08/09/17

WATU RANGGU.

Watu Ranggu dan Keunikannya.

Watu Ranggu di Ranggu

Ditulis oleh: Melky Pantur***

Watu Ranggu yang terletak di depan rumah adat Gendang Ranggu, Desa Ranggu, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ternyata mempunyai cerita mistis tersendiri.

Hasil penelusuran Lembaga Studi Budaya dan Sejarah Manggarai (LSBSM), batu-batu yang terletak di mezbah adat (compang) Gendang Ranggu sewaktu-waktu bisa hilang dengan sendirinya, terkadang tampak begitu banyak pada acara tertentu dan peristiwa tertentu.

Homobonus Haman (90) warga Ranggu, saat diwawancarai Ketua LSBSM, Melky Pantur, Sabtu (20/6/2015) di kediamannya mengatakan bahwa pada saat acara Penti (upacara syukuran panen raya) dan acara-acara adat lain batu-batu kecil di atas dua batu utama yang berbentuk segi lima itu akan muncul dan tampak banyak.

Keunikan lain, jika batu-batu tersebut dibawa oleh orang, seperti keturunan Ranggu atau orang lain, batu tersebut akan hilang dengan sendirinya dan kembali lagi ke Ranggu.

Selain itu, kata Haman, ketika keturunan Ranggu banyak yang pulang kampung, maka batu-batu tersebut akan memberi tanda tampak begitu banyak.

Pada saat susah, menurut Haman, batu-batu tersebut tidak memberikan tanda-tanda khusus kecuali pada saat dibuatnya ritus adat tertentu.

Ditanya soal sejarah kampung tersebut, Haman menjelaskan yang datang pertama ke kampung tersebut adalah Ranggu dengan nama suku Ranggu dan ber-ceki atau bertotem buaya.
Sedangkan, dua loh batu yang bersegi lima, menurut Haman, adalah batu nisan dari moyang Ranggu dan batu-batu tersebut tampak memang seperti batu biasa tetapi jika diambil, mereka akan kembali ke compang tersebut.

Menurut Dokter Husein Pankratius, sejarah ceki orang Ranggu memiliki cerita tersendiri. Bukti bahwa mereka berceki buaya tersebut dengan memiliki tanda-tanda khusus pada kulit tubuh keturunan kakek Ranggu.

Dokter Pankratius menyampaikan bahwa nyaris semua keturunan Ranggu yang bertotem buaya atau dilarang makan daging buaya memiliki kulit tubuh bersisik seperti kulit buaya. Bahkan kepada LSBSM, Dokter Husein menunjukkan kulit kakinya yang bersisik seperti buaya.

Terkait dengan sejarah lebih lanjut dari totem orang Ranggu akan ditelusuri lagi oleh LSBSM.

Apa hubungannya dengan Watu Waru? 

Watu Waru adalah batu yang memiliki nilai sakral tersendiri bagi Suku Melong di Desa Mokel, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Nusa tenggara Timur (NTT).
Konon katanya batu-batu yang terletak di atas puncak Bukit Golo Melong, Desa Mokel tersebut berasal dari seorangEmbo (Nenek Moyang) Suku Melong yang datang dari Golo Meleng (Gunung Meleng) yang terletak di Sita, Kecamatan Borong, Matim, NTT.
Zakarias Riba (76), “Tua Teno” (Tuan Tanah) Suku Melong, saat ditemui Florespost.co di kediamannya Kamis, (7/9/2017) menjelaskan bahwa, nenek moyang yang tinggal pertama kali di atas bukit Melong (Golo Melong) adalah Meka Matu.
Watu Waru
Foto: Mulia Donan

Ketika Meka Matu sudah menetap dan tinggal di atas bukit tersebut, kisah Zakarias, batu-batu bulat tersebut tiba-tiba muncul dengan sendirinya di hadapan Meka Latu.
Lanjut Zakarias, selang beberapa tahun kemudian Meka Matu dipanggil oleh Suku Mokel untuk tinggal bersama Suku Mokel di sebuah kampung yang bernama Deru. Meskipun demikian, tanah yang Meka Latu tinggal sebelumnya itu menjadi hak penuhnya Meka Latu.
“Batu unik yang berbentuk bulat tersebut sampai saat ini masih terkumpul rapi di atas bukit Golo Melong,” ungkap Zakarias.
Zakarias menambahkan, kalau dalam Suku Melong ada keluarga yang meninggal dunia, batu yang ada di atas bukit Golo Melong itu hilang dengan sendirinya. Lalu kalau ada dalam Suku Melong yang melahirkan keluarga baru, batu tersebut muncul dengan sendirinya di atas bukit Golo Melong.
Yang paling uniknya, jelas Zakarais, kalau suku lain datang mengambil batu ini dan dibawa ke tempat lain, batu ini kembali dengan sendirinya dan berkumpul lagi dengan batu-batu yang lain.
Zakarias menuturkan, batu-batu tersebut terdiri dari berbagai macam ukuran, ada yang ukuran besar dan ada juga yang berukuran kecil.
“Batu tersebut mengikuti umur anggota keluarga yang berada dalam suku tersebut,” tuturnya.
Zakarias berharap, bagi anak-anak saya khususnya generasi Suku Melong tetap menjaga batu-batu tersebut.
“Tolong jaga batu ini dengan baik, jangan membuat rusak dan jangan buang sembarang di luar bila perlu kalian kumpulkan, dan menata lagi batu-batu ini agar tetap jaga kelestariannya. Karena batu ini merupakan batu yang memiliki nilai tersendiri dan batu tersebut juga merupakan bagian dari keluarga kita khususnya dalam Suku Melong itu sendiri,” harapnya
Ditambahkanya, dalam Suku Melong terdapat lima keturunan yaitu, keturunan  Meka Matu, keturunan Meka Rasi, keturunan Meka Langging, keturunan Meka Rambang, dan keturunan Meka Zakarias Riba.
Dari kelima keturunan Suku Melong ini, tutur Zakarias, yang melanjutkan kedudukan sebagai tua teno (Tuan Tanah) dalam Suku Melong sampai saat ini adalah Meka Zakarias Riba. (Mulia Donan/Florespost.co)
Ditulis oleh: Mulia Donan di www.florespost.co. Foto istimewa Mulia Donan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar