28/08/17

KEHIDUPAN.

RUPA-RUPA PELIKNYA KEHIDUPAN: CERITA DI BALIK KEMEGAHAN DUNIA DAN MISTERI ROH SEMESTA

Sikap yang baik tanpa teleng aling-aling adalah celengan tabungan kehidupan berkah Roh Semesta yang ampuh, yang akan diterima secara tidak terduga pada akhirnya***.

Melky Pantur
_____________________________________________________

“Kehidupan adalah ziarah kewajiban. Dalam ziarah itu, tiap-tiap apapun hadir dengan maksud menyelesaikan tugas tertentu. Seorang anak laki-laki ataupun perempuan dihadirkan ke bumi. Seseorang dipanggil untuk menjadi arsitek, Imam, jurnalis, kontraktor, pemimpin dan lain sebagainya untuk melaksanakan kewajiban. Setiap yang sudah usai ziarahnya dinyatakan melalui usia tua dan akan dimudakan lagi dengan kehadiran yang lainnya. Seakan tidak berkesudahan kecambah-kecambah muda itu terus bertumbuh silih berganti di atas permukaan bumi”, demikian guman seorang pria muda di dalam hatinya saat duduk di atas sebuah batu di puncak sebuah gunung yang tinggi yang terjal sembari matanya menatap panorama yang indah lereng-lereng gunung persekitaran dan hamparan hijau menjurus ke tepi pantai dengan deburan air laut samudera yang tengah bergelora.

“Selain itu, tiap tugas ziarah memiliki cerita tersendiri dengan lakon tersendiri pula. Terkadang, orang yang lahir dari berbeda benua bisa bertemu di sebuah kantor dengan profesi yang sama. Orang asing yang tidak pernah dijumpai, bisa menjadi suami atau istri. Oh, rupa-rupa kehidupan. Seperti air mengalir ke tempat yang rendah lalu ketika penuh pindah ke tempat yang rendah lainnya seakan berlalu begitu saja. Hari terus berlalu seiring dengan berlalunya pula perubahan di atas bumi. Kendati sangat benar apa yang dikatakan orang bahwa perbedaan di dunia sebenarnya hanyalah perbedaan jumlah”, lanjut pria muda itu sembari tetap merenung.

“Oh, sungguh sangat pelik kehidupan ini belum lagi saat sekarang, ada yang sedang tertawa, sedang berpesta, ada yang tengah menangis, ada pula yang tengah terkena stroke dan sudah lama menderita. Yah, nyaris tak jauh berbeda dengan perkataan Pengkotbah saja”, gumannya lagi dalam hati sembari melempar-lempar batu kerikil ke persekitaran sisi gunung itu.

“Lalu, uniknya lagi semua rupa dan model akan berlalu seiring pula dengan berlalunya masa. Sungguh ibarat gajah meninggalkan gadingnya dan orang-orang hidup hanya meninggalkan nama dengan peran masing-masing. Benar juga perkataan orang-orang, dunia adalah panggung sandiwara”, lanjut gumannya sambil bercucuran air mata.

Ditengah kepedihan hati pria itu, tiba-tiba muncul seorang pria tua dan dua orang pria parubaya dari berbagai sisi bukit terjal itu. Seorang pria tua lalu bangkit dari persilaannya dengan berkata: “Hai anak muda, kami telah mendengar gumanmu. Sama seperti engkau yang telah melempar kerikil-kerikil batu ke arah yang tidak jelas kendati engkau hanya melempar untuk menemani permenunganmu, namun telah mengenai kepala kami hingga kepala kami bercucuran darah. Ketahuilah, engkau anak muda, memang kau tidak bersalah dalam hal ini karena engkau tidak mengetahui bahwa kami berada di tempat yang kau lempari tetapi dalam ketidaksadaranmu engkau telah melukai kami. Yah, engkau tidak bersalah. Sama seperti seorang nelayan yang menangkap ikan tengah malam di tengah laut dan melemparkan jalanya untuk menangkap ikan-ikan tersebut sementara nelayan itu tidak tahu bahwa salah satu dari ikan yang dijalanya memiliki ribuan butir telur yang siap menetas menjadi ikan-ikan kecil dari dalam perutnya untuk melanjutkan generasi mereka. Jika, dari miliaran ikan yang ada di tengah laut hanya itu yang betina dan sedang bertelur sementara sudah ditangkap dan selainnya adalah jantan, tentu berakhirlah ikan-ikan tersebut sebab generasi mereka telah punah tetapi Yang Mahakuasa tahu bahwa hal itu tidak mau dibuat-Nya yang memang bisa dilakukan-Nya. Begitulah kehidupan”, sahut pria tua itu sambil menghampiri pria muda itu dengan mengelus-elus rambutnya dan membelainya dengan lembut bak mempelai pria yang baru menikah membelai mempelai wanitanya di pelaminan dengan penuh kasih sayang.

Pria tua itu kemudian kembali berkata: “Janganlah sedih hatimu tuan muda karena perbuatanmu yang tidak sengaja itu akan melahirkan perkara-perkara baru. Setiap perbuatan apapun akan melahirkan perkara yang lain, entah dalam keadaan sadar ataupun tidak sadar. Ketahuilah, janganlah engkau tangisi alam dan seluruh isinya tetapi lihatlah bahwa itu tampak karena kedua bola mata telah melihat hal itu. Semua itu adalah bumbu-bumbu lezat dan adonan-adonan enak untuk mata dan rasa kenikmatan semata pada saat sesuatu itu terjadi. Sebelum dan sesudahnya hanyalah jalan pencapaian, baik sebelum dan sesudah direnungkan. Ketahuilah pula, bukan kamulah yang telah berkata-kata di dalam hatimu yang juga turut mempengaruhi pikiranmu tetapi Dialah yang telah hadir kepada kamu agar apapun menjadi hidup lebih hidup”, wejang pria tua sambil mengangkat jarinya menunjukkan indahnya alam persekitaran kepada pria muda tersebut.

Salah satu dari kedua pria parubaya yang menguping pembicaraan pria tua itu pun kemudian berkata: “Pria muda, kamu telah melihat apa yang ada di depanmu. Semuanya itu indah pada waktunya. Kamu juga belum tahu, bukit permenungan ini akan menjadi sebuah tanda dan pada suatu saat akan berguna bagi saudara/i, sahabat kenalan dan handaitaulan di mana pun mereka berada karena dari atas bukit ini Dia akan mengangkat belaskasihan-Nya kepada semua manusia untuk menata dunia ini menjadi dunia yang baru, baik suka maupun duka seturut pengertian yang diberikan kepada manusia. Jika puncak gunung yang kau injak ini tidak menghasilkan buah yang ranum, maka dunia tidak akan berubah. Ketahuilah setiap perubahan butuh pengorbanan, sama seperti seorang pemahat kayu tidak bisa menghasilkan patung yang indah yang layak dijual dan laku di pasaran internasional, manakala kayu pahat tersebut tidak telah mengorbankan tetumbuhan di sekitarnya saat dipotong sebagai sebuah pohon yang tumbuh tegak di tengah belantara bahkan sarang burung yang memiliki telur di dalamnya pun yang persis berada di tengah ranting-ranting pohon itu saat dichainsaw turut menjadi saksi sebuah perubahan. Ingatlah, pahatan kayu yang membentuk gambar yang indah yang dipajang di ruang tamu istana-istana kerajaan dan negara adalah sebuah seni, seni yang telah mengorbankan yang lainnya. Dunia kerap berkumandang demi kebaikan, kebaikan juga butuh pengorbanan meski hal itu entah sadar ataupun tidak sadar. Semua hal itu berjalan seperti angin yang tidak tahu dari mana datangnya dan ke mana angin itu bergegas ke arah yang lain yang disukainya. Kami akan menunjuk tempat lain yang indah kepadamu di mana engkau berkuasa kelak dan yang tidak pernah engkau bayangkan dan pikirkan sebelumnya. Di tempat tersebut, engkau akan memimpin bangsa-bangsa, dan negeri itu, rakyatmu penuh dengan akan kemakmuran”, banding pria parubaya itu dengan hati yang lembut dan manis.

Selang jedah yang begitu singkat, setelah salah seorang pria parubaya yang telah meneguhkan hati pria muda itu, pria parubaya yang tengah berdiri di samping mereka bertiga dengan sigapnya mengangkat tinggi jauh lengan pria muda itu bergegas jauh dari puncak gunung itu ke puncak gunung yang lain yang lebih nyaman namun dapat melihat dengan jelas peristiwa apa yang sedang berlangsung di depan matanya.

Letusan yang dahsyat pun terjadi, lahar-lahar panas dari sumber magma yang jauhnya 500 kilometer di bawah perut bumi tersembur keluar. Langit menjadi gelap, lereng-lereng gunung yang tadinya jamrud dengan bentangan dataran yang tadinya hijau menawan menenangkan sejauh mata memandang berubah seketika menjadi lautan debu vulkanik yang meranggaskan segala sesuatu. Buah-buah yang tengah ranum, belalang yang tengah kawin, katak yang tengah mengeluarkan ratusan telurnya dari dalam rahimnya, burung yang tengah bersiul indah, udang-udang di kali yang tengah bermesraan, ikan-ikan yang larut dalam gelora cinta asmara, dan bunga-bunga cantik yang tengah bermekar dalam sekejab berubah total menjadi tanah ratapan, tangisan dan air mata. Tak ketinggalan, anak-anak kecil, orang-orang muda dan orang-orang tua, para-para tetua kehilangan harapan mereka. Orang-orang yang tinggal di dekat puncak gunung tersebut menjadi sedih.

Lalu, lagi pria tua itu kemudian berkata kepada pria muda itu: “Hai anak muda, lihatlah! Engkau telah melihat apa yang barusan terjadi. Apa yang kau pikirkan tentang alam ini? Bagaimana perasaanmu?”, pria tua mengangkat tangan kanan anak muda itu dengan memerintahkannya menunjukkan jari telunjuk tangan kanannya ke tempat apa yang sudah terjadi.

Pria muda itu pun diam tepekur. Dirinya menyaksikan segala apa yang telah terjadi di depan matanya. Seluruh apa yang telah dilihatnya seakan-seakan terkesima laksana dalam sebuah mimpi saja. Pria muda itu pun terheran-heran.

Ibarat di alam peri, pria tua itu menyuruh pria muda itu meminta sesuatu untuk menyembuhkan apa yang sudah terjadi. Jawab pria muda itu: “Terima kasih, maaf Tuan! Aku mau supaya lautan debu vulkanik yang menutupi dedaunan hijau yang tidak terkena lahar tidak ditutupi lagi debu panas vulkanik agar masyarakat sedikit hilang penderitaan mereka”, pinta pria muda itu dengan seluruh tubuhnya merinding, bibir dan tangannya tampak gemetar ketakutan.

Pria muda itu disuruh merundukkan kepalanya lalu merenungkan nasib masyarakat yang terkena kesulitan. Seketika itu juga langit menjadi gelap pekat gulita, culomolonimbus keluar dari sarangnya, guntur dan petir pun tak mau memonitor saja tetapi turut membahana di angkasa bagaikan langit yang didandani percikan bunga kembang api yang penuh gemerlap indah. Seolah-olah Nirwana memancarkan kasih karunia yang takberhingga. Awan mengeluarkan butiran-butiran airnya ditambah dengan angin sedang menyapu bersih semua debu-debu yang bertebaran tersebut.

Sungguh betapa kagetnya pria muda itu. Ia pun berkata dalam hatinya sembari menutup kedua bibirnya dengan tangan kanannya keheran-heranan: “Sebenarnya, apa yang tengah terjadi di depan mataku? Oh, sungguh menakjubkan. Rerumputan yang tadinya ditutupi debu panas vulkanik kini seakan terlahir kembali seperti sediakala. Oh Tuhan terpujilah namamu selama-lamanya, alleluya!”.

Pria tua itu pun membuka mulutnya lagi dan berkata: “Anak muda! Engkau telah melihat dengan mata kepalamu sendiri bahwa jika Dia, Yang Mahakuasa menghendakinya, maka apapun bisa terjadi. Engkau yang telah melihat saja perasaan hatimu sangat berduka lara lalu bagaimana dengan masyarakat di sana yang telah merasakan secara langsung kepedihan itu dan telah melihatnya? Hari ini telah berlalu dan besok hari lain lagi muncul. Apa yang mereka lihat hari ini sangat berbeda dengan apa yang mereka lihat hari esok dan hari-hari selanjutnya. Teguhkanlah hatimu agar jika hal itu terjadi janganlah engkau heran karena segala sesuatu yang terjadi bukanlah kehendak kalian. Biarkanlah hal itu terjadi karena demikianlah adanya”.

Kemudian, pria tua itupun berkata lagi: “Pergilah ke tengah masyarakat yang kau lihat. Hiburkanlah hati mereka agar mereka tidak larut dalam kepedihan. Bangunlah negerimu dengan belaskasihan. Janganlah cemas hatimu sebab kami akan menyertaimu hingga engkau mampu mengurus segalanya dan engkau akan menang dalam banyak hal”. Sementara, seorang pria parubaya yang lain mengangkat pria muda itu ke sebuah dataran hijau yang indah ditumbuhi berbagai jenis bunga-bunga yang indah yang dipenuhi tetumbuhan jambu ranum dan burberi yang matang juga cermele hutan yang siap dipanen.

Betapa terkejutnya, bak di firdaus, pria muda itu melihat ke samping kiri kanannya. Dia tidak melihat siapapun. Dia kemudian memangil-manggil dan mencari ke sana kemari. Pria muda itu hanya melihat jambu ranum, burberi matang, dan cermela masak yang siap dipanen dihiasi pula dengan cemara hutan yang indah menambah cantiknya pemandangan. Pria muda itu pun meneteskan air mata, seolah mendapat berkat dari Yang Mahakuasa. Pria muda itu menikmati beberapa waktu di tempat tersebut dengan menikmati buah-buahan yang lezat, lalu memetik buah masak lainnya sebagai perbekalannya kembali pulang untuk berada di tengah-tengah dan memimpin masyarakatnya.

Setiba di tengah negerinya, pria muda itu pun diterima dengan sorak-sorai oleh seluruh penghuni negerinya karena sekian lama ia menghilang dan oleh seluruh orang telah mencari di mana-mana. Pria muda yang senang membantu sesamanya di negerinya itu, kehadirannya ibarat kemarau setahun dihapus dengan hujan sehari. Masyarakat yang tadinya sedih sekilat melupakan pengalaman pedih mereka karena mereka mendapatkan kembali anggota masyarakat mereka yang mereka cari-cari dan nanti-nantikan. Pria muda itu pun dinobatkan oleh seluruh penghuni negeri itu menjadi pemimpin atas negeri itu dan negeri itu semakin aman, makmur dan sejahtera. ---INSPIRASI, 29 Agustus 2015. Oleh: Melky Pantur***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar