Rajawali itu mengangkut semua ular-ular yang terjebak itu sementara tikus-tikus ditinggalkan hidup di situ karena tikus-tikus itu adalah bagian dari Pasangan Burung Hantu itu. Menjelang petang bangunlah Pasangan Burung Hantu itu dan mereka memangsa tikus-tikus untuk kebutuhan seharian. Sejak saat itu, keesokan hari dan seterusnya Pasangan Burung Rajawali dan Pasangan Burung Hantu tidak saling bertemu lagi baik mereka maupun keturunan-keturunan mereka.


                      Mahasiswa STKIP St Paulus-Ruteng

Tidak ada komentar:

Posting Komentar